Dicari, Ide Segar

January 14, 2008 at 8:57 pm

[Berita Iptek, Kamis, 21.12.2006; Oleh Arief B. Witarto] Sekarang dunia semakin tanpa batas dengan kemajuan internet, alat komunikasi dan transportasi. Dengan demikian perpindahan barang, manusia termasuk gagasan pun menjadi lebih mudah dan cepat. Satu perusahaan mudah melakukan outsourcing semisal memesan komponen mesin atau modul perangkat lunak hanya dengan klik mouse, tanpa harus bertatap muka atau mendatangi langsung penyedia barang/jasa tersebut. Dengan demikian persaingan pun menjadi lebih terbuka sekaligus keras/kompetitif. Kita hidup dalam dunia seperti ini. Sadar atau tidak, siap atau belum. Tidak bisa lagi merasa cukup dengan yang ada, seperti menggunakan kaca mata kuda, melihat apa yang ada di depan dan dekat dengan kita saja.

Perkembangan IPTEK pada era seperti ini semakin dahsyat, cepat dan revolusioner. Contoh. Handphone semakin mudah digunakan, kecil tapi syarat fungsi dan harga terjangkau. Masih belum begitu lama, hanya beberapa orang saja yang dapat membeli handphone yang ukurannya masih sebesar kotak sepatu. Demikian pesatnya! Perkembangan produk dan jasa sarat IPTEK yang cepat, didominasi oleh lokasi-lokasi tertentu yang dikenal dengan istilah klaster. Hollywood, Silicon Valley, Massachussets adalah beberapa contoh di dunia yang mewakili berbagai sektor. Film keluaran Hollywood sudah seperti jaminan mutu sampai ada yang menirunya jadi Bollywood. Demikian pula produk-produk inovasi teknologi IT dan kesehatan dari Silicon Valley di Kalifornia sejak dari chip komputer Intel sampai chip DNA. Massachussets di seberang Kalifornia menghasilkan produk-produk bioteknologi yang semakin beragam mulai dari kesehatan, lingkungan sampai militer.

Ada tiga hal penting yang menjadi modal keberhasilan bertahan dalam persaingan seperti itu. Ide, Talenta dan Dana. Jadi memang Ide sangat penting karena hanya ide yang segar saja yang akan menghasilkan produk/jasa yang terus digemari. Orang tidak mudah bosan. Talenta diperlukan untuk merealisasikan ide itu menjadi kenyataan dan dana seperti bahan bakar yang akan memungkinkan semua itu terjadi.

Ide bisa lahir dari mana saja dan siapa saja. Sehingga setiap orang seharusnya yakin bahwa dia punya kemampuan untuk melahirkan ide-ide cemerlang, ide baru yang keluar dari kotak. Membuat semangka berbentuk kotak, siapa yang pernah berpikir walau semua orang tahu kalau dalam pertumbuhannya semangka itu bisa dibentuk sesuai kondisinya. Ide bisa lahir kapan saja, tinggal menunggu waktu yang tepat. Tapi tentu bukan seperti wangsit yang turun dari langit, namun melalui proses panjang yang kadang tidak terlalu orang pedulikan. Linus Pauling penerima Hadiah Nobel Kimia 1954 mendapatkan gagasan struktur polipeptida berbentuk heliks yang seperti spiral ketika sedang terbaring di kasur karena kena flu. Karry Mulis mendapatkan ide memperbanyak DNA dengan teknik PCR ketika sedang mengemudikan mobil menuju pantai untuk bermain selancar air. Yang mereka butuhkan hanyalah waktu tenang untuk berkontemplasi supaya input berupa pengetahuan yang telah diakumulasikan dalam otaknya dapat memercikkan api ide untuk menggagas suatu yang baru, yang belum pernah terbayang oleh orang lain di muka bumi ini! Jadi bukan terjadi begitu saja.

Sehingga jalan pertama menuju ide segar adalah menyerap informasi dari sekeliling. Banyak tidaknya sangat relatif. Di dunia internet ini yang terjadi justru banjir informasi. Sekali mencari kata kunci dengan Google, ribuan bahkan jutaan entri yang keluar. Dari mana akan mulai? Seakan kesepian dalam belantara informasi yang tanpa petunjuk. Itulah ironi dunia IT sekarang ini. Maka yang diperlukan adalah guide yang akan memberikan petunjuk. Guide ini adalah seorang yang lebih tahu daripada kita terhadap masalah yang kita memiliki perhatian tersebut. Simpelnya, dosen dan pembimbing atau bisa juga rekan mahasiswa yang sudah bergelut lebih dulu dalam satu topik itu.

Sudah menjadi hal jamak, bahwa para peraih Hadiah Nobel pernah berguru pada peraih Hadiah Nobel yang lain. Circle of excellence terjadi dengan sendirinya, dan menjadi penting untuk merintis dapat memasuki dalam lingkaran tersebut. Mencari guru terbaik adalah kunci kedua dari kesuksesan mendapatkan ide segar. Siapa yang terbaik, semakin mudah dicari dengan internet. Beberapa mahasiswa saya yang cemerlang mendapatkan informasi mengenai saya melalui internet dan melamar bergabung dalam tim riset saya.

Terakhir, ide segar kadang lebih sering muncul dari orang baru. Dunia yang makin multidisplin membuat berbagai ide dapat diserap dari bidang yang mungkin sangat berbeda tapi dapat mengembangkan hal baru di bidang itu. Chip DNA lahir dari orang-orang IT yang jenuh dengan chip komputer dan bermain ke tetangga orang biotek yang kebingungan mencari cara menganalisa DNA secara bersama dalam jumlah besar. Maka dari itu, semakin banyak bergaul akan memberi wawasan yang luas.

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

CATATAN:  Tulisan ini adalah materi yang disampaikan sebagai pembicara undangan pada Seminar Ilmiah “Pesona Acara di Bidang Keilmuan (PADI)” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiwa Fakultas Pertanian UGM di Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta tanggal 6 Mei 2006.

Entry filed under: Riset & Pendidikan. Tags: .

Hasil Asian Games, Cermin Kebersamaan Bangsa Ahmadinejad dan Sampah Bandung


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: