Ahmadinejad dan Sampah Bandung

January 14, 2008 at 9:08 pm

[Berita Iptek, Rabu, 9 Agustus 2006; Oleh Arief B. Witarto] Bulan Mei lalu dua peristiwa istimewa terjadi di Indonesia yaitu kunjungan Presiden Iran Ahmadinejad dan sampah Bandung yang sudah berbulan-bulan tidak dibersihkan. Keduanya memiliki dimensi yang sama pada permasalahan teknologi. Seperti diberitakan, Presiden Iran Ahmadinejad dalam kuliahnya di Universitas Indonesia dan Universitas Islam Indonesia menekankan pentingnya penguasaan teknologi. Iran bertahan mati-matian untuk meneruskan program pengayaan uraniumnya sebagai upaya kemandirian teknologi untuk memproduksi energi listrik, bukan untuk membuat bom nuklir. Tapi negara Barat selalu tidak menyukai bila negara (berkembang) lain punya teknologi maju – apalagi negara yang mayoritasnya Muslim – sehingga akan ditentang habis-habisan dengan segala cara. Dengan demikian, di hadapan para calon ilmuwan muda Indonesia, para mahasiswa tersebut, Ahmadinejad memberikan contoh tentang pentingnya penguasaan dan kemandirian teknologi.

Di lain pihak, Bandung sudah tidak menjadi “lautan api” lagi, tapi “lautan sampah” Di kota Bandung yang pernah mendapat julukan kota kembang, sekarang ada 190-an tempat di pinggir-pinggir jalan yang menjadi tumpukan sampah, bahkan ada yang sampai setinggi 4 meter. Sepanjang jalan Cihampelas yang terkenal sebagai outlet pakaian pun, sekurangnya ada 2 lokasi penumpukan sampah dengan bau yang menyengat. Inilah ironi Indonesia! Bandung adalah bumi teknologi Indonesia. ITB adalah gudangnya pakar teknologi negara ini. Bahkan karena itu pulalah, rektor ITB waktu itu ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi, posisi manajerial tertinggi untuk penguasaan dan kemandirian teknologi di negeri ini. Menristek Kusmayanto Kadiman juga nampak terus menempel kehadiran Presiden Ahmadinejad untuk memberikan sinyal bahwa kunjungan Presiden Iran ini adalah kunjungan promosi pentingnya teknologi.

Apa sulitnya teknologi pengolahan sampah? Insinerator jelas tidak secanggih reaktor nuklir. Di UI Ahmadinejad menandaskan “nuklir merupakan teknologi yang paling canggih”. Ada dua kemungkinan yang menyebabkan munculnya ironi seperti ini.

Pertama, pejabat Pemerintah yang tidak perduli. Ketidak acuhan pejabat Pemerintah terhadap kemajuan teknologi dan kemungkinan penggunaannya, bukan monopoli Indonesia saja. Prof. Dr. Paul Crutzen penerima Hadiah Nobel Kimia 1995 atas penemuan efek ozon terhadap pelubangan atmosfir, dalam Diskusi Panel bertopik Pemanasan Global di Pertemuan Para Penerima Hadiah Nobel di kota Lindau-Jerman, 29 Juni 2005 memperlihatkan kepada hadirin mengenai krisis pemanasan global yang makin mencekam ini melalui data-data yang akurat. Para panelis lain yang semua juga para peraih Hadiah Nobel di bidang Kimia dan Fisika pun mengamininya. Bahkan salah satunya, Prof. Dr. Harold Kroto (Hadiah Nobel Kimia 1996) menegaskan bahwa ilmuwan harus bergerak melawan kejumudan pejabat Pemerintah seperti penolakan Pemerintah AS di bawah pimpinan Presiden Bush terhadap Protokol Kyoto yang selama Presiden sebelumnya, Clinton telah didukung.

Dalam sessi Diskusi Panel lain bertopik Teknologi Kloning, penerima Hadiah Nobel Kedokteran 1995, Prof. Dr. Christiane Nusslein-Volhard menyayangkan pemerintahnya sendiri, pemerintah Jerman yang memberikan larangan pengembangan teknologi kloning terapi melalui teknik sel tunas karena masalah etika. Akibatnya, para ilmuwan Jerman yang bergerak di bidang ini harus bermigrasi ke negara-negara tetangga seperti Inggris bila ingin mengembangkan ilmunya tersebut. Lagi-lagi, ilmuwan dunia sekaliber peraih Hadiah Nobel pun merasa putus asa di hadapan pejabat Pemerintah yang lebih mementingkan dukungan politis pada kekuasaannya. Misal, Presiden Bush yang didukung oleh para pengusaha minyak dan Pemerintah Jerman yang dipengaruhi partai-partai Kristen-Katolik. Sebuah film Hollywood berjudul “The Day After Tomorrow” yang beredar beberapa tahun lalu, mengisahkan dengan jelas konflik pejabat dan ilmuwan tersebut. Dalam film tersebut, pejabat Pemerintah yang diwakili oleh Wakil Presiden Becker dengan ketus mengatakan “Anda tetap berkubang di ilmu pengetahuan saja, dan kebijakan adalah urusan kami” kepada ilmuwan cuaca purba Prof. Dr. Jack Hall yang memperingatkan gejala kerusakan iklim dunia.

Kembali ke Indonesia, setidaknya Presiden kita sekarang adalah Doktor berkat penelitian bukan penghargaan. Tapi gregetnya pada penguasaan teknologi untuk kemandirian masih jauh kurang dibanding kolega sesama Doktor yang menjadi tamunya sekarang, Presiden Ahmadinejad. Tahun Ilmu Pengetahuan di Indonesia yang dicanangkan sejak 2005 lalu, nampak kurang mendapat perhatian besar dari Pemerintah. Ada dua Menteri dalam Kabinet sekarang yang penulis ketahui, sebelumnya adalah seorang ilmuwan yang gigih. Penulis merasa beruntung dapat mengunjungi Lab Flavour Dr. Anton Apriyantono tahun 2002 dan melihat langsung bagaimana lab dengan peralatan sederhana dapat menghasilkan banyak publikasi ilmiah di jurnal dan buku internasional, tak lain berkat kecerdasan dan kegigihan penelitinya. Penulis juga merasa senang pernah berkenalan dengan Dr. Siti Fadilah Supari ketika duduk bersama menjadi panel penelaah proposal dan Riset Unggulan Terpadu-RISTEK bidang Kesehatan tahun 2003. Tapi penyelesaian wabah flu burung yang menjadi bagian tugas Mentan dan Menkes yang sekarang masing-masing dijabat keduanya, kenapa belum benar-benar tuntas berkat kemajuan teknologi yang ada? Sementara dalam kongres internasional Asia Medical Forum di Singapura 3-4 Mei 2006 lalu, jelas sekali Vietnam berhasil menanggulangi wabah flu burung berkat kerjasama erat antar lembaga-lembaga di dalam negeri dengan kemampuan sendiri. Sementara Indonesia hanya duduk sebagai penonton dan terus bergantung pada uluran tangan luar negeri untuk penanganannya. Penulis hanya dapat berbaik sangka, semoga kedua ilmuwan yang menjadi pejabat Pemerintah tersebut, bukannya melupakan pentingnya penguasaan dan kemandirian teknologi seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya, tapi sekedar mencari waktu untuk dapat melakukan perubahan di dalam.

Kalau kondisi di Pemerintah Pusat saja seperti ini, bagaimana dengan di Pemerintah Daerah seperti Pemkot Bandung. Seperti diberitakan di Koran Tempo itu, para pejabat nampak segera berusaha mengantisipasi dengan memesan pembuatan insinerator ke PT DI. Seperti juga dalam kasus flu burung, penanganan masalah di Indonesia, lebih banyak bersifat reaksioner, bukan perencanaan strategis. Padahal teknologi bukan sesuatu yang bersifat instan, tapi perlu perencanaan yang matang. Kalau tidak, persis seperti diakhir film The Day After Tomorrow tersebut, setelah perubahan iklim yang terjadi sangat mendadak menelan banyak korban, barulah pemerintah mulai mendengarkan kata ilmuwan yang telah memperingati, 鉄eandainya Anda mau mendengar ucapan ilmuwan, pasti akan dapat melakukan perubahan dari awal・

Kemungkinan kedua munculnya ironi Indonesia adalah sikap ilmuwan sendiri yang merasa nyaman di menara gading. Yang ini nampaknya khas ilmuwan Indonesia. Penulis menyaksikan para peraih Hadiah Nobel pun, tidak segan menggandeng pemain bola, anak-anak SD untuk turut serta dalam sosialisasi perkembangan ilmu yang dicapainya, seperti dilakukan oleh Prof. Dr. Harold Kroto. Beberapa peraih Hadiah Nobel juga tak segan untuk menggunakan segala cara untuk membuat yang sulit jadi mudah dimengerti, yang jauh menjadi terasa dekat. Prof. Dr. Kurt Wuthrich (Hadiah Nobel Kimia 2002) menggunakan ikat pinggangnya untuk menjelaskan pelipatan rantai polipetida, Prof. Dr. Frank Wilczek (Hadiah Nobel Fisika 2004) menggunakan kaus hitam bertuliskan rumus-rumus fisika sepanjang acara untuk meyakinkan pada pentingnya formula buatannya. Semua itu penulis saksikan dalam acara Pertemuan Para Penerima Hadiah Nobel di Lindau, 26-30 Juni 2005.

Sebaliknya ilmuwan Indonesia, tidak sedikit yang merasa enggan bicara di hadapan acara-acara yang digelar mahasiswa. Telat datang atau presentasi yang a la kadarnya adalah bentuk-bentuk kurang apresiasi yang lazim ditampakkan. Topik-topik riset yang membumi atau yang dibumikan, lebih banyak dikerjakan oleh penelitian mahasiswa daripada ilmuwan yang lebih suka menunggu topik riset yang dananya sudah kelihatan besar dan menjanjikan posisi. Tidak ada solusi bagi masalah kedua ini kecuali penyadaran bersama di antara para ilmuwan Indonesia. Hal seperti ini tidaklah mustahil. Setidaknya di tingkat Dunia, para ilmuwan sudah lazim bergabung dalam moratorium misalnya untuk kesadaran pribadi mengekang pengembangan ilmu sementara waktu sebelum kelihatan manfaatnya. Forum-forum ilmuwan seperti ini perlu diperbanyak di Indonesia.

Terakhir, kunjungan Presiden Iran yang diangkat terus tentang kesahajaan penampilannya, perlu menjadi pelajaran pula dari kemandirian dan kekukuhannya sebagai seorang ilmuwan, terhadap pengembangan teknologi dalam negeri. Jangan sampai ironi Bandung kota kembang, kota pengetahuan tapi menjadi lautan sampah, kembali terjadi.

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

Entry filed under: Riset & Pendidikan, Sains & Politik. Tags: .

Dicari, Ide Segar Selamat Datang Kepala BPPT yang Baru


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: