Prestasi Mereka Mendunia

January 13, 2008 at 7:18 am

Tembakau untuk Obat

[Majalah Suara Hidayatullah, September 2006, hal. 73-76; Oleh Ahmad Damanik] [Download file PDF 1.058 KB] Dr. Aref Budi Witarto, M.Eng. pernah mendapat kehormatan mewakili Indonesia dalam acara pertemuan ilmiah dengan para penerima Hadiah Nobel di Jerman pada Juli 2005. “Selama ini Indonesia tak terlalu dianggap oleh komunitas ilmuwan dunia”, kata pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan ini. Hanya kala itu Indonesia diperkankan mengirimkan perwakilannya.

Agar bisa terpilih sebagai wakil Indonesia, Arief harus melewati seleksi ketat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Alhamdulillah, saya mendapat peringkat pertama, ” kata Arief.

Dalam usia 29 tahun, Arief telah menerima gelar Doktor dari Departemen Bioteknologi, Fakultas Teknik, Tokyo University of Agriculture and Technology atas beasiswa Science and Technology Manpower Development Program (STMDP).

Selain penghargaan tadi, bapak empat anak ini juga menerima penghargaan Adhicipta Rekayasa Award (2005) dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) atas gagasannya memadukan bioteknologi kedokteran dengan pertanian. Ia berusaha menjadikan tanaman tembakau sebagai bahan baku obat.

“Kalau program ini berhasil, petani tembakau tidak lagi harus bergantung kepada pengusaha rokok”, katanya.

Arief juga menerima penghargaan Paramadina Award 2005, ITSF Award tahun 2004 dan PPMI X Bidang Teknik dan Rekayasa tahun 2002.

***

Usir Jenuh dengan Tidur dan Game
Bergelut dengan rutinitas kadang membawa kejenuhan. Perlu cara menyiasatinya.

Sejak masih kuliah di Jepang, Dr. Arief Budi Witarto, wakil Indonesia dalam pertemuan ilmiah dengan para penerima penganugerahan Hadiah Nobel di Jerman pada Juli 2005, aktif pada Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). “Di lembaga itu saya menjadi ketua bidang sosial. Saya juga menjadi ketua bidang ilmiah”, kenangnya.

Tak cuma aktif di PPI, Arief juga menjabat sekretaris pada organisasi pelajar Islam, Muslim Student Association (MSA).

Rupanya, inilah kiat Arief mengusir kejenuhan berkarya, “Kita perlu mengasah sisi otak yang lain, ” kata Arief.

Setelah tinggal di Indonesia, Arief tak terlalu aktif lagi di organisasi. Justru ia mulai menyalurkan hobinya semasa SMA, naik gunung. “Waktu SMA, saya ikut pecinta alam. Saya sering, naik gunung”, kenang penyandang Generasi Muda Paling Berpengaruh versi Majalah Gatra, Agustus 2003, ini.

Sambil naik gunung, Arief meneliti tanaman Kantung Semar yang banyak terdapat di pegunungan. “Habisnya kalau tidak dengan alasan penelitian, saya tidak punya kesempatan naik gunung, ” aku Arief yang 2 tahun lalu mendaki Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat ini.

Untuk olah raga, Arief paling suka bulu tangkis. Tapi itu dulu. “Sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Kalau ada waktu kosong, saya bermain dengan empat anak saya”, katanya.

Olah raga bulu tangkis sudah ia jalani sejak masih duduk di bangku SD. Bahkan, ia pernah mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pentas nasional.

Saking seringnya bermain bulu tangkis, Arief menemukan filosofi olah raga tersebut. “Kalau kita main bulu tangkis dengan teknik menyerang, tapi bola masih balik, maka harus segera ganti dengan teknik lain, seperti loop dan drop shot“, ulasnya.

Beberapa olah lain juga Arief pernah coba. Dia bersyukur banyak aktif dalam bidang olah raga. “Dengan cara itu saya tidak terpengaruh perilaku remaja yang aneh-aneh”, katanya.

***

Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng.: Aneh Jika Kita Jauh dari Allah”

Mengapa Anda punya perhatian di bidang bioteknologi?

Di Indonesia, belum banyak yang menguasai ilmu seperti itu. Saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk mengembangkannya.

Selain itu, saya berusaha mengangkat nama kaum Muslim lewat ilmu pengetahuan. Sebab, selama ini, nama-nama ilmuwan bioteknologi bukan nama Muslim. Saya jadi bertanya, kemana kita?

Apa salah satu penelitian Anda?

Saya mensinergikan bioteknologi kedokteran dengan bioteknologi pertanian. Di Indonesia, bioteknologi pertanian sudah maju. Jadi saya membuat rekayasa protein pada tembakau yang selama ini identik dengan anti-kesehatan.

Selama ini rekayasa protein dibuat dari bakteri. Sehingga, untuk membiakkannya perlu reaktor yang besar. Kalau tembakau, untuk membiakkannya, tinggal ditanam saja. Ini keuntungan kita berada di negara tropis.

Kalau penelitian saya ini jadi, petani tembakau tak lagi tergantung pada perusahaan rokok. Mereka juga bisa menjualnya pada perusahaan farmasi. Kesejahteraan petani tembakau bisa meningkat.

Itu ide saya yang mendapat Adhicipta Rekayasa Award 2005 dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Bagaimana perasaaan Anda saat meraih prestasi?

Umumnya orang melihat prestasi ketika mendapat juara lomba. Bagi saya itu pun menggembirakan. Selebihnya, saya merasa penghargaan yang saya terima harus menambah motivasi untuk terus berkarya.

Bagi saya, prestasi sesungguhnya adalah keteika kita bisa menghasilkan produk yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Paling tidak, kita bisa memberikan pengetahuan kepada masyarakat.

Bagaimana cara agar bisa berprestasi?

Saya yakin semua orang bisa berprestasi. Tapi, prestasi itu jangan selalu diukur dari juara. Kita bisa mengerjakan sesuatu yang kita sukai.

Kekurangan kita bukan dari sisi intelektual. Buktinya, anak-anak Indonesia berhasil meraih juara olimpiade. Kekurangan kita terletak pada disiplin. Mungkin itu terkait kultur.

Sebagai Muslim, saya merasa ajaran-ajaran tentang disiplin sudah ada pada Islam. Misalnya, kita shalat berjamaah, disuruh taat dan patuh kepada pemimpin. Hanya implementasi di lapangan masih kurang.

Bagaimana mengubah kultur negatif menjadi positif?

Bangsa ini sangat memperhatikan patron (panutan). Cenderung melihat contoh (teladan) dari atas. Saya kira mulai dari situ kita mengubahnya.

Bagaimana Anda menerjemahkan konsep disiplin?

Dalam Al-Qur’an surat al-Insyirah terdapat makna, “Kalau kita sudah selesai pada satu pekerjaan, maka segera mengerjakan berikutnya.” Ini sebuah pelajaran. Kita tidak boleh menunda pekerjaan.

Sebagai peneliti, apa cita-cita Anda?

Saya ingin mengembangkan ilmu yang saya miliki agar bermanfaat bagi masyarakat. Indonesia ini kaya akan keragaman hayati. Saya ingin kekayaan itu tidak tercuri oleh bangsa lain. Saya punya tanggung jawab moral karena saya tahu ilmunya.

Hikmah apa yang Anda peroleh dari ilmu yang Anda miliki?

Saya sering mengingatkan teman-teman mahasiswa di Jepang bahwa janganlah ilmu yang kita miliki membuat kita jauh dari Allah SWT. Kalau kita semakin jauh, malah aneh. Orang Barat saja mulai mencari-cari hubungan ilmu dengan Tuhan. Misalnya, ada mata kulih computer and God.

Bagaimana tips menjadi orang berprestasi seperti Anda?

Menurut Presiden India, Abdul Kalam, kita harus punya mimpi. Bermimpilah (cita-cita)!. Kalau kita sudah bermimpi, lama kelamaan menjadi kekuatan untuk berpikir. Kalau kita berpikir, kita jadi ingin bergerak.

Tapi yang lebih penting, kita harus belajar kepada orang yang lebih baik di bidang yang kita minati. Kata Nabi SAW, kita harus belajar sampai ke negeri Cina, kalau memang yang lebih baik ada di sana. Para sahabat Nabi SAW saja harus berjalan jauh hanya untuk menemukan sebuah hadits. (Pewawancara: Ahmad Damanik)

Entry filed under: 4. PROFIL, Molecular Farming, Riset & Laboratorium, Riset & Pendidikan, Sains & Agama. Tags: .

Sains dan Teknologi Masih Jadi Anak Tiri Peneliti Muda Berprestasi Internasional: Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng.


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: