Generasi Baru, Membangun Iptek Indonesia

January 16, 2008 at 5:27 pm

[Pelatihan Penelitian, 23.4.2005, Fak.Teknik-UGM. Diselenggarakan oleh Mahasiswa Teknik Kimia FT-UGM; Oleh Arief B. Witarto] Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) Indonesia tertinggal semakin jauh dari negara maju, bahkan negara tetangga yang dulu, tahun 1970-an, belajar dari Indonesia. Di negara maju, iptek adalah andalan negara karena memperkuat ekonomi sampai militer. Kehidupan sosial masyarakat pun menuju kepada masyarakat berbasis ilmu pengetahuan (knowledge-based society).

Keterpurukan Indonesia dalam pengembangan Iptek bisa dilihat dari parameter semisal dana penelitian dan pengembangan (litbang) yang menduduki peringkat 42 dari 46 negara yang disurvei IMD, think tank berbasis di Swiss. Di bawah Thailand dan Malaysia tapi masih setingkat di atas Filipina. Tapi dilihat dari besarnya dana perkapita, Indonesia hanya setingkat di atas Venezuela yang berada di posisi paling bawah.

Lebih mengkhawatirkan adalah ketertarikan generasi muda terhadap iptek. Posisi Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga yang berusaha maju seperti Singapura no.1, Malaysia no.14, Filipina no.29 dan Indonesia no. 39.

Rakyat Indonesia saat ini cenderung menyukai sesuatu yang instan/langsung jadi. Berbagai kompetisi menjadi “bintang” banyak diselenggarakan oleh stasiun televisi untuk mengorbitkan seseorang. Sementara iptek punya karakter yang berbeda yaitu akumulatif, kontinyu dan tuntas.

Dalam pengembangan iptek, tidak ada ceritanya lompatan-lompatan katak yang menyebabkan orang langsung menjadi tenar begitu bangun dari tidur. Temuan-temuan Newton tentang teori gravitasi, Linus Pauling tentang struktur sekunder protein, diperoleh bukan karena ketiban apel atau wangsit yang mampir ketika tiduran sebab flu, tapi karena sebelumnya sudah ada pemahaman, pengamatan dan pemikiran yang terus-menerus sehingga tinggal menunggu waktu datangnya inspirasi.

Seperti kata Sir Alexander Fleming, penerima Hadiah Nobel Kedoteran 1945, “bersiap-siap menerima tamu besar berupa penemuan” (Fortune, favors the prepared mind). Penelitiannya yang dirancang dengan matang, “hanya” menemukan enzim lysozyme yang kemampuan membunuh bakterinya rendah tahun 1921. Berkat suatu eksperimen “kebetulan” tahun 1928 dia menemukan antibiotika penisilin.

Selain itu pengembangan iptek harus bersifat kontinyu dan tuntas, dari hulu sampai hilir, dari dasar sampai terapan sehingga barulah dapat dirasakan manfaatnya untuk kesejahteraan manusia.

Faktor penting dalam pengembangan iptek yang bersifat universal bisa dikatakan terdiri dari 3 yaitu gagasan/ide, talenta/kecakapan dan dana. Tanpa gagasan segar dan baru, penelitian akan menjadi usang dan tidak menarik. Gagasan dapat diperoleh dari diskusi dengan berbagai kalangan dan pendapat/masukan dari mereka yang lebih berpengalaman. Dalam bahasa Jepang, guru disebut sen-sei, yang secara harfiah berarti “lahir lebih dulu”. Jadi orang bisa mengajar karena punya pengalaman lebih banyak, tidak sekedar lebih tua usianya.

Talenta tidak sekedar berarti bakat, tapi lebih bermakna cakap dalam bekerja. Seperti kata Thomas Alva Edison, jenius itu terdiri 1% bakat dan 99% usaha. Kecapakan bisa diperoleh dari latihan dan banyak bekerja sehingga menjadi terampil. Dana ibaratnya darah dalam penelitian, tanpa dana penelitian tidak bisa dilakukan tapi dana bukan segala-galanya. Justru dalam dunia yang semakin tanpa batas, dana mudah sekali mengalir untuk mencari gagasan baru dan manusia-manusia yang terampil. Lihat contoh India dan China misalnya.

Akan tetapi kondisi penelitian Indonesia memiliki karakter khusus yaitu sistem yang belum mendukung dan menyokong. Hal yang paling jelas bisa dilihat dari tidak adanya Laboratorium dengan “L” besar di Indonesia. Laboratorium di Indonesia umumnya sekedar kumpulan alat dan ruang yang diatur penggunaannya oleh seorang administrator. Tentu saja ini berbeda jauh dengan konsep Laboratorium di negara maju iptek, dimana selain fasilitas fisik dan prasarana yang lebih penting adalah sistem yang berlaku dengan hirarki yang jelas dan terkoordinir.

Di Jepang misalnya, sudah dijadikan aturan administratif bahwa Lab dikepalai oleh Professor (Kyo-ju) dan dibantu oleh satu Associate Professor (Jo-kyo-ju) dan didukung oleh asisten, teknisi serta mahasiswa. Semua aktivitasnya bergerak dalam kendali dan komanda sang kepala yang tidak sekedar memerintah tapi juga membimbing dan mengarahkan generasi mudanya. Sehingga terciptalah “budaya ilmiah” yang dipelajari secara sistematik dan mengakar.

Kata “penelitian” memiliki makna “teliti” dan “telaten”. Dua hal ini bisa menjadi modal handal buat peneliti remaja, muda maupun senior. Penemuan Hideki Shirakawa tentang polimer penghantar listrik dimulai dari sebuah kecelakaan tak terduga yang menghasilkan sampah bukan hasil penelitian yang diharapkan. Tapi dengan modal ketelitian itu, dia mengetahui sampah yang didapat justru membuka jalan pada penemuan penting dan apa penyebabnya. Inilah yang menghantarkannya meraih hadiah Nobel Kimia 2000.

Telaten juga adalah modal penting yang dicontohkan oleh Max Ferdinand Perutz, penerima Hadiah Nobel Kimia 1962. Dari mulai melakukan penelitian yang waktu itu dibilang tidak mungkin tahun 1937, baru setelah 16 tahun tanda-tanda keberhasilan diperoleh dengan mendapatkan difraksi sinar X atom penyusun protein hemoglobin.

Bagi generasi baru dimana masa depan Indonesia diharapkan, jadilah yang terbaik dengan “be passion and patient”. [*]

Entry filed under: Riset & Pendidikan. Tags: .

Nano-bioteknologi: Trend Riset dan Industri Terkini


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: