Protein Rokok Yang Bikin Rasa Nyaman

January 13, 2008 at 8:50 pm

[Berita Iptek, Kamis, 30.12.2004; Oleh Arief B. Witarto] Buat Anda para perokok, sopir angkot yang sedang mengemudi maupun anggota legislatif yang sedang melobi, sesekali-sekali sambil menghirup aroma kejantanan serta keberanian yang ditawarkan produsen rokok Anda, bayangkanlah apa yang terjadi di dalam tubuh Anda.

Bagi para pecinta rokok, efek menyenangkan seperti perasaaan tenteram dan lebih bisa konsentrasi sangat diharapkan dari setiap hisapan bakaran batang rokok. Kita semua sekarang tahu, efek ini disebabkan oleh senyawa kimia jenis alkaloid bernama nikotin. Senyawa alkaloid umum terdapat pada seluruh daun tumbuhan, hanya saja nikotin memang banyak terdapat pada tembakau. Makanya tidak ada ceritanya orang merokok dengan daun pisang atau daun singkong, sudah pasti pakai daun tembakau.

Bersama hisapan asap rokok, nikotin yang menjadi gas itu masuk ke paru-paru penghirupnya dan hanya dalam waktu tiga detik sudah sampai ke otak. Bukan karena nikotin hebat sehingga bisa demikian cepat, tapi karena paru-paru adalah tempat gas oksigen yang penting untuk hidup, diserap oleh tubuh melalui darah. Otak bagaikan mesin yang harus hidup terus dengan suplai bensin, sehingga oksigen termasuk gas-gas lain seperti nikotin segera dikirim ke otak lewat aliran darah. Apa yang terjadi selanjutnya di dalam otak sehingga “si kecil” nikotin bisa membuat “perbedaan besar” berupa rangsangan-rangsangan kenikmatan?

Sel syaraf dalam otak dipenuhi berbagai protein bernama reseptor yang mengenali bermacam sinyal yang masuk ke dalam otak. Salah satu protein reseptor ini adalah nicotine acetylcholine receptor, disingkat nAChR. Protein ini aslinya hanya mengenali sinyal yang secara alamiah sudah ada dalam otak kita yaitu acetylcholine. Protein nAChR seperti pintu jalan tol yang terbuka sehingga mobil bisa lewat kalau pengemudi mengambil kartu pas. Protein ini membuka “pintunya” sehingga ion-ion bermuatan positif seperti kalsium bisa masuk ke dalam sel syaraf yang akhirnya melahirkan rangsangan-rangsangan fisiologis di atas, bila berikatan dengan acetylcholine. Rupanya nikotin dapat pula menjadi sinyal pembuka protein nAChR ini.

Seperti pintu yang memiliki engsel, daun dan komponen lainnya, protein nAChR juga terdiri dari 5 komponen protein yang disebut subunit yaitu subunit alfa dan subunit beta. Sampai saat ini, diketahui ada 12 jenis subunit yaitu alfa 2,3, ・0 dan beta 2, 3 dan 4. Dengan kombinasi 12 komponen itu, bermacam nAChR dapat dibentuk dengan berbagai sifat berbeda. Kalau bukan karena pentingnya urusan rokok-merokok ・kabarnya orang terkaya Indonesia adalah pengusaha rokok ・para doktor dan dokter dengan bermacam ilmu modern yang sulit dan rumit dari berbagai penjuru dunia, akhirnya bisa menentukan subunit mana yang dipengaruhi oleh nikotin. Kesimpulannya protein nAChR yang dibentuk dari subunit alfa 4 dan beta 2-lah yang paling peka terhadap sinyal nikotin.

proteinperokok.jpg
Gambar. Ilustrasi protein nAChR (Sumber Science 5 November 2004, hal.983)

Bagaimana membuktikannya?

Pertama dibuat percobaan dengan tikus yang telah “dimatikan” ・bahasa ilmiahnya di-KO ・gen subunit beta 2-nya. Membuat “tikus KO” tidaklah mudah. Teknologinya sudah dipatenkan tahun 1980-an tapi di Indonesia belum ada yang bisa melakukannya sampai sekarang. Hanya dengan cara sulit seperti inilah orang-orang pintar yang tidak merokok (kebanyakan peneliti Barat tidak merokok) itu bisa yakin kalau tanpa komponen ini, si tikus jadi tidak peka lagi terhadap nikotin. Hasil penelitian ini dilaporkan tahun 1998 oleh Picclotto dkk. Dalam percobaan jangan dibayangkan, tikus itu sepandai Micky Mouse sehingga dapat menghisap rokok sendiri, tapi nikotin disuntikkan ke dalam tubuhnya.

Supaya lebih lengkap dan mantap, pembuktian komponen subunit alfa 4 dilakukan dengan cara berbeda yaitu bukan “dilemahkan” tapi lawannya yaitu dibuat “lebih ganas”. Peneliti lain, Tapper dkk tanggal 5 November lalu menyampaikan hasil pekerjaannya dengan tikus yang subunit alfa 4-nya telah dirubah salah satu asam amino penyusunnya yaitu Leucine no.4 menjadi Alanine. Apa yang terjadi? Tikus hasil mutasi itu 40 kali lebih peka terhadap nikotin daripada yang normal. Jadi nikotin yang menyelinap lewat jalan gas oksida sampai ke otak, dengan pintar akan memilih hanya protein nAChR dengan komponen subunit alfa 4 dan beta 2.

Selesaikah penelitian protein perokok dengan temuan baru ini? Rupanya belum. Para perokok sadar benar, rangsangan bau rokok sungguh berbeda tiap orang. Rupanya protein nAChR termasuk yang banyak terdapat mutasi secara alami. Suku mana suka rokok kretek yang berat dan suku mana yang demen rokok eksekutif yang ringan, perlu dibuktikan sampai jelas oleh para ilmuwan. Jangan-jangan orang yang sudah cukup merokok sebatang dengan yang perlu sebungkus sehari, berbeda protein nAChR-nya.

Buat para perokok, sembari menunggu 3 detik isapan nikotin sampai ke otak Anda, sesekali resapi juga ilmu protein perokok ini. Ingat rokok, ingat nikotin. Ingat nikotin, ingat protein nAChR. [*]

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

Entry filed under: Rekayasa Protein. Tags: .

Komunikasi dalam Sel, Siapa yang Mengatur Semuanya? Kiat Bisa Studi di Jepang (1/2)


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: