E-science

January 14, 2008 at 9:19 pm

[Berita Iptek, Jumat, 9.12.2005; Oleh Arief B. Witarto] Sebagaimana “e” dalam e-business, e-mail dan sebagainya, “e” dalam e-science ini berarti electronic yang maknanya ilmu pengetahuan yang dikembangkan akan makin bergantung pada internet dan teknologi informasi. Kecenderungan ini tak dapat dihindari antara lain karena makin besarnya data ilmiah yang diperoleh, mengharuskan penggunaan teknologi itu. Sebagai contoh, data yang diperoleh oleh pusat penelitian CERN di Eropa, tak kurang dari 1 x 1015 bit/tahun. Perusahaan pensekuen DNA, Celera Genomics dapat menyelesaikan pembacaan genom manusia hanya dalam beberapa tahun dibanding konsorsium lembaga penelitian publik Amerika,Eropa, atau Jepang yang telah memulainya lebih dari sepuluh tahun sebelumnya, antara lain berkat kerjasamanya dengan perusahaan komputer Compaq untuk mengolah data.

Di samping itu, internet tak pelak telah merevolusi cara berkomunikasi manusia di seluruh muka bumi, termasuk juga kalangan ilmuwan. Data-data yang dahulu harus diambil langsung ke tempatnya, sekarang bisa diakses tanpa harus mendatanginya melalui jaringan ini. Misalnya, teleskop di Pulau Canary-Spanyol yang terpencil, bisa dioperasikan dari lab di mana saja yang terhubungkan dengan jaringan internet. Kemajuan dua teknologi ini memungkinkan eksperimen dilakukan di atas komputer saja/in-silico dari berbagai penjuru dunia.

Tak mengherankan, negara-negara berkembang yang ingin mengejar ketinggalan berusaha mempersiapkan infrastruktur jaringan internet maupun kemampuan teknologi informasinya, misalnya negara tetangga kita Malaysia dengan Multimedia Super Corridor-nya.

Sayangnya, di negara kita Internet lebih dipandang sebagai bentuk entertainment/hiburan saja. Warung Internet (Warnet) dipadati anak-anak muda sekedar untuk chatting padahal segudang informasi iptek terbuka luas di hadapannya.

Demikian pula di lembaga-lembaga penelitian/pendidikan kita, tak jarang akses internet hanya diperuntukkan buat urusan administrasi misal surat-menyurat dan sebagainya. Padahal mulai dari korespondensi antar kolega, mencari data, membaca publikasi sampai mengoperasikan alat, dengan mudah dilakukan bila menggunakan kemajuan teknologi ini.

Seperti pernah dikeluhkan oleh peneliti Afrika dalam surat pembacanya di jurnal Nature, walaupun akses data sekuen genom manusia terbuka buat siapa saja secara gratis, tapi bagi peneliti di negara berkembang yang minim fasilitas internetnya, kondisinya sama saja sulit terjangkau.

Tidak mengherankan, banyak peneliti kita yang menggunakan internet untuk menjalin jaringan dengan koleganya khususnya di luar negeri lebih sering menggunakan biaya sendiri daripada fasilitas kantor yang jarang ada. Dengan demikian kekhawatiran digital divide di masa depan akan makin menjadi kenyataan bila infrastruktur masalah ini kurang mendapat perhatian.

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

Entry filed under: Bioinformatika, Riset & Laboratorium. Tags: .

SDM Iptek Kebebasan dan Etika Ilmu Pengetahuan


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: