“Sumbangan” Bush untuk Sains Dunia ?

January 13, 2008 at 8:58 am

[Berita Iptek, Selasa, 24.4.2007; Oleh Arief B. Witarto] Presiden AS, George Walker Bush telah datang ke Indonesia, 20 November 2006 yang lalu. Dengan segudang harapan, Pemerintah pun antara lain menggelar pertemuan Bush dengan 9 wakil Indonesia dari berbagai profesi antara lain bidang sains yang diwakili dari BPPT dan LIPI. Sebenarnya seberapa pedulikah Bush terhadap sains? Ini perlu diperhatikan sebelum kita berharap hasil positif dari pertemuan itu khususnya untuk pengembangan bidang sains di Indonesia. Presiden AS, George Walker Bush datang ke Indonesia, 20 November 2006 yang lalu. Dengan segudang harapan, Pemerintah pun antara lain menggelar pertemuan Bush dengan 9 wakil Indonesia dari berbagai profesi antara lain bidang sains yang diwakili dari BPPT dan LIPI. Sebenarnya seberapa pedulikah Bush terhadap sains? Ini perlu diperhatikan sebelum kita berharap hasil positif dari pertemuan itu khususnya untuk pengembangan bidang sains di Indonesia.

Pesaing Bush pada pemilihan Presiden yang dimenangkannya pertama kali adalah Albert Arnold Gore, Jr. atau yang lebih dikenal dengan nama singkat Al Gore. Al Gore adalah wakil presiden periode sebelumnya, mendampingi Clinton selama dua periode. Selama menjabat jadi wakil presiden AS tahun 1992-1996 dan 1996-2000, kontribusi Al Gore terhadap sains, tidak hanya di AS tapi juga dunia, sangat signifikan. Dua contoh yang paling mewakili adalah Kyoto Protocol dan Pubmed.

Kyoto Protocol adalah kesepatakan internasional pertama di dunia yang mencoba memerangi pemanasan global. Lebih dari 140 negara telah menandatangani pakta yang berlaku sejak tahun 2005 dan akan habis sampai 2012 ini. Hanya sebagian kecil negara yang tidak menandatanganinya termasuk AS dan Australia. Tetapi ketika Pemerintahan AS di bawah Clinton, AS sebenarnya adalah pendukung utama Kyoto Protocol dan Al Gore adalah tokoh di belakangnya.

Al Gore dikenal sebagai pencinta lingkungan hidup. Sejak masih jadi anggota DPR tahun 1978-1979, Al Gore mendukung dengar pendapat tentang limbah beracun dan ketika sudah menjadi anggota Senat, Al Gore juga menyelenggarakan dengar pendapat tentang pemanasan global tahun 1980-an. Al Gore bahkan sampai menerbitkan buku berjudul Earth in the Balance: Ecology and the Human Spirit pada tahun 1992. Tidak mengherankan kemudian apabila ada upaya dunia internasional memerangi pemanasan global, Al Gore berdiri di depan untuk turut serta menyukseskannya pada tahun 1997.

Tapi seperti kemudian sejarah mencatat, Bush yang menjadi Presiden tahun 2000, segera menarik keterlibatan AS mulai tahun 2001. Alasan yang dikemukakan Bush adalah perekonomian AS yang akan terganggu bila mengikuti perjanjian ini. Bahkan Bush mempertanyakan kebenaran dari bukti-bukti ilmiah pemanasan global. Pada diskusi panel berjudul Energy Shortfall and Global Warming di Nobel Prize Winners Meeting di kota Lindau-Jerman, 29 Juni 2005 yang dihadiri penulis, para panelis yang semuanya peraih Hadiah Nobel yaitu Nicolas Bloembergen (Hadiah Nobel Fisika 1981), Paul Crutzen (Kimia 1995), David Gross (Fisika 2004), Harold Kroto (Kimia 1996) dan Sherwood Rowland (Kimia 1995) memaparkan bukti-bukti ilmiah yang sangat menyakinkan tentang terjadinya pemanasan global.

Misalnya Rowland dari University of California at Irvine-AS menyitir temuan ilmuwan AS bernama CD Keeling di Hawaii yang menemukan peningkatan kadar gas karbondioksida dari 315 ppm di tahun 1958 menjadi 380 ppm tahun 2005. Pada sesi lain, ilmuwan AS, Douglas Osheroff (Fisika 1996) yang bulan November 2005 lalu datang ke Indonesia, sebelum memulai ceramahnya yang berjudul Global Warming and Energy Policy in the 21st Century sambil bercanda mengatakan “apakah ada mata-mata di sini?”, sebab ceramahnya yang dipenuhi peserta itu juga dihadiri oleh staf dari US Department of Energy.

Mungkin karena saking gemasnya publik AS terhadap sikap Bush yang lebih membela kepentingan ekonomi daripada bukti sains itu, Hollywood pun memproduksi film yang mengundang banyak perhatian berjudul The Day After Tomorrow pada tahun 2004. Film yang disutradarai oleh Roland Emmerich ini mengisahkan terjadinya akibat pemanasan global berupa kehancuran iklim yang mengakibatkan badai hebat, suhu yang sangat dingin dan meluapnya air laut ke daratan di belahan bumi utara khususnya AS yang mengakibatkan penduduk AS harus mengungsi ke Meksiko.

Dalam film itu, seorang ilmuwan AS bernama Jack Hall telah memperingatkan Wakil Presiden AS bernama Becker pada sebuah konferensi PBB tentang pemanasan global di New Delhi. Hall berkata, “With all due respect Mr. Vice President, the cost of doing nothing could be even higher. Our climate is fragile. At the rate we`re burning fossil fuels and polluting the environment, the ice caps will soon disappear”. Tapi Wapres Becker dengan enteng menjawab, “Professor Hall, our economy is every bit as fragile as the environment. Perhaps you should keep that in mind before making sensationalist claims”. Sampai ketika gejala-gejala perubahan iklim terjadi dengan munculnya badai besar di beberapa bagian AS dan ilmuwan Hall mengingatkan untuk mengungsikan warga AS ke Meksiko, Wapres Becker menegaskan, “Maybe you should stick to science and leave policy to us”. Sehingga kemudian pejabat NOAA yang menjadi atasan Hall, bernama Tom pun membela dengan mengatakan, “You didn`t want to hear about the science when it could have made a difference”.

Demikianlah, walaupun hanya film fiksi, kiranya The Day After Tomorrow dapat menggambarkan sikap yang sebenarnya dari Pemerintahan Bush. Film dengan biaya pembuatan 125 juta dollar AS ini menghasilkan pendapatan 542 juta dollar AS dan tercatat sebagai film nomer 37 dengan pendapatan terbesar sepanjang sejarah.

Sebuah film Hollywood lain menggambarkan manfaat dari sains yang didukung oleh Al Gore. Film berjudul Lorenzo’s Oil yang dibuat tahun 1992 oleh strudara George Miller ini mengisahkan seorang Bapak yang bekerja sebagai bankir mencoba menyelamatkan nyawa anaknya yang menderita penyakit misterius bernama ALD. Kegigihan Bapak bernama Augusto Odone ini bermula dari mencari informasi melalui perpustakaan kedokteran di National Institute of Health/NIH-AS tentang segala kemungkinan penyebab penyakit itu sampai kemudian mendapatkan obatnya dari pemahaman mekanisme penyakit genetik itu. Sejenis minyak yang menjadi obat itu pun diberi nama Lorenzo sesuai nama anaknya yang sakit. Akhirnya Bapak yang bankir itu pun sampai mendapat gelar dokter karena perjuangannya itu. Film ini berdasar kisah nyata sepasang orang tua di Virginia-AS yang benar-benar mencari informasi dari perpustakaan NIH.

National Library of Medicine/NLM, perpustakaan milik NIH itu sebelumnya mendistribusikan kumpulan buku dan publikasinya dalam bentuk CD dari abstrak-abstrak dan judul yang direkam. Ketika penulis berada di Tokyo University of Agriculture and Technology sejak tahun 1990, perpustakaan universitas menyimpan 20-an lebih keping CD berjudul Medline hanya untuk satu tahunnya dari NLM-NIH. Tentu saja, untuk mendapatkannya harus membayar mahal sehingga sangat jarang perpustakaan Indonesia memilikinya.

Tapi ketika era internet tiba, Al Gore mendorong penerbitan Medline melalui internet yang dapat diakses gratis dari seluruh dunia. Lahirlah Pubmed, versi on-line free access dari Medline yang diresmikan pada bulan Juni 1997. Beralamatkan di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez, Pubmed menjadi andalan perkembangan ilmu kesehatan dan hayati di dunia sekarang.

Seluruh informasi medis termasuk peta genom manusia, disediakan gratis bagi seluruh masyarakat di dunia. Sehingga mahasiswa-mahasiswa kita dari pelosok negeri, bermodal akses internet dari warnet pun berpotensi mendapatkan “Lorenzo’s Oil” berikutnya. Untungnya, Bush sampai saati ini tidak mematikan jasa Pubmed ini karena mungkin dampak ekonominya tidak besar. Toh digital divide dalam bentuk paling dasar yaitu akses internet yang cepat saja masih jadi masalah di negara-negara berkembang.

Bila dua hal di atas menjadi simbol Pemerintahan AS sebelum Bush yang sangat mendorong perkembangan sains, maka Bush justru sebaliknya. Mulai dari penarikan diri dari Kyoto Protocol (2001) sampai kepada pelarangan pemberian dana untuk penelitian sel tunas/stem cell (Juli 2006), kontribusi Bush terhadap sains sangat minim. Kepentingan politis dari siapa yang memberikan dukungan kepadanya, senantiasa lebih didahulukan daripada data ilmiah dan saran jernih ilmuwan seperti potongan kalimat dalam film The Day After Tomorrow di atas.

Dalam lingkup internal AS, kebijakan-kebijakan Bush banyak menggerahkan ilmuwan AS sendiri. Sehingga kumpulan ilmuwan AS yang tergabung dalam Union of Concerned Scientists/UCS pun membuat petisi pada Februari 2004 berjudul “Restoring Scientific Integrity in Policymaking” yang mengkritik keras kebijakan Bush terhadap sains. Tidak main-main, petisi ini ditandatangani oleh ratusan ilmuwan AS yang di antaranya adalah 49 penerima Hadiah Nobel, 63 penerima Medali Sains Nasional-penghargaan tertinggi buat ilmuwan di AS dan 175 anggota National Academy of Sciences/Technology, semacam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia/AIPI di Indonesia yang disegani.

Dalam pembukaan petisi itu, UCS secara ironis mengutip ungkapan dari Bapak Presiden Bush sendiri yaitu George Herbert Walker Bush ketika masih menjadi Presiden AS pada bulan April 1990 (George HW Bush menjabat Presiden AS tahun 1989-1993). Kutipan itu berbunyi, “Science, like any field of endeavor, relies on freedom of inquiry; and one of the hallmarks of that freedom is objectivity. Now, more than ever, on issues ranging from climate change to AIDS research to genetic engineering to food additives, government relies on the impartial perspectives of science for guidances”. Para ilmuwan itu menyesalkan, di bawah Presiden Bush yang sekarang, banyak kebijakannya justru bertentangan dengan keyakinan Bapaknya akan the guidance of science.

Dalam petisinya mereka mencontohkan, ketika rekomendasi sains bertentangan dengan kebijakan pemerintah, maka pemerintah menolaknya dengan mengganti pejabat pemerintah yang bertanggungjawab dengan mereka yang tidak profesional atau yang malah punya konflik dengan masalah itu. Misalnya pejabat di Environmental Protection Agency/EPA. Tentu saja petisi ini mengundang gelombang perhatian yang besar karena ditandatangani oleh ilmuwan-ilmuwan top AS sendiri.

Tapi bukan Bush namanya kalau tidak bisa mengelak. Melalui penasihat sainsnya, John Marburger, pemerintahan Bush mengaku telah memberikan dukungan besar terhadap sains seperti melipatgandakan anggaran riset. Tapi ternyata banyak anggaran itu justru mengalir untuk proyek-proyek mercusuar seperti ke NASA untuk eksplorasi Mars dan Bulan. Sementara lingkungan hidup di Bumi sendiri malah ditelantarkan.

Dengan demikian, kontribusi Bush terhadap sains bisa dibilang sangat minim. Bila untuk negaranya sendiri saja Bush lebih peduli siapa yang mendukung kebijakan politiknya daripada “bimbingan sains”, maka kunjungan tempo hari ke Indonesia, tak banyak bisa diharapkan untuk pengembangan sains kita. [*]

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

Entry filed under: Sains & Politik. Tags: .

Peneliti Muda Berprestasi Internasional: Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng. Menjembatani Industri dan Peneliti


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: