Selamat Datang Kepala BPPT yang Baru

January 14, 2008 at 9:13 pm

[Berita Iptek, Sabtu, 3.6.2006; Oleh Arief B. Witarto] Akhirnya, BPPT memiliki Kepala baru yang bukan Menteri. Apakah ini akan membuat pengembangan IPTEK Indonesia lebih optimal? Jawabannya masih memerlukan waktu lama tapi mungkin ini adalah langkah kecil ke depan yang perlu dicermati. Sejak pertama kali BPPT dibentuk, Kepala BPPT selalu dirangkap oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi/Menristek. Habibie dalam waktu yang lama menjadi Kepala BPPT sekaligus Menristek sampai akhirnya berhenti ketika menjadi Wakil Presiden. Tapi tetap saja Kepala BPPT dirangkap oleh Menristek setelah itu. Memasuki era reformasi, pemisahan Kepala BPPT dan Menristek mulai santer terdengar. AS Hikam, Menristek saat itu, mengaku sebenarnya telah mengajukan pula pemisahan jabatan itu ke Presiden Gus Dur tapi belum dirasa penting sehingga terus dirangkap sampai bulan lalu, terpilihlah Said Djenie sebagai Kepala BPPT yang bukan Menteri untuk pertama kalinya.

Kenapa Menristek harus dipisah dari Kepala BPPT? Kehadiran BPPT sebagai salah satu lembaga riset milik negara memang menghasilkan banyak kontroversi. Alih-alih berperan lebih cepat dalam pengembangan IPTEK, justru banyak memperkeruh suasana. Lembaga riset yang sudah ada sebelumnya, LIPI, BATAN, LAPAN, BAKOSURTANAL dan BPS telah memiliki lahan garapan sendiri-sendiri. LIPI bergerak dalam ilmu pengetahuan/sains dasar, BATAN dalam tenaga nuklir, LAPAN untuk ilmu antariksa, roket, dsb, BAKOSURTANAL yang bertanggung jawab dalam pemetaan bumi dan BPS untuk pengadaan statistik. Tapi begitu BPPT hadir dengan dalih untuk mengkaji dan menerapkan teknologi, maka banyak terjadi tumpah-tindih/overlap dalam pengembangan IPTEK Indonesia. Bidang garap BPPT meliputi hampir seluruh lahan yang menjadi tanggung jawab lembaga riset yang ada walaupun diusahakan memfokuskan diri pada pengembangan pada hilirnya, aplikasi teknologi. Kenyataannya, perkembangan IPTEK yang makin maju menyebabkan batasan ilmu dasar dan terapan makin semu.

Bioteknologi misalnya. Ilmu Biologi Molekuler yang menjadi dasar pengembangan bioteknologi, sekaligus menjadi pemicu lahirnya teknologi ini tahun 1973. Ketika Cohen dan Boyer, sesama peneliti di Kalifornia sebenarnya hanya bertujuan mengklon DNA untuk meneliti lebih jauh, seorang usahawan bernama Swanson melihat peluangnya untuk membuat insulin yang dikode oleh DNA itu. Lalu lahirlah tahun 1976, perusahaan bioteknologi pertama di dunia, Genentech yang merupakan kependekan dari Genetic Engineering Technology. Trend tersebut terus berlanjut sampai sekarang pada era teknologi sel tunas untuk kloning terapi yang bermula dari isolasi sel tunas embronik. Tidak heran bioteknologi disebut sebagai teknologi yang dikendalikan oleh sains. Kemana sains itu dikembangkan, teknologi mengikutinya. Teknik-teknik dan fasilitas yang dikuasai dan dimiliki lembaga riset bioteknologi sama persis dengan lembaga
sains biologi molekuler. Itulah yang dapat diamati di Pusat Penelitian Bioteknologi milik LIPI di Cibinong dan Pusat Pengkajian dan Penerapan Bioteknologi punya BPPT di Serpong.

Hal seperti ini terjadi pula pada bidang-bidang lainnya yang perkembangannya dicirikan dengan arah yang multidisiplin. Maka tumpah tindih semakin tidak dapat dihindarkan di negara yang birokrasinya terkenal lemah ini. Apalagi, dana riset untuk penelitian dasar lebih sulit diberikan daripada yang aplikatif. Tidak dapat disalahkan bila peneliti LIPI pun merambah ke
bidang-bidang aplikatif.

Perangkapan jabatan Kepala BPPT dengan Menristek semakin membuat keruh suasana karena sesama Kepala lembaga riset yang berada di bawah koordinasi Menristek jadi “berdiri tidak sama tinggi, duduk tidak sama rendah”. Ketika tumpah tindih terjadi, bagaimana dapat seorang Kepala LIPI mengkoreksi kebijakan Kepala BPPT yang juga sekaligus atasannya karena dia adalah Menterinya? Itulah yang terjadi sehingga masalah ini seperti lingkaran setan yang cuma dikeluhkan dan tidak kunjung ketemu simpul pengurainya.

Apakah sekarang semua permasalahan telah selesai dengan keberhasilan mengangkat Kepala BPPT yang bukan Menteri? Nampaknya perjalanan masih jauh. Struktur BPPT yang masih tetap, tidak akan membuat kondisi banyak berubah. Sebagian orang yang skeptis lalu mengusulkan untuk sekedar mencopot kata “dan” dalam nama BPPT, dari “Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi” menjadi “Badan Pengkajian Penerapan Teknologi”. Selain tinggal menurunkan kata itu di gedung BPPT yang menjulang tinggi di pinggir Jalan MH Thamrin, solusi ini nampak sederhana tapi jitu untuk menekankan ruang kerja BPPT yaitu mengkaji penerapan teknologi, titik. Dengan demikian yang mungkin bakal jadi tulang punggung BPPT adalah audit teknologi yang Pusat-nya belum lama dibentuk di lembaga ini. Tapi BPPT juga punya banyak lab-lab yang berpusat di Puspiptek Serpong yang fasilitas dan aktivitasnya selama ini tidak banyak beda dengan yang dimiliki lembaga riset lain. Lalu mau diapakan itu semua? Nampaknya pilihan Kepala BPPT yang baru adalah solusi cerdik walaupun mungkin sesaat saja dampaknya yaitu dengan diangkatnya Said Djenie yang merupakan saudara kembar identik dengan Umar Jenie, Kepala LIPI sekarang. Sudah barang tentu, ada harapan dua lembaga riset yang paling banyak tumpah tindihnya ini bakal “berdamai” di bawah kepemimpinan dua Kepala yang bersaudara.

Permasalah IPTEK Indonesia yang paling mendasar adalah kesenjangan antara lembaga riset yang masih didominasi oleh lembaga milik negara dengan sektor industri yang digerakkan oleh swasta. Produk-produk IPTEK yang telah susah payah dikembangkan, tidak diserap industri sehingga terjadi kebuntuan yang tak berujung. Pada era Orba, kesenjangan itu coba didekatkan dengan cara pragmatis, membuat wadah penyerap di lingkup RISTEK sendiri, mulai dari pembentukan BUMN Strategis seperti PAL, IPTN, dsb termasuk menggelar dana riset
kemitraan/RUK. Kenyataannya, BUMN Strategis berbasis IPTEK itu nampak lebih nyaman mengembangkan teknologi sendiri pula, kadang sampai merekrut SDM-nya sendiri. PT Rekayasa Industri sebagai salah satu BUMN berbasis IPTEK yang tetap bertahan sampai sekarang, berkembang sebagai satu entitas sendiri tanpa komunikasi yang erat dengan lembaga riset negara yang ada. Apalagi BUMN Strategis lain yang berkembang dengan proteksi, lebih nyaman membeli teknologi luar negeri seperti di BUMN-BUMN farmasi. RUK yang digalakkan oleh RISTEK untuk mewadahi komunikasi teknologi antara lembaga riset termasuk universitas dengan industri, memang berjalan sekian tahun. Tapi bila dicermati hanya didominasi oleh proyek-proyek antar institusi pemerintah sendiri, antar lembaga riset negara dengan BUMN, sangat jarang menjamah sektor swasta murni.

Kekosongan pada jembatan antara riset baik yang dasar maupun terapan dengan dunia usaha inilah yang menjadi roda IPTEK Indonesia untuk kesejahteraan bangsa tidak bergulir. Siapa yang akan mengisinya? Apakah BPPT seperti diharapkan Menristek ketika melantik Kepala BPPT yang baru?

Tanpa ada arahan seperti itu pun, sebenarnya fungsi seperti itu telah dijalankan oleh individu-individu peneliti BPPT, khususnya yang berkantor di pusat Jakarta. Tidak sedikit para peneliti BPPT tersebut yang lebih banyak waktunya duduk di gedung tinggi di sebelahnya sebagai konsultan. Nampaknya kemudahan akses, membuat para peneliti “kreatif” ini dapat menjalankan fungsi yang diidam-idamkan itu. Tugas sebagai jembatan teknologi kepada BPPT, mengharuskan lembaga ini menggali potensi-potensi yang ada dari lembaga-lembaga riset lainnya. Tidak bisa sekedar menjual produk dan jasa dari lembaganya sendiri. Maka BPPT dengan demikian harus proaktif mengurai simpul kekusutan tumpah tindih IPTEK Indonesia. Suatu saat harus rela mengakui teknologi yang kadung dikembangkan di lembaga lain lebih unggul daripada miliknya sehingga itulah yang ditawarkan kepada industri. Inilah tantangan terbesar. Selamat datang Kepala BPPT yang baru!

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

Entry filed under: Sains & Politik. Tags: .

Ahmadinejad dan Sampah Bandung SDM Iptek


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: