Pengembangan Vaksin Flu Burung

January 15, 2008 at 12:13 pm

[Koran Tempo, Senin, 7.11.2005; Oleh Arief B. Witarto] Mencegah lebih baik daripada mengobati. Begitu anjuran umum menjaga kesehatan. Bentuk pencegahan yang lazim dipraktekkan adalah vaksinasi. Walaupun vaksin flu termasuk yang paling sulit dikembangkan, berbagai usaha telah dan sedang dilakukan ilmuwan di seluruh dunia untuk membuat vaksin yang efektif.

Banyak penyakit disebabkan oleh virus yang dibasmi dengan vaksinasi. Contohnya cacar, yang resmi dinyatakan musnah dari muka bumi oleh WHO pada 1979, polio, dan campak. Tapi, bila vaksin untuk penyakit itu umumnya diberikan sekali seumur hidup, vaksin flu hanya berlaku rata-rata setahun. Hal ini karena virus flu sangat cepat berubah bentuk.

Selain oleh mutasi kecil (antigenic drift) pada asam amino protein virus flu, kecepatan berubah bentuk ini juga disebabkan oleh terjadinya mutasi besar (antigenic shift) oleh pertukaran segmen genom RNA virus flu, sehingga virus flu baru dapat berubah total.

Mutasi besar yang merupakan keunikan virus flu karena genom virus itu terdiri atas delapan potong RNA. Sehingga, ketika virus flu dengan tipe berbeda menginfeksi sel yang sama, terjadi pertukaran segmen RNA dalam sel.

Protein virus flu yang dikenali oleh antibodi tubuh adalah dua protein utama di permukaan selongsong kapsul, yaitu haemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Nama subtipe virus dengan H dan N adalah singkatan protein itu yang dibedakan secara serologi.

Untuk mengatasi variasi dan perubahan yang sangat cepat, vaksin flu yang dibuat saat ini umumnya menggunakan kombinasi berbagai tipe virus flu. Sayangnya, tak semua tipe virus flu dapat tumbuh cepat sehingga menyulitkan pembuatan vaksin dalam jumlah besar yang dibutuhkan saat epidemi atau pandemi.

Empat cara membuat vaksin

Setidaknya ada empat cara membuat vaksin virus flu dengan target utama menanggulangi perubahan yang cepat dan kebutuhan yang besar dalam waktu singkat untuk wabah besar. Empat cara itu: pembuatan vaksin virus yang dimatikan (rujukan WHO saat ini), vaksin virus hidup yang dilemahkan, vaksin virus hidup rekombinan menggunakan virus baculo, dan vaksin DNA.

Saat ini, dalam pembuatan vaksin H5N1, WHO menggunakan galur PR8–virus flu tipe yang tumbuh cepat dalam sel hewan dan embrio telur ayam. Gen HA dari H5N1 yang disisipkan pada galur PR8 sudah dimodifikasi pada lokasi pemotongan protein protease yang mengaktifkan kemampuan infeksi virus flu, untuk tidak dapat dipotong lagi sehingga virus flu yang dihasilkan sangat aman bagi manusia.

Ditumbuhkan pada embrio telur ayam, bukan di dalam sel hewan, karena media pertumbuhan sel hewan sangat mahal. Namun, hanya telur ayam, yang tak mengandung virus atau patogen apa pun atau yang specific pathogen free (SPF), yang dapat digunakan. Virus flu yang telah ditumbuhkan selanjutnya dimatikan untuk dijadikan vaksin.

Pembuatan vaksin dengan virus hidup yang telah dilemahkan telah dicoba perusahaan Aviron di AS. Keuntungan vaksin virus hidup adalah tidak hanya menstimulasi produksi protein antibodi yang mengenali patogen, tapi juga membuat sejenis sel darah putih, yaitu sel T limfosit yang punya kelebihan mengenali dan membunuh sel yang terinfeksi, tak hanya satu tipe virus flu tapi juga tipe yang serupa. Akibatnya, daya tahan vaksin ini lebih lama daripada vaksin dengan virus yang dimatikan. Namun, karena virus flunya masih hidup, risiko terinfeksi pun tak hilang 100 persen. Selain itu, produksi vaksin ini butuh waktu lebih lama sehingga sulit mengantisipasi wabah yang mendadak.

Untuk mengatasi kebutuhan telur SPF yang banyak, waktu yang cepat, dan penyediaan vaksin virus hidup, usaha yang dilakukan adalah membuat vaksin tidak dengan virus flu tapi virus baculo. Virus ini menginfeksi serangga dan dapat tumbuh sangat cepat dalam sel serangga yang media pertumbuhannya lebih murah ketimbang sel hewan. Gen HA dan NA disisipkan dalam virus baculo, sehingga virus rekombinan yang diperoleh memiliki karakter antigen mirip virus flu. Vaksin virus hidup dengan teknik ini bisa diproduksi dalam 2-3 bulan saja, tapi efektivitasnya sedang dievaluasi.

Cara tercanggih yang tidak membutuhkan semua hal di atas–virus inang, media pertumbuhan–adalah pembuatan vaksin DNA. Pada teknik ini, gen penyandi protein HA dan NA dimasukkan ke dalam vektor atau DNA yang berfungsi seperti “kargo” yang membawa ke tempat lain. Vektor ini bisa berbentuk cincin atau linier, umumnya berasal dari virus yang sudah dimodifikasi untuk tidak bersifat patogen.

Gen HA dan NA dalam vektor itu dimasukkan ke dalam sel kulit atau otot sehingga sel tersebut memproduksi protein HA dan NA dari virus flu. Dengan munculnya protein asing itu, sistem kekebalan tubuh akan diaktifkan dengan memproduksi protein antibodi dan sel T limfosit. Vaksin DNA flu telah dibikin dan diuji pada hewan dengan hasil yang memuaskan, tapi belum diuji pada manusia karena memerlukan persiapan lebih matang. [*]

Klik di sini untuk versi asli di Koran Tempo. (Perlu login)

Entry filed under: Rekayasa Protein. Tags: .

Mimpi Nobel Ilmuwan Indonesia Protein Pencerna di Kantong Semar


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: