Dari Porter ke Wee: SDM dan Manajemen Iptek Indonesia

January 14, 2008 at 10:53 pm

[Center for Indonesian Reform Web Portal, http://www.cir.or.id; Selasa, 5.12.2006; Oleh Arief B. Witarto] Michael Porter, Professor ekonomi ternama dari Harvard Business School hadir di Indonesia dan memberikan ceramah dan kuliah di depan Wapres dan beberapa menteri perekonomian serta para peserta seminar tentang “How to make Indonesia more competitive” tanggal 28-29 November 2006.

Seperti dilaporkan Kompas (28 dan 29/11/06), Porter menengarai kelemahan utama Indonesia ada pada 3 hal yaitu aturan yang terlalu panjang, ketidakcukupan infrastruktur dan kekurangan tenaga ahli alias sumber daya manusia/SDM yang belum mencapai jumlah kritis.

Rhenald Kasali, Direktur Program Magister Manajemen FE-UI, salah satu lembaga yang mengundang Porter, memperjelas solusinya yang dituangkan dalam artikelnya di Kompas (04/12/06) yaitu diperlukannya sistem perekonomian yang didukung orang-orang yang lentur, dengan mesin birokrasi yang adaptif.

Dalam kesempatan yang berbeda, Thee Kian Wee – staf ahli Pusat Penelitian Ekonomi-LIPI – pada upacara penerimaan Habibie Award kepadanya, menyatakan bahwa suatu bangsa dapat mencapai kemajuan dan keunggulan bila mampu memberdayakan dan memanfaatkan sumber daya manusianya, memelihara semangat berkompetisi yang tinggi dan menerapkan kebijakan yang tepat (Kompas, 01/12/06).

Dua pakar ini, Porter dan Wee, walau berbeda tempat dan kapasitas, tapi sama bidang keahlian yaitu ekonomi, mengatakan hal yang sama tentang Indonesia yaitu ekonomi yang ditunjang oleh pengetahuan dan pentingnya SDM di situ. Di Jakarta, Porter tak lupa menyuguhkan teori klasternya yang terkenal dalam menunjang perkembangan ekonomi baru yang penuh inovasi. Ekonomi baru/new economy yang menjadi andalan negara-negara dunia saat ini, ditopang oleh kemajuan teknologi yang pesat pada bidang teknologi informasi-komunikasi/TIK pada abad ini dan bioteknologi pada abad berikutnya.

Menggunakan kacamata analisis yang disebut Porter diamond dengan empat siku dalam menganalisis klaster yaitu siku kebutuhan, siku strategi dan persaingan usaha, siku industri terkait dan pendukung serta siku input, Porter memperkenalkan dengan mudah bagaimana Pemerintah suatu negara dapat mengejar kecepatan perkembangan ekonomi baru dengan meningkatkan produktivitas melalui pembentukan dan penguatan klaster.

Sebelum menganalis Indonesia seperti kesempatan di atas, Porter misalnya telah menganalisis negara yang jauh lebih besar ekonominya yaitu Jepang. Penulis berkesempatan menghadiri seminar Porter di Tokyo pada tanggal 1 Desember 2000 yang diselenggarakan oleh Graduate School of International Corporate Strategy-Hitotsubashi University, dimana Porter mengupas buku barunya, “Can Japan Compete?”.

Jepang jelas beda dengan Indonesia dalam jumlah SDM-nya yang sangat mencukupi dan infrastrukturnya yang sangat lengkap. Tapi Jepang juga dihadapi pada masalah aturan yang mengekang sehingga mengganggu kebebasan kreasi.

Dalam tulisan ini, penulis akan menyoroti masalah ketiga yaitu SDM saja dengan mencoba menarik benang merah pendapat tiga nara sumber di atas, Porter, Kasali dan Wee.

Dalam Porter diamond, SDM ini masuk dalam siku input. Potensi SDM Indonesia yang unggul, tidak usah diperdebatkan lagi. Kompas baru saja (03/12/06) meliput pencapaian orang Indonesia yang menjadi pengajar di universitas luar negeri. Tapi kenapa potensi itu hanya muncul ketika di luar negeri atau hanya menjadi harapan pada anak-anak muda kita yang berhasil menjadi juara olimpiade-olimpiade sains internasional? Adakah yang salah dengan lingkungan Indonesia yang seakan menyerap habis seluruh potensi tadi?

Porter sebagai nara sumber asing tentu tidak tahu banyak kondisi ini. Tapi Wee telah mengisyaratkan bahwa kita tidak mampu memberdayakan bahkan memelihara semangat SDM itu dengan satu kebijakan yang tepat. Jadi ada satu manajemen SDM yang salah fatal sehingga mengakibatkan potensi SDM Indonesia menjadi tidak memperlihatkan eksistensinya justru di tempat dan waktu dibutuhkan sesungguhnya.

Mari kita ambil contoh pada dua potensi ekonomi baru yaitu TIK dan bioteknologi. Pada akhir tahun 1980-an Indonesia mulai melek TIK sehingga jurusan-jurusan informatika, ilmu komputer dan sejenisnya menjadi favorit di perguruan-perguruan tinggi. Tapi ketika fajar TIK mulai condong, perkembangan teknologi sudah pada kurva saturasi, para pemenang persaingan TIK sudah nampak seperti India dan Finlandia, kita baru menyadari pentingnya digital divide. Pemerintah membentuk Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (11/11/06). Lembaga pendidikan pun masih terasa kurang sehingga Grup Kompas tergerak membentuk Universitas Multimedia Nusantara (20/11/06).

Sementara itu Bioteknologi yang berbasis pada sumber daya alam hayati, malah masih jadi anak tiri di negeri yang biodiversitasnya terkaya di dunia ini. DIKTI tak mengijinkan pembentukan program studi dengan nama bioteknologi untuk jenjang S-1 karena akar ilmunya dianggap tidak jelas. Sementara Malaysia malah menyediakan jurusan bioteknologi di fakultas sains, fakultas teknik, fakultas kedokteran, dsb. PM Ahmad Badawi tidak segan bicara pentingnya bioteknologi yang dimuat di halaman pertama website MOSTI, RISTEK-nya Malaysia.

Ironisnya di Indonesia, RISTEK hanya punya jabatan yang menyandang nama bioteknologi di tingkat eselon III, Kepala Bidang Biologi dan Bioteknologi di bawah Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kehidupan yang juga di bawah Deputi Urusan Perkembangan RIPTEK/Riset, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Untuk TIK masih lumayan, karena ada eselon I yaitu Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi yang mengurusinya.

Kalau yang mengurusinya saja tidak ada, jangan harapkan dukungan dan dana jadi memadai. Maka dari itu untuk Bioteknologi misalnya, walau Indonesia sudah memulai sejak tahun 1980-an dengan pendirian pusat studi bioteknologi di universitas, lembaga riset bioteknologi di lembaga penelitian pemerintah sampai kepada konsorsium bioteknologi yang menggabungkan potensi pemerintah dan swasta, semangatnya kembang kempis.

Dengan perjalanan yang sudah cukup panjang itu sebenarnya embrio-embrio klaster bioteknologi seperti diprediksi dengan Porter diamondmulai terbentuk. Kawasan Cibinong-Bogor-Serpong yang berada dalam radius 20 km memiliki seluruh potensi klaster yang diperlukan mulai dari lembaga penelitian (LIPI,IPB,DEPTAN,CIFOR,SEAMEO BIOTROP,BPPT,BATAN), lembaga pendidikan (IPB dan universitas-universitas swasta disekelilingnya), industri (pangan,tekstil,kimia,farmasi), dll (Arief Witarto, Seminar Klaster di RISTEK, 06/12/05).

Selanjutnya tinggal bagaimana pemerintah pusat dan daerah membentuk aturan yang menggairahkan, infrastruktur yang memadai (jalan bebas hambatan, kawasan industri, dll) di area ini.

Argumen Kasali bahwa diperlukan orang-orang yang lentur, dengan mesin birokrasi yang adaptif, bisa disalah mengertikan dengan perlu lebih banyak kebijakan. Padahal kebijakan di Indonesia telah jadi kambing hitam munculnya KKN. Salah kaprah ini bermula dari kebijakan yang tidak dilakukan oleh orang yang tepat, yang tidak tahu permasalahan. Jadi akhirnya kembali lagi kepada SDM pemimpin/leaderyang punya visi, bukan sekedar manajer yang menjalankan business as usual asal sesuai prosedur.

Apakah manajemen SDM kita misal di tingkat lembaga riset, benar? Sebuah lembaga riset di embrio klaster bioteknologi Indonesia di Bogor misalnya, pada lembaga setingkat eselon II bisa memiliki 100-an staf dimana setengahnya adalah staf peneliti. Dari 50-an peneliti, yang bergelar Doktor bisa mencapai 25% lebih dan itu juga lulusan luar negeri. Artinya, potensinya luar biasa. Tapi sangat sedikit publikasi sebagai bukti inovasi globalnya yang dapat ditemui di jurnal internasional.

Manajemen SDM Iptek yang tidak beda dengan manajemen kantor administrasi, adalah salah satu sebabnya. Tapi sebenarnya kita punya model yang berhasil dikembangkan dengan manajemen di luar kotak. Ambil contoh misalnya Lembaga Biologi Molekul Eijkman yang berada di bawah pengelolaan RISTEK. Hanya dengan belasan peneliti tetap yang dibantu teknisi-teknisi berpendidikan S-1, S-2, Eijkman telah mengangkat nama Indonesia di dunia.

Selain manajemen yang lentur khas perkembangan sains, Eijkman berkembang dari nol dengan pesat karena di bawah arahan orang yang tepat, yaitu Sangkot Marzuki yang telah mengenyam pengalaman manajemen di perguruan tinggi Australia. Ternyata kita bisa juga. Sekarang tentunya apakah kita mau mengadopsi keberhasilan kecil itu menjadi keberhasil kolektif melalui manajemen yang sejenis.

Jadi pada akhirnya seperti diungkap Kasali yang mengutip keterangan Porter, “Kalau orang-orang Indonesia diminta membuat daftar persoalan pokok yang dihadapinya, pasti semua sudah tahu dengan benar.” Tinggal bagaimana mau menjalalankannya.

Entry filed under: Bioisland & Klaster, Bioteknologi & Industri, Riset & Laboratorium, Sains & Politik. Tags: .

Kebebasan dan Etika Ilmu Pengetahuan 100 Tahun Hadiah Nobel


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: