Virus SARS & Pengobatannya: Mencegah Ciuman Maut Corona

January 15, 2008 at 12:21 pm

[Pikiran Rakyat, Kamis, 22.5.2003; Oleh Arief B. Witarto] [Download File PDF 564 KB] Wabah penyakit saluran pernapasan akut parah atau SARS (severe acute respiratory sindrome) disebabkan oleh virus corona. Sudah cukup banyak artikel yang memuat informasi tentang gejala, penyebaran dan pencegahan penyakit ini. Namun belum ada informasi tentang bagaimana keganasan virus SARS ini berawal serta kemungkinkan obat yang sedang dikembangkan oleh para peneliti di dunia.
Ciuman maut

Nama virus SARS, corona, berasal dari kata crown (mahkota) karena dari pengamatan menggunakan mikroskop elektron dapat terlihat dengan jelas bulatan-bulatan kecil yang mengelilingi virus ini. Bulatan kecil itu adalah protein yang disebut spike glycoprotein disingkat “S”. Jadi ‘mahkota’ virus corona yang mencirikan penampilannya itu adalah protein yang berbentuk seperti tonjolan/spike.

Selain protein S, virus corona masih memiliki beberapa protein lain di permukaan luarnya yaitu protein M (dari kata Membran) dan protein sM (dari kata small/kecil Membran). Ukuran protein S mencapai 10 kali lebih besar dari protein M, selain itu, 3 protein S berikatan membentuk satu kesatuan sehingga nampak sangat menonjol dalam foto mikroskop.

Bagi virus corona, ‘mahkota’ protein S ini bukanlah sekedar hiasan tapi memiliki fungsi yang sangat penting. Dalam protein S yang panjangnya 20 nm (nanometer=10-9m) ini ada bagian di ujungnya yang mengenali ‘tanda’ di permukaan luar sel yang akan diserangnya. Tanda itu adalah molekul yang disebut CEACAM. Begitu protein S bertemu dengan CEACAM, terjadilah reaksi berantai yang menyebabkan virus ini dapat masuk ke dalam sel kemudian berkembang biak dengan cepat. Sehingga interaksi awal antara virus penyerang dan sel korban ini disebut ‘ciuman maut’ atau kiss of death.

Banyak virus memiliki kesamaan strategi untuk menyerang sel targetnya. Virus influenza, virus Herpes, virus Hepatitis, virus AIDS dan lain-lain adalah beberapa contohnya. Akan tetapi, bentuk tonjolannya tidaklah sebesar virus corona. Di antara virus-virus ini, untuk dua virus yang paling akrab di telinga sekaligus ditakuti manusia yaitu virus influenza dan virus AIDS, telah diperoleh gambar detil bentuk tonjolannya sampai ukuran atom yang memberikan inspirasi pada pengembangan obat mujarab.

Jangan bertaut

Virus adalah makhluk hidup yang paling sederhana sebab hanya memiliki gen penyandi protein terpenting untuk hidupnya saja. Sebagaimana perilaku parasit, protein selebihnya dipinjam dari ‘tuan rumah’ yang diserangnya. Tak heran, pada umumnya virus adalah patogen/organisme penyebab penyakit yang paling sulit pengobatannya. Hal ini disebabkan oleh, pertama, protein virus yang menjadi target obat jumlahnya sedikit. Kedua tabiat mutasi yang secara alamiah terjadi pada seluruh organisme, muncul lebih sering karena kesederhanaan sifat genetiknya itu, sehingga virus paling mudah berubah bentuk menjadi tak dikenali lagi oleh obat yang ada. Untuk itu, cara ampuh memerangi virus tiada lain adalah dengan mencegah terjadinya ‘pertautan ciuman maut’ tersebut.

Tonjolan pada virus influenza terdiri dari dua protein yaitu protein Hemagglutinin (disingkat “HA”) dan protein Neuraminidase (“NA”). Protein HA mengenali molekul sialic acid (“SA”) di permukaan sel target, selanjutnya protein NA memotong SA agar virus dapat masuk ke dalam sel. Ketika keluar dari sel pun, protein NA bertugas memotong SA yang banyak terdapat di permukaan sel agar virus tidak ‘tertambat’ di situ saja sehingga dapat bergerak bebas menyerang sel lainnya.

Apabila umumnya virus memiliki sepotong genom (baik dalam bentuk DNA atau RNA), virus influenza memiliki 8 potong genom. Hal ini menyebabkan virus influenza sangat sering berganti rupa melalui kombinasi potongan genom itu.

Para peneliti dari Australia yaitu Laver dan Coleman berhasil memecahkan struktur protein NA sampai tingkat atom pada tahun 1983. Informasi detil wajah protein NA ini memberikan petunjuk penting bahwa bagian yang melakukan ‘ciuman maut’ itu tidak pernah berubah walaupun bagian lainnya seringkali berganti.

Hal ini memberikan inspirasi pada von Itzstein, juga dari Australia, untuk mensintesa senyawa organik yang dapat menghambat pertautan protein NA dengan SA pada tahun 1993. Senyawa organik yang menjadi obat influenza ini disebut Zanamivir yang menunjukkan khasiatnya dengan meniru SA berinteraksi dengan protein NA. Obat ini sekarang sudah beredar di pasaran.

Dibandingkan dengan Zanamivir, Amantadine, obat untuk virus influenza yang lazim dipakai sebelumnya, dikenal punya efek samping karena bekerja dengan menghambat protein pemompa ion dalam virus yang juga banyak terdapat dalam sel manusia. Selain itu, tidak semua jenis virus influenza memiliki protein seperti ini. Sehingga, Zanamivir dikenal sebagai alternatif obat ampuh influenza saat ini. Kembali kepada virus corona, sayangnya, struktur detil protein S dari virus corona belum diketahui sampai saat ini. Namun dari pelajaran pada virus influenza yang juga menyebabkan penyakit saluran pernapasan akut ini, dapat diketahui, obat mujarab dapat dikembangkan dari usaha mencegah pertautan ciuman maut virus penyerang dan sel korban. Sebagai langkah awalnya, saat ini ilmuwan di dunia berlomba memecahkan struktur atomik protein-protein tersebut. [*]

Klik di sini untuk versi asli di Pikiran Rakyat.

Entry filed under: Rekayasa Protein. Tags: .

Keindahan Virus Demam Berdarah Protein Tanpa Bentuk yang Menjaga Fungsi Otak


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,991 hits

%d bloggers like this: