Kebangkitan Iptek Indonesia

January 15, 2008 at 11:09 am

[Kompas, Rabu, 20.7.2005; Oleh Arief. B. Witarto] Selain Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh tanggal 20 Mei, Indonesia sudah punya Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap 11 Agustus. Beberapa tahun lalu, peraturan berupa undang-undang yang mengatur sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nasional juga sudah disahkan.

Kalau sebelumnya Menteri Negara Riset dan Teknologi adalah politisi, sekarang teknokrat dari perguruan tinggi ternama negeri ini. Lalu, apa yang kurang untuk menunggu kebangkitan iptek yang sesungguhnya?

Banyak kebijakan baru yang telah diluncurkan Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi sebagai koordinator lembaga-lembaga pemerintah yang melakukan penelitian, seperti LIPI, BPPT, Batan, Lapan, dan Bakosurtanal, maupun yang mencuat dari pandangan para wakil rakyat di Komisi VII DPR yang membidangi masalah iptek.

Antara lain yang menonjol adalah penajaman fokus bidang iptek yang diprioritaskan maupun pengurangan tumpang tindih penelitian. Semuanya masih dalam tataran makro, sementara pembenahan di tingkat mikro seperti pemberdayaan peneliti, belum terdengar.

”Floating mass”

Salah satu alasan yang sering diungkapkan mengapa riset iptek kita tertinggal adalah belum adanya critical mass peneliti yang mencukupi. Memang tidak ada angka baku berapa jumlah minimum peneliti agar suatu bidang ilmu dapat dikembangkan dengan baik.

Tak dimungkiri, dibandingkan negara maju, jumlah per kapita peneliti kita jauh lebih sedikit. Namun, di lain pihak, ada joke bila jalan di kampus-kampus PT terdepan kita, seperti UI, IPB, ITB, dan UGM, semeter melangkah saja sudah ketemu doktor.

Itu pun bukan sembarang doktor karena mayoritas doktor kita belum produksi dalam negeri, tetapi alumni universitas luar negeri. Demikian pula di lembaga penelitian pemerintah, jumlah staf peneliti bergelar doktor tidak bisa dibilang sedikit, dari yang di daerah sampai yang di kota besar.

Ketika berkesempatan mengunjungi pusat-pusat riset bioteknologi di negara berkembang Kuba bersama rombongan Tim Kedokteran Indonesia tahun lalu, kami tercengang mendengar penjelasan bahwa sebagian besar lembaga penelitian yang mengembangkan bioteknologi kedokteran itu hanya memiliki peneliti bergelar doktor tak lebih dari jumlah jari tangan, itu pun sudah mayoritas alumni perguruan tinggi sendiri.

Namun, kalau tidak menghasilkan keuntungan jutaan dollar AS per tahun, paper ilmiah di jurnal internasional ber-impact factor tinggi atau paten di negara maju pun bukan satu-dua jumlahnya.

Jadi, jumlah bukan masalah. Hanya saja, di Indonesia bukan critical mass yang diperoleh, melainkan floating mass. Seperti buih di lautan, jumlahnya banyak tetapi tidak menciptakan agregat yang mampu menggulirkan roda kemajuan iptek.

Bukan kerajaan

Perkembangan iptek yang semakin mendalam membutuhkan satuan agregat peneliti yang secara kontinu mengembangkannya. Itulah Lab. Jangan dikira, Lab tidak ada di Indonesia.

Lab di Indonesia, baik di perguruan tinggi maupun lembaga penelitian, baru sebatas kumpulan alat dalam ruangan tertentu yang diketuai oleh seorang kepala yang berwenang sebatas mengatur agar penggunaan alat tidak bertabrakan.

Jelas beda dengan konsep Lab di negara maju iptek di mana Lab adalah ujung tombak pengembangan iptek yang dipimpin oleh kepala yang punya visi mengembangkan ilmunya. Ary Mochtar Pedju dalam opininya membedakan keduanya dengan menyebut ”lab” dengan huruf ”l” kecil untuk versi Indonesia dan ”Lab” dengan huruf ”L” besar untuk yang sebenarnya (Kompas, 12/12/2002).

Yang terjadi di lembaga penelitian Indonesia misalnya, bila seorang staf peneliti ingin melakukan penelitian, dia membentuk kelompok penelitian yang anggotanya bisa direkrut dari sesama staf peneliti atau mahasiswa perguruan tinggi yang mengerjakan tugas akhirnya.

Keanggotaan kelompok ini sangat lentur, tidak ada ikatan apa pun kecuali keinginan untuk mengerjakan sesuatu bersama. Karena itu, bila dana penelitian selesai—yang di Indonesia normalnya paling lama tiga tahun—kelompok penelitian itu pun dengan mudah bubar, untuk kembali para penelitinya mencari topik baru dan membentuk kelompok baru pula.

Dengan demikian, wajarlah bila sangat sedikit penelitian di Indonesia berjalan kontinu dan tuntas.

Di negara maju iptek dan punya sejarah panjang pengembangan ipteknya, seperti AS dan Eropa, pembentukan Lab sudah menjadi budaya. Bila perguruan tinggi atau lembaga penelitian ingin mengembangkan ilmu tertentu, direkrut staf baru yang diberikan ruangan, fasilitas, dan dana awal untuk melakukan riset satu tahun. Dengan modal ini, staf baru itu akan mulai membangun Lab-nya.

Bila riset berjalan lancar, publikasi ilmiah dihasilkan, dana riset pun dapat diperoleh dari pihak luar perguruan tinggi sehingga mulai bisa mempekerjakan mahasiswa atau tenaga honorer. Demikian, berlanjut sehingga terbentuklah Lab yang kokoh.

Di Jepang yang belajar dari Barat, Lab dibentuk secara administrasi sistematis. Ketika ada kemauan mengembangkan iptek tertentu, Lab segera dibentuk dengan diisi oleh seorang profesor sebagai kepalanya, dibantu seorang associate professor dan beberapa asisten maupun mahasiswa.

Ketika keinginan peneliti membentuk Lab akan diwujudkan di Indonesia, kendalanya, pertama, sistem seperti di Jepang tidak ada. Kedua, budaya untuk membentuknya seperti di AS atau Eropa juga tidak ada. Karena itu, bila seorang peneliti yang bervisi membentuk kelompok, sering kali dianggap membuat ”kerajaan”.

Mengarahkan misi untuk mencapai visi oleh ketua kelompok, diterima bak perintah atasan kepada bawahan oleh anggotanya, padahal secara administrasi tidak ada bedanya staf peneliti satu dengan yang lain dalam sebuah kelompok. Kerajaan diturunkan. Namun, tidak ada ceritanya, seorang Einstein sampai Watson mewariskan kekuasaannya terhadap Lab-nya kepada anak-cucunya.

Budaya ilmiah

Apa ruginya Indonesia tidak punya Lab? Tidak semua bagian ilmu dapat dipelajari dari buku. Justru sebagian besar pengetahuan yang paling penting diperoleh dari pengalaman berguru kepada seorang empu. Mulai dari know-how dalam eksperimen yang diperoleh dari pengalaman berulang sampai filosofi pengembangan ilmu seorang ilmuwan besar didapat hanya bisa dari bekerja di Lab-nya.

Wajar, Hadiah Nobel seperti diturunkan, tidak sedikit penerimanya memiliki hubungan guru-murid di Lab, baik pada bidang fisika, kimia, maupun kedokteran.

Makanya, sikap terhadap ilmu ini disebut ”budaya”, budaya ilmiah. Karena mendarah daging, benar-benar diresapi sebab diturunkan langsung dari yang lebih berilmu kepada anak didiknya, dan seterusnya. Tidak mengherankan pula budaya ilmiah kita masih lemah.

Plagiarisme merajalela mulai dari tingkat penelitian mahasiswa sampai calon profesor. Tidak ada tempat di Indonesia, seorang calon peneliti menimba ilmu sekaligus menghirup udara ilmiah yang meresap sampai ke darah dagingnya.

Peneliti Indonesia yang sudah eksis lebih dari 10 tahun dengan karya-karya yang diakui di tingkat nasional dan internasional, bila diamati, dikunjungi tempat kerjanya dan dirasakan suasananya, tidak beda dengan Lab dalam pengertian sebenarnya.

Melewati berbagai rintangan seperti di atas, manusia-manusia luar biasa (extraordinary) ini dapat terus berkarya berkat sistem Lab yang berhasil dibangunnya. Namun, jangan berharap Indonesia berlari mengejar ketertinggalan iptek bila hal seperti ini tidak disistematisasikan seperti Jepang. Dari sinilah seharusnya kebangkitan iptek Indonesia dimulai. [*]

Klik di sini untuk versi asli di Kompas.

Entry filed under: Riset & Laboratorium, Sains & Politik. Tags: .

Bermain dengan Protein Obat Anti-neuraminidase


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: