Iklan Universitas, Cermin Pendidikan Tinggi Kita

January 14, 2008 at 8:32 pm

[Berita Iptek, Selasa, 19.6.2007; Oleh Arief B. Witarto] Menyambut tahun ajaran baru, halaman koran tanpa henti dipenuhi dengan iklan universitas. Memperhatikan tampilan iklan universitas, kelihatannya kita bisa membayangkan kemana mahasiswa kita nanti akan dibawa setelah lulus. Gedung yang megah dan suasana yang menyenangkan nampak paling ditonjolkan daripada isi pengajaran, baik kurikulumnya apalagi tenaga pengajar dan pengelolanya. Dari sini, dapat diterka bahwa gelar lebih ditonjolkan daripada kualitas. Dalam bahasa salah satu iklan universitas, “kedangkalan daripada kedalaman” pengetahuan.

Menyambut tahun ajaran baru, halaman koran tanpa henti dipenuhi dengan iklan universitas. Memperhatikan tampilan iklan universitas, kelihatannya kita bisa membayangkan kemana mahasiswa kita nanti akan dibawa setelah lulus. Gedung yang megah dan suasana yang menyenangkan nampak paling ditonjolkan daripada isi pengajaran, baik kurikulumnya apalagi tenaga pengajar dan pengelolanya. Dari sini, dapat diterka bahwa gelar lebih ditonjolkan daripada kualitas. Dalam bahasa salah satu iklan universitas, “kedangkalan daripada kedalaman” pengetahuan.

Yang paling gencar menayangkan iklan di koran tentu saja universitas swasta karena uang kuliah mahasiswa adalah pendapatan utamanya. Walaupun demikian, universitas negeri pun, terutama yang sudah diharuskan mengelola sendiri dalam bentuk BHMN/Badan Hukum Milik Negara, ikut pula mengiklankan diri. Sementara sangat jarang, universitas negeri di luar kategori BHMN yang pernah mengiklankan diri di koran nasional. Mungkin buat mereka, toh tidak ada bedanya menarik sebanyak mungkin pendaftar karena pendapatan sudah dijatah Pemerintah.

ariefwitarto_iklanuniversitas1.jpg

Kalau universitas swasta dalam iklannya memajang gambar gedung yang megah bertingkat, dapat dimaklumi, sebab gedung adalah fasilitas utama yang paling menarik perhatian. Kalau universitas itu belum punya gedung sendiri, tak segan menyewa beberapa lantai gedung perkantoran elit untuk dijadikan kampusnya seperti sebuah universitas swasta di Banten. Kalau pun gambar keseluruhan gedung yang kemudian muncul dalam iklannya, pembaca awam tidak sadar bila sebenarnya hanya sebagian saja yang menjadi kampus universitas tersebut.

ariefwitarto_iklanuniversitas2.jpg

Menariknya ada pula universitas negeri dengan gedung megah yang dibangun memakai uang pinjaman negara (baca: rakyat), ikut-ikutan memajang gambar gedung dalam iklannya, seakan tidak percaya diri dengan kualitas isinya.

Setelah gedung, umumnya adalah lokasi yang strategis, mudah dijangkau dan di tengah keramaian. Biasanya hal ini selalu terdeteksi dari alamat kampus yang selalu tertera dalam iklan. Seakan tidak peduli dengan trend itu, sebuah universitas swasta dengan modal besar di Jawa Barat, malah berslogan berada di luar pusat kota, mandiri dalam kota buatan sendiri. Ruangan ber-AC bukanlah keunggulan lagi sehingga tidak perlu diiklankan kecuali oleh beberapa universitas swasta yang menjual harga uang kuliah murah tapi fasilitas mewah.

Sebagai gantinya, di era informasi-komunikasi ini, universitas-universitas dengan uang kuliah selangit, menjual diri dengan fasilitas koneksi internet nir-kabel gratis dan tawaran komputer jinjing dengan harga korting. Sementara di universitas-universitas negeri, layanan seperti ini untuk pengajar yang menggunakan buat penelitian pun, masih sulit diperoleh.ariefwitarto_iklanuniversitas3.jpg

Setelah fasilitas fisik yang mudah disediakan oleh siapa pun yang punya modal kuat itu, iklan-iklan universitas sekarang banyak menjanjikan suasana kuliah yang menyenangkan. Foto-foto mahasiswa dan mahasiswi berparas rupawan dan jelita dengan senyum mengembang, bahkan tak segan di taruh di bagian paling mencolok iklan tersebut dalam ukuran besar. Seakan memberikan kesan, “ini lho teman-teman kamu nanti kalau sekolah di sini”. Siapa tidak mau punya teman seperti itu? Kalau bukan paras yang dijual, beberapa universitas mengetengahkan foto dan cerita alumninya yang sukses, meraih beberapa posisi idaman seperti eksekutif muda. Walaupun kalau dipikir lebih jauh, keduanya bukanlah inti dari suasana universitas itu sendiri yang berupa kuliah, belajar mandiri di perpustakaan atau diskusi dengan dosen. Teman yang rupawan dan kesuksesan setelah lulus adalah poin tambahan yang justru paling ditawarkan dalam iklan.

ariefwitarto_iklanuniversitas4.jpg

Seakan mengkompletkan nasib terpinggirkannya pengajar kita di setiap tingkat pendidikan, sangat sedikit universitas baik swasta maupun negeri yang mengiklankan keberadaan tenaga-tenaga pengajarnya yang handal, hatta dengan satu-dua wakilnya saja. Padahal, kualitas murid tidaklah melampaui gurunya, sehingga muncul ungkapan “belajarlah dari guru yang terbaik, walau sampai ke negeri Cina”. Satu-dua universitas swasta saja yang berani menampilkan siapa pengelolanya yang bisa jadi panduan seperti apa visi universitas itu yang dapat diraba dari siapa pucuk pimpinannya. Sebuah universitas di Banten, berani menampakkan foto para pengelola fakultasnya dengan lengkap. Mungkin ini suatu taruhan dari upaya keterbukaan yang sangat penting dalam dunia akademik dengan penerimaan masyarakat yang umumnya melihat ketenaran nama. Jangan harapkan hal seperti ini muncul dari universitas negeri. Umumnya pengelola universitas negeri lahir bukan karena prestasi tapi jenjang birokrasi sehingga bukan yang terbaik dan terpantas yang dikenal masyarakat yang menjadi pengelola. Maka tidak heran, mereka pun kurang laku “dijual” di luar institusinya dalam bentuk pemunculan iklan di koran. Sementara pengajar-pengajar yang berprestasi, seperti biasa justru menjadi “musuh” birokrasi, sulit diatur karena tingkat independensi-nya yang tinggi.

ariefwitarto_iklanuniversitas5.jpg

Begitulah fenomena dunia pendidikan tinggi kita. Iklan mewartakan apa keinginan masyarakat. Jadi mungkin bukan semata salah pengelola universitas yang membuat iklan tersebut, tapi memang seperti itulah kebutuhan masyarakat kita. Yang instan, mudah dicapai, mudah dirasa, makin disuka daripada yang isi dan perlu perjuangan serta pengorbanan. Untungnya masih ada pula yang beraliran beda, berani menjual “kedalaman daripada kedangkalan” seperti sebuah universitas swasta di DKI. Tak heran seperti analisis di atas, bila universitas itu pun memaparkan sederetan nama-nama dosen dengan tingkat pengenalan publik yang luas, yang bakal calon-calon mahasiswa temui nanti dalam perkuliahan. Kalau pun bukan dari usaha pengelolanya, kabar gembira juga terlihat dari calon mahasiswanya sendiri. Seperti seorang peraih prestasi olimpiade fisika kelas dunia untuk tingkat SMA yang sudah mantap ingin belajar di sebuah universitas karena ingin berguru langsung kepada tokoh muda sains yang mendunia di bidangnya, yang menjadi pengajar di universitas di Jawa Barat itu.

Semoga semakin banyak generasi muda yang seperti ini, tidak mudah terbujuk rayu iklan universitas yang menawarkan bumbu daripada isi. [*]

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

CATATAN: Heri Setyawan mengabarkan via email pada tanggal 20.11.2007 bahwa dirinya telah melakukan riset yang dipublikasikan sebagai skripsi di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI pada tahun 2002 dengan kesimpulan serupa. Skripsinya berjudul “Pendidikan Sebagai Komoditas Kapitalisme: Critical Discourse Analysis Iklan Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi”. Bagi yang tertarik lebih lanjut, direkomendasikan untuk membaca skripsinya yang bisa dilihat dari digilib.ui (info Heri).

CATATAN: Gambar-gambar dalam tulisan ini adalah hasil gabungan iklan dari surat kabar Indonesia yang di-scan dan diolah menjadi seperti di atas oleh penulis/Arief.

Entry filed under: Riset & Laboratorium, Riset & Pendidikan. Tags: .

Kiat Bisa Studi di Jepang (2/2) Science is Fun, but Doing Science in Indonesia is not Funny at all


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: