Proyek “Subway” Jakarta, Kebangkitan Nasionalisme Iptek?

January 15, 2008 at 11:48 am

[Kompas, Selasa, 23.5.2006; Oleh Arief B. Witarto] Senin, 17 April 2006, lalu pemerintah memutuskan proyek Jakarta Metro System atau lebih dikenal dengan subway Jakarta akan dikerjakan oleh tangan-tangan putra-putri Indonesia. Apakah ini bagian dari kebangkitan nasionalisme iptek menuju kemandirian yang kita harapkan?

Dalam bahasa Menneg BUMN seperti dikutip Kompas (17/4/2006), keputusan ini dilandasi keinginan “memaksimalkan sumber daya lokal”. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah sumber daya teknologi karena membuat JMS tidak seperti membuat busway yang “sekadar” memasang pembatas jalan.

Sekitar 30 persen bagian JMS yang berupa jalur bawah tanah berarti memerlukan teknologi membuat terowongan ganda yang panjang, dengan sistem pembuangan air yang baik di Jakarta yang sering kali banjir.

Sisa bagian terbesar yang 70 persen dari JMS berupa jalur layang mungkin bisa dibilang bukan barang baru. Jalur layang untuk jalan kereta api berjarak pendek telah ada di Jakarta yang dibangun oleh tangan-tangan Indonesia sendiri.

Sementara jalur layang yang panjang di Jakarta sudah pula dibuat walau bukan untuk jalan kereta api, tetapi untuk jalan tol. Karena itu, Direktur PT Wijaya Karya, satu dari 10 BUMN dalam konsorsium JMS, dalam wawancara di sebuah TV (18/4/ 2006) merasa yakin dapat menyelesaikan proyek ini tepat waktu. Sekaligus juga ia mengakui, dalam pembuatan jalur bawah tanah belum punya pengalaman sama sekali. Kalau demikian, mengapa dalam pengerjaannya pemerintah memilih opsi dalam negeri daripada yang ditawarkan Jepang? Apakah biaya menjadi alasan utama?

Konsorsium dengan dana JBIC menawarkan proposal 800 juta dollar AS, sementara konsorsium nasional “hanya” 550 juta dollar. Jadi, sederhananya ada penghematan 250 juta dollar bila menggunakan konsorsium lokal.

Namun seperti juga dikutip Kompas, ini baru perhitungan awal. Mudah diduga kalau orang yang belum berpengalaman pasti melupakan banyak detail sehingga ujung-ujungnya banyak biaya tambahan. Kalau bukan biaya, apalagi yang menjadi pertimbangan? Menarik dicermati, opsi Jepang mengandung keharusan menggunakan seluruh teknologi dan kontraktor Jepang. Kalaupun Indonesia ingin menggunakan sebagian teknologi dan kontraktor dalam negeri, masih dimungkinkan, tapi suku bunga dana pinjaman dari JBIC dinaikkan dari 0,4 persen ke 0,6 persen dan masih dibebani keharusan Indonesia menyediakan 25 persen dana proyek. Memang, “there is no free lunch!”.

Setelah drama Blok Cepu selesai dengan akhir antiklimaks bahwa rakyat Indonesia belum bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri dengan pilihan pemerintah terhadap Exxon daripada Pertamina sebagai pengelolanya, maka proyek JMS seakan menyiramkan air sejuk kepada dahaga nasionalisme teknologi.

Suasana ini semakin terasa setelah kita belum lama ini disuguhi liputan Kompas tiga hari berturut-turut mengenai kondisi ilmuwan Indonesia yang tersia- siakan. Pilihan pemerintah adalah pilihan yang tepat dengan memberikan panggung kesempatan kepada teknolog dan ilmuwan Indonesia untuk berkarya dalam proyek JMS ini.

Nasionalisme teknologi telah dibangkitkan oleh Habibie dengan proyek andalan pembuatan pesawat terbang. Memang burung->dh dh

Memang hasil utama pengembangan teknologi adalah sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan terlatih, tapi bagaimana rakyat awam bisa merasakannya? Akhirnya, SDM- SDM yang telah dibesarkan dengan dana rakyat itu justru yang terbang ke luar negeri, bukan pesawatnya.

Karena itu, proyek JMS menjadi penting sebagai salah satu tonggak kebangkitan nasionalisme teknologi sebab produknya akan digunakan oleh banyak orang dari kalangan menengah ke bawah.

Ikon kebangkitan

Kenyamanan tak hanya karena bebas kemacetan lalu lintas, tetapi yang lebih penting dari sisi teknologi, datang-berangkatnya tepat waktu, dan aman.

Sebagai calon ikon kebangkitan nasionalisme teknologi, proyek JMS juga bisa memberikan pengaruh sebaliknya bila terjadi kegagalan. Rakyat akan menjadi semakin apatis dan tidak menaruh kepercayaan kepada kemampuan sendiri. [*]

Entry filed under: Sains & Politik. Tags: .

Obat Anti-neuraminidase Kloning Terapi Makin Jadi Kenyataan


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,991 hits

%d bloggers like this: