Mimpi Nobel Ilmuwan Indonesia

January 15, 2008 at 12:09 pm

[Kompas, Senin, 15 Agustus 2005; Oleh Arief B. Witarto] [Download File PDF 152 KB] Tahun ini untuk pertama kalinya Indonesia mendapat kesempatan mengikuti pertemuan para penerima hadiah Nobel di kota Lindau, Jerman, atas undangan Pemerintah Jerman dari tanggal 26 Juni hingga 1 Juli 2005.

Berdasarkan seleksi yang dilakukan oleh Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, lima peneliti muda berusia di bawah 35 tahun terpilih oleh tim seleksi yang terdiri dari para guru besar Jerman dan wakil ilmuwan Indonesia. Memang ini bukanlah pertemuan yang ”biasa-biasa” saja.

Pertemuan tahun ini adalah yang ke-55 kali. Dan tahun ini menjadi istimewa karena dicanangkan untuk pertama kalinya kegiatan bersifat internasional, yaitu dengan menggunakan bahasa Inggris dan mengundang peserta dari seluruh penjuru dunia. Selain itu, pertemuan ini adalah yang terbesar dengan dihadiri oleh 44 penerima hadiah Nobel bidang kedokteran, kimia, dan fisika serta 720 peserta yang diseleksi dari 10.000 pendaftar! (menurut jurnal Nature, 14 Juli 2005).

Pertemuan ini dimaksudkan untuk menjadi alih generasi dari para penerima hadiah Nobel yang berusia 50 hingga 80-an tahun kepada generasi muda yang menjadi harapan masa depan. Dengan demikian, untuk menjadi peserta, ada batasan usia dan prestasi akademik serta pengalaman riset dengan bukti publikasi ilmiah internasional.

Sungguh beruntung Indonesia mendapatkan undangan selain China dan India yang sudah beberapa tahun sebelumnya diundang dengan peserta masing-masing 25 orang. Karena kalau ilmuwan China dan India sudah dikenal luas kiprahnya di seluruh dunia sehingga wajar untuk diperhitungkan, negara-negara berkembang lainnya seperti Malaysia dan Pakistan harus merogoh kantong sendiri untuk mengirimkan wakilnya yang terseleksi.

Ketika Jerman mulai bangkit dari reruntuhan Perang Dunia II tahun 1950, tiga orang dokter yang dipimpin oleh Gustav Parade berinisiatif membangun kepercayaan diri bangsa ini dengan ipteknya kembali melalui pertemuan ilmiah, di mana para peneliti muda dapat menimba pengetahuan dan pengalaman dari para ilmuwan puncak dunia, yaitu peraih hadiah Nobel.

Ide hebat tanpa dukungan dana sering kali kandas. Untungnya, bangsawan kaya raya, Pangeran Lennart Bernadotte, cucu dari Raja Oscar II yang menyampaikan hadiah Nobel pertama kalinya pada tahun 1901, mendukung sepenuhnya niat itu. Dengan demikian, jadilah pertemuan ini membudaya dan melegenda sampai yang ke-55 kalinya tahun ini.

Lalu kenapa Lindau? Selain karena dr Gustav berasal dari kota ini, Pangeran Lennart mempunyai istana juga di daerah ini. Lindau adalah kota wisata tercantik di Jerman, di tepi danau terbesar Jerman, Danau Bodensee, di antara perbatasan Jerman-Swiss dengan pemandangan pegunungan. Tidak heran selain kesempatan bertemu dengan generasi muda, para peraih hadiah Nobel rela datang dari Amerika, Jepang, Timur Tengah, penjuru Eropa, dan lain-lain juga untuk menikmati liburan musim panas, tempat pertemuan ini selalu diselenggarakan.

Manfaat pertemuan

Bisa mendengarkan langsung ceramah para penerima hadiah Nobel dari disiplin ilmu yang berbeda sekaligus sebanyak 44 orang dalam satu kesempatan saja sudah luar biasa. Penerima hadiah Nobel yang memberikan ceramah ilmiahnya di Indonesia bisa dihitung dengan jari. Terakhir adalah Ryoji Noyori (Nobel Kimia 2001) di Jakarta, Februari 2004.

Di luar negeri pun, seperti Jepang, yang penulis pernah alami, biasanya universitas, lembaga riset, atau himpunan profesi hanya dapat mengundang 1-2 penerima hadiah Nobel dalam kegiatan pertemuan ilmiahnya. Mendengar secara langsung tuturan kata yang dijiwai oleh raga karena mengalami langsung sungguh memberikan keyakinan serta kesadaran. Ternyata hadiah Nobel tidaklah sejauh yang dibayangkan.

Beberapa penerima hadiah Nobel fisika, khususnya yang bergelut dengan dunia teori, menggumuli rumus dan formula, tampak sekali kegeniusannya. Brian Josephson, yang menerima hadiah Nobel Fisika 1973 pada usia 33 tahun, ceramah khususnya dipadati oleh para peserta, termasuk para peraih hadiah Nobel yang rela duduk di kursi paling belakang. Frank Wilczek (Nobel Fisika 2004) hidupnya penuh rumus, tidak hanya di ceramahnya saja, tetapi sampai pada kaus hitam yang selalu dikenakannya pun bertabur formula.

Sementara itu, para peraih hadiah Nobel kimia dan kedokteran lebih terlihat ketekunan, keuletan, sedikit keberuntungan, serta banyak keberaniannya. Ada yang penemuan besarnya baru didapat di usia 70 tahun, seperti John Fenn (Nobel Kimia 2002), tetapi tidak sedikit pula yang berani banting setir di usia muda, 40 tahun, walau dikritik tidak mungkin berhasil dan hanya membuang karier, seperti Roderick MacKinnon (Nobel Kimia 2003).

Beda antara penemuan luar biasa dan penemuan ”biasa-biasa” saja kadang tampak setipis kertas saja. Orang biasa menyebutnya ”nasib”. Susumu Tonegawa (Nobel Kedokteran 1987) bukanlah satu-satunya doktor biologi molekuler tahun 1970-an. Namun, berkat pengenalan atasannya, Renato Dulbecco, yang enam tahun kemudian meraih hadiah Nobel Kedokteran 1975, ia bisa menceburkan diri ke bidang imunologi, yang belum ada ahli biologi molekulernya.

Berkatnya, dia dapat mengungkap fenomena diversitas antibodi secara molekuler tahun 1976 di laboratorium yang pemimpinnya juga meraih hadiah Nobel, delapan tahun kemudian (Niels Jerne). Richard Roberts (Nobel Kedokteran 1993) dari dulu sampai sekarang terus menggeluti riset jasad renik seperti bakteri. Hanya karena satu ketika ia akan melihat aktivitas transkripsi oleh promotor yang mirip bakteri dan sel tingkat tinggi eukariota, dia menemukan intron atau sekuen DNA yang tidak diterjemahkan menjadi sekuen protein pada makhluk tingkat tinggi termasuk manusia.

Walau demikian, semua keberuntungan itu disebabkan oleh ketelitian dan ketelatenan dalam penelitian sehingga jiwa dan raga telah siap menghadapi segala peristiwa, seperti dilukiskan oleh ungkapan Alexander Fleming (Nobel Kedokteran 1945) yang terkenal, ”Fortune prefers the prepared mind”.

Dapat berdiskusi langsung dengan para peraih hadiah Nobel juga menjadi daya tarik pertemuan ini. Anders Barany, anggota panitia dan juga anggota tim seleksi penerima hadiah Nobel bidang fisika di Swedia, pada awal acara menegaskan aturan utama pertemuan ini. ”Dilarang malu bertanya!” Melalui kesempatan ini pula peserta bisa mendapat kesempatan bekerja di laboratorium peraih hadiah Nobel yang terbukti menjadi langkah penting mendapat hadiah Nobel, seperti kisah Susumu Tonegawa di atas.

Mungkinkah Indonesia melahirkan peraih hadiah Nobel bidang ilmu pengetahuan? Potensi anak Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Berbagai olimpiade dan kompetisi ilmiah tingkat internasional untuk pelajar telah dirajai oleh anak-anak Indonesia. Namun, dari potensi menjadi eksistensi, dari pelajar menjadi ilmuwan peneliti, tampaknya ada banyak yang perlu diperbaiki.

Jika kondisi hardware riset seperti fasilitas dan dana masih bisa disiasati, tetapi software riset mulai dari lingkungan sampai penghargaan mutlak direformasi (”Kebangkitan Iptek Indonesia” oleh penulis di Kompas, 20/7/2005). Dengan demikian, mimpi-mimpi iptek Indonesia, termasuk meraih hadiah Nobel di negeri sendiri, bisa lebih membumi. [*]

Klik di sini untuk versi asli di Kompas.

Entry filed under: Riset & Laboratorium, Riset & Pendidikan, Sains & Politik. Tags: .

Kloning Terapi Makin Jadi Kenyataan Pengembangan Vaksin Flu Burung


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: