Mengembangkan Bioteknologi, Kenapa Mengucilkan Diri?

January 15, 2008 at 3:03 pm

[Suara Pembaruan, 31/10/03; Oleh Arief B. Witarto] Saat ini pemerintah sedang berupaya mengembangkan Bioisland di Pulau Rempang. Bioisland ini, nantinya tidak hanya menjadi pusat penelitian dan pengembangan, tetapi juga industri bioteknologi (bioindustri) Indonesia. Akankah pengembangan ‘model Jurrasic Park’ ini akan menjadi titik tolak percepatan atau malah titik balik bioteknologi Indonesia?

Bahwasanya bioteknologi akan menjadi gelombang baru ekonomi dunia setelah teknologi informasi (TI), sudah dimaklumi oleh banyak orang. Sejak revolusi bioteknologi dimulai awal tahun 1970-an, aplikasinya pada berbagai sektor kehidupan yang penting seperti kesehatan, pangan, dan energi telah menarik perhatian seluruh lapisan masyarakat termasuk kalangan politisi, serta birokrat. Mulai tahun 1980-an, diinisiasilah berbagai usaha untuk mengembangkan kapabilitas bioteknologi Indonesia seperti pendirian institusi, pengembangan SDM dan pembuatan kebijakan. Bagi sebuah negara berkembang, kecepatan menangkap perkembangan teknologi tinggi ini, cukup mencengangkan.

Langkah-langkah pendirian institusi misalnya, Pusat Antar Universitas (PAU) bidang bioteknologi di IPB, ITB, dan UGM (1985), Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi – LIPI (1986), divisi riset yang menjadi cikal bakal Balai Penelitian Bioteknologi Pertanian – Deptan (1989), Lembaga Biologi Molekul (LBM) Eijkman (1993). Untuk pengembangan SDM antara lain, pengiriman besar-besaran lulusan SMU dan S1 untuk belajar ke luar negeri dalam bidang bioteknologi dan dimulainya program pascasarjana bioteknologi di universitas yang memiliki PAU Bioteknologi (1990-an).

Pada tingkat kebijakan, bioteknologi dicanangkan sebagai salah satu prioritas pengembangan iptek dengan didirikannya Komite Nasional Bioteknologi (1985), dijadikannya bioteknologi menjadi salah satu prioritas Repelita (1988), bioteknologi sebagai salah satu bidang unggulan untuk pendanaan Riset Unggulan Terpadu (1992), dan pendirian Konsorsium Bioteknologi Indonesia (1994).

Bioteknologi sangat bergantung kepada sumber daya hayati termasuk sumber daya genetik. Sehingga antusiasme pemerintah untuk mengembangkan teknologi tinggi ini menjadi relevan menilik biodiversitas Indonesia yang terbesar ke-2 di dunia. Dengan segala daya upaya itu, 2 dari 3 target utama pengembangan bioteknologi Indonesia bisa dikatakan sudah tercapai dalam batas-batas tertentu yaitu penguasaan teknologi dan pengembangan SDM.

Satu target lainnya, pembangunan ekonomi melalui bioteknologi tampaknya masih jauh dari harapan. Hal ini terungkap dari pandangan para tokoh senior bioteknologi Indonesia misalnya, “partisipasi industri swasta masih sangat rendah” (Susono Saono, 1995) dan “belum ada industri bioteknologi” (Gumbira Said, 2000). Dengan demikian, usaha untuk membangun kawasan bioteknologi yang lengkap mulai dari penelitian, pengembangan sampai industri, adalah suatu hal yang menggembirakan. Masalahnya, apakah itu tepat dilakukan dari nol dan secara terisolasi?

Integrasi

Teknologi tinggi yang mampu menggerakkan gelombang ekonomi baru, seperti TI dan bioteknologi, memiliki ciri bersandar kepada inovasi yang cepat sehingga perkembangannya mirip sebuah revolusi. Contohnya, saat ini telepon genggam sudah bukan barang aneh, padahal 10 tahun lalu, mendengar namanya saja masih asing. Revolusi dari laboratorium sampai kepada industri itu dimungkinkan berkat klaster. Klaster adalah kumpulan perusahaan dan lembaga yang saling terkait, bergerak pada satu bidang tertentu dan berada dalam sebuah lokasi geografis. Contoh klaster yang terkenal adalah klaster industri hiburan di Hollywood dan klaster industri teknologi tinggi di Silicon Valley, keduanya di Amerika Serikat (AS).

Globalisasi telah memacu terjadinya kompetisi yang berakibat pada tuntutan akan spesialisasi. Di awal era bioteknologi tahun 1980-an, satu perusahaan bioteknologi bisa merambah banyak sektor aplikasi bioteknologi sekaligus seperti farmasi, pertanian, dan lingkungan. Tapi sekarang, perusahaan bioteknologi besar dunia seperti Amgen dan Genentech hanya mengkhususkan pada pengembangan protein-protein untuk obat saja (Robbins-Roth, 2000). Untuk menjadi spesialis pada bidangnya, interaksi dengan perusahaan atau lembaga dalam sektor berbeda walau masih dalam bidang yang berkaitan, menjadi sangat penting.

Klaster bukanlah sekadar kumpulan perusahaan saja seperti kawasan industri atau pusat industri kecil yang ada di Indonesia. Klaster industri minuman anggur di California, AS tidak hanya terdiri dari perusahaan pembuat minuman dan petani saja tapi juga lembaga penelitian dan pendidikan yang mendukung pasokan SDM, pelatihan, dan inovasi teknologi. Selain itu juga ada perusahaan pemasok antara lain mulai dari botol, label, dan pupuk. Juga industri pariwisata yang memberikan nilai tambah serta dukungan pemerintah lokal dengan adanya komite khusus yang menangani industri ini. Yang lebih penting, semua perusahaan dan lembaga itu tidak berdiri sendiri namun saling berhubungan dalam sebuah jaringan.

Klaster industri yang ada menunjukkan ciri yang berbeda sesuai dengan karakter teknologi dalam industri tersebut. Dalam klaster industri TI, sektor-sektor yang membentuknya seperti sektor perangkat lunak, perangkat keras, komponen, dan sistem, dapat dipisahkan dengan jelas. Sebuah perangkat lunak dapat dipesan dalam bentuk modul-modul terpisah untuk dirangkai menjadi produk utuh. Sebagai konsekuensinya tenaga-tenaga ahli dalam masing-masing sektor itu perlu jaringan koneksi yang kuat. Misalnya, seorang pembuat perangkat lunak harus tahu spesifikasi perangkat keras di mana produknya akan berjalan. Untuk itu tidak jarang, perusahaan besar yang sudah ada sebelumnya seperti IBM mendirikan cabangnya dalam klaster TI yang ada.

Sementara itu, dalam klaster bioindustri, sektor yang ada tidak bisa dipisahkan dengan tegas. Keahlian rekayasa genetika dapat digunakan sekaligus dalam sektor terapi, diagnostik, pertanian, dan pangan. Koneksi ketergantungan antara perusahaan dengan lembaga penelitian sangat penting dalam klaster bioindustri karena inovasi teknologi banyak lahir dari lembaga penelitian dan universitas. Sehingga, klaster bioindustri pun banyak bermunculan di seputar lembaga penelitian/universitas itu (Swann, 1996).

Misalnya, klaster bioindustri California yang mencakup 23% dari seluruh bioindustri AS adalah tempat pertama revolusi bioteknologi dilahirkan berkat penemuan para peneliti di universitas wilayah itu seperti UCSF, Stanford dan Caltech yang kemudian melahirkan perusahaan bioteknologi generasi pertama seperti Genentech, Amgen, dsb di wilayah itu. Klaster bioindustri terbesar ke-dua ada di Massachusetts yang didominasi oleh teknologi baru seperti genomik dan nano yang dimotori oleh MIT.

Di Eropa, Edinburg dilaporkan bakal menjadi klaster bioindustri kuat dunia lainnya, setelah keberhasilan pengembangan teknologi kloning oleh lembaga penelitian Roslin Institute dan PPL Therapeutics di wilayah itu (Fransman, 2001).

Titik Tolak

Dengan demikian, jelaslah bahwa kemajuan bioindustri disebabkan oleh integrasi lembaga penelitian dan perusahaan dalam sebuah klaster. Mengundang perusahaan bioteknologi ke Pulau Rempang mungkin bukan hal yang mustahil. Fasilitas keringanan pajak yang kompetitif dan infrastruktur yang memadai, sangat mungkin membujuk datangnya perusahan-perusahaan itu sebagaimana telah terjadi pada industri elektronika di pulau tetangga, Batam.

Namun itu saja tidak cukup. Mungkinkah mengusung lembaga penelitian bioteknologi Indonesia yang berada jauh dari wilayah itu bahkan berbeda pulau ke bioisland? Ataukah memulai semuanya mulai dari nol lagi? Apakah mengharapkan perusahaan-perusahaan itu mendirikan pula pusat risetnya?

Mengembangkan bioindustri di suatu pulau terpisah justru memberikan kesan bahwa bioteknologi adalah teknologi yang berbahaya. Bukankah ini mirip dengan gambaran dalam film Jurrasic Park dimana dinosaurus dan makhluk-makhluk purba yang dibiakkan dalam pulau itu dikembangkan dengan bioteknologi? Mudah-mudahan saja, bioisland justru tidak menjadi titik balik perjalanan panjang pengembangan bioteknologi Indonesia. [*]

Entry filed under: Bioisland & Klaster. Tags: .

Protein Tanpa Bentuk yang Menjaga Fungsi Otak Mencari Obat Penyakit Sapi Gila


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: