Science is Fun, but Doing Science in Indonesia is not Funny at all

January 14, 2008 at 8:35 pm

[Berita Iptek, Rabu, 13.6.2007; Oleh Arief B. Witarto] Tanggal 8-13 Mei lalu diluncurkan program Science for All dengan tujuan untuk membuka minat generasi muda dari tingkat SD terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memang menyenangkan, tapi kenyataannya menjadi ilmuwan di Indonesia saat ini adalah pengorbanan. Harus ada upaya pada kedua sisi sehingga generasi muda menyenangi ilmu pengetahuan karena menyenangkan dan menjanjikan sebagai profesi masa depan.

Sebuah langkah terobosan ketika Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Departemen Pendidikan Nasional (DIKNAS) dan Kementrian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK) bersama-sama mencanangkan program promosi ilmu pengetahuan untuk generasi muda itu. Karena masalah Indonesia kuncinya adalah kurangnya sinergi, sehingga program-program bagus yang telah dirintis menjadi mentah karena pihak lain tidak ikut mengadopsinya.

Contohnya, dalam dunia ilmu pengetahuan sekarang, bahasa Inggris adalah bahasa dunia. Kepada generasi muda ilmuwan dunia di Pertemuan Para Peraih Hadiah Nobel di kota Lindau, Jerman, peraih Nobel Kimia tahun 2000, Alan MacDiarmid menegaskan bahwa ilmuwan muda harus menguasai bahasa Inggris untuk bisa berkiprah di masa depan. Dalam pertemuan itu, delegasi India yang cas-cis-cus berargumen dalam bahasa Inggris 殆alau tidak selamanya benar apa yang dikatakannya・nampak sangat menonjol.

Di Indonesia, DIKNAS menetapkan bahasa Inggris sebagai satu dari tiga mata pelajaran Ujian Akhir Nasional (UAN). Tapi siswa-siswa SMA yang telah menguasai bahasa Inggris, tidak mendapatkan kuliah dalam bahasa Inggris di universitas-universitas negeri terkemuka negara ini. Jadinya, mahasiswa kita hanya tahu bahasa Inggris secara teori tapi tidak ada kesempatan bicara, membaca dan menulis bahasa Inggris.

Bila dengan upaya di atas, generasi muda mulai berminat kepada ilmu pengetahuan, akankah mereka kemudian menjadi barisan pengembang ilmu pengetahuan di Indonesia apabila kesejahteraan ilmuwan di Indonesia jauh dari profesi lainnya?

Seorang lulusan S-1 atau S-2 dari universitas di Jepang ditawarkan bekerja di perusahaan Jepang di Indonesia dengan pendapatan bersih Rp. 10 juta/bulan. Selain itu, masih akan mendapat asuransi kesehatan, mobil kijang Innova baru dan ongkos bensin serta uang jalan tol. Sementara kalau lulusan itu berminat menjadi ilmuwan, sebagai bekal tambahan mutlak, dia perlu memperdalam ilmunya sampai pada tingkat S-3, kemudian menambah lagi bekerja minimal 2 tahun sebagai peneliti postdoctoral agar dapat mandiri mengelola riset, sebelum pulang ke Indonesia, berarti sudah ada pengalaman kerja pada bidang itu lebih dari 5 tahun.

Pulang ke Indonesia, dia akan menjadi ilmuwan di lembaga Pemerintah (lembaga riset/universitas) karena di sini tempat bekerja dan fasilitas paling banyak tersedia. Dia akan memulai karir sebagai ilmuwan pegawai negeri sipil (PNS) dengan golongan III/c. Selanjutnya dia akan mendapat penghasilan tambahan yang disebut tunjangan fungsional, juga uang proyek dari proyek penelitian yang didapat dan akan diundang ke beberapa seminar dan kuliah tamu. Maka dia sebagai “ilmuwan muda” akan memulai kehidupannya dengan pendapatan rata-rata Rp. 7 juta (Rp. 2,5 juta dari gaji dan tunjangan fungsional; Rp. 2,5 juta dari honor proyek; Rp. 2 juta dari undangan seminar/kuliah).

Sebagai PNS, dia juga akan mendapat asuransi kesehatan (ASKES) walau tidak dapat meng-cover seluruh biaya kesehatannnya. Tidak akan ada faslitas lain termasuk kendaraan seperti kalau dia bekerja di perusahaan sebagai “eksekutif muda”.

Siapa pun yang tahu kondisi ini dari usia dini, tentu akan memilih hidup menjadi eksekutif muda daripada ilmuwan muda. “Ada banyak jalan menuju Roma”. Maka, selalu ada solusi untuk masalah abadi ini di Indonesia. Kalau Pemerintah Malaysia dapat memberikan pendapatan kira-kira Rp. 10 juta/bulan dengan kredit ringan untuk membeli rumah dan mobil, sehingga tidak sedikit ilmuwan muda Indonesia memilih hidup di negara jiran itu, Indonesia pun pasti bisa. Malaysia sudah memiliki GDP sekian kali lipat Indonesia, maka yang perlu dilakukan Indonesia adalah mengurangi “terlalu banyak ilmuwan untuk terlalu sedikit proyek riset”.

Di Indonesia, seringkali sebuah kantor lembaga riset kelebihan ilmuwan agar tingkat eselonnya naik sehingga dana anggarannya pun bisa meningkat. Tapi akibatnya dana riset Rp. 1 milyar, bila dibagi 10 ilmuwan (jumlah umum dalam unit terkecil eselon III), maka nilai per-proyek-pun tinggal Rp. 100 juta. Masih dikurangi lagi dengan potongan pajak 10-15%, potongan lain-lain untuk lembaga dan rekanan 10-15% lagi dan honor 30-40%, maka dana riset yang sesungguhnya tinggal Rp 50 juta. Karena bahan-bahan riset mayoritas impor dan harus dibeli lewat rekanan atau distributor lokal, harga umumnya 2x lipat bila dibeli langsung di luar negeri (LN). Maka dana awal yang Rp. 100 juta itu, bila ilmuwan di LN bisa menggunakannya utuh, maka nilai nyata yang dapat dipakai ilmuwan Indonesia paling tinggal Rp. 25 juta saja!

Seandainya, jumlah pegawai kantor lembaga riset tingkat eselon II yang 100 orang itu bisa dipotong menjadi 20 orang saja yang sudah mencakup 2 orang tenaga administrasi, tentu saja dana riset dengan jumlah sama yang tersedia akan jauh lebih efektif dan efisien. Masalahnya, peraturan kepegawaian Indonesia tidak membedakan kantor lembaga riset dengan kantor lembaga administrasi. Sehingga kantor lembaga riset dengan jumlah pegawai itu hanya akan menjadi eselon III atau IV dan jumlah dananya pun menjadi jauh lebih kecil.

Kenapa kita harus yakin bisa? Karena kita sudah punya contohnya. Lembaga Biologi Molekul Eijkman, didirikan dengan instruksi khusus dari Menteri RISTEK saat itu, B.J. Habibie kepada Sangkot Marzuki yang sedang berkarir di Australia. Karena serba “khusus” itu, pengelolaan LBM Eijkman yang berada di bawah koordinasi langsung RISTEK itu, berjalan sehat dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan standar dunia.

Jumlah staf yang kecil, pengelolaan dana yang tidak mengikuti pola kantor lembaga riset pada umumnya, membuat Eijkman bisa memberdayakan seluruh potensinya (termasuk nama besar Eijkman sebagai peraih Hadiah Nobel dari Belanda yang melakukan risetnya di Indonesia pada jaman kolonial), menjadi sebuah lembaga riset yang disegani di dunia. Oleh karenanya, seharusnya LBM Eijkman menjadi pilot project pembenahan manajemen lembaga riset Indonesia yang sudah terbukti keampuhannya.

Maka dengan kebijakan yang integratif, mulai dari RISTEK, DIKNAS dan Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN), upaya promosi ilmu pengetahuan dari mulai generasi muda ini baru akan menjanjikan hasil di masa depan. Jangan sampai seperti bahasa Inggris sekarang. Di usia dini digalakkan, di usia pematangan (mahasiswa) malah ditinggalkan. Ilmu pengetahuan di usia dini dipromosikan, ilmuwan di usia matangnya pun perlu dipersiapkan kondisi yang membuat pelakunya enjoy. [*]

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

Entry filed under: Riset & Laboratorium, Riset & Pendidikan. Tags: .

Iklan Universitas, Cermin Pendidikan Tinggi Kita Hasil Asian Games, Cermin Kebersamaan Bangsa


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: