Menjembatani Industri dan Peneliti

January 13, 2008 at 9:02 am

[Berita Iptek, Kamis, 28.10.2004; Oleh Arief B. Witarto] Kesempatan “bertemu” antara peneliti dan industri memang sangat langka di Indonesia. Salah satu usaha untuk menjembatani kedua belah pihak itu terwujud dengan pelaksanaan Diskusi Panel ini yang menampilkan pembicara yaitu Prof. DR. Samsuridjal Djauzi (Direktur Utama RS Kanker Dharmais-Jakarta), DR. Maksum Radji, M.Biomed. (Ketua Departemen Farmasi, FMIPA-UI) dan Drs. Gunawan Pranato, Apt. (Direktur Utama PT Kimia Farma, Tbk) pada 18 September 2004 di Hotel Borobudor Jakarta dengan tema Membangun Industri Bioteknologi Farmasi di Indonesia..

Diskusi yang dimoderatori oleh Dra. Rikrik Ilyas, Apt., M.Sc., Ph.D. (PT Kalbe Farma) ini dimulai dengan ulasan Prof. Samsuridjal tentang kemajuan bioteknologi di dunia yang dimulai dari aplikasi kedokteran/kesehatan. Produk-produk biotek kedokteran telah menjadi alternatif pengobatan yang ampuh dan memiliki efek samping rendah dibanding obat-obat konvensional hasil sintesa kimia.

Revolusi biotek kedokteran dimulai dari produksi protein rekombinan seperti insulin, hormon pertumbuhan, dsb lalu disusul dengan produksi antibodi untuk diagnostik dan terapi dan sekarang memasuki era kedokteran regeneratif dengan perkembangan teknologi kloning serta stem cell. Sebagai praktisi dalam dunia kedokteran, Prof. Samsuridjal mengungkapkan bahwa kebutuhan produk-produk biotek kedokteran di Indonesia cukup besar pangsanya. Misalnya untuk pengobatan kanker, banyak diperlukan obat-obat yang dapat menstimulasi pertumbuhan sel-sel darah seperti eritropoietin, faktor pertumbuhan dll yang diproduksi dengan teknik DNA rekombinan. Akan tetapi di Indonesia, semua kebutuhan itu masih dipenuhi dengan impor.

Dr. Maksum memulai presentasinya dengan mengulas kemajuan bioteknologi yang semakin multidisiplin. Untuk itu kebutuhan sumber daya manusia (SDM)-nya pun perlu diversifikasi keahlian dalam berbagai disiplin ilmu. Menurutnya, SDM biotek Indonesia mungkin sudah cukup banyak, namun belum menunjukkan eksistensinya karena belum ada wadahnya atau belum bersatu.

Sementara Drs. Gunawan dari pihak industri yang hadir menegaskan keyakinan bahwa industri farmasi Indonesia perlu untuk mulai memperhatikan juga biotek farmasi ini. Cukup mengejutkan ketika kita diingatkan bahwa pasar industri farmasi seluruh Indonesia masih jauh lebih kecil dari pasar satu perusahaan biotek kedokteran dunia (seperti Amgen/Genentech), bahkan dari satu produk biotek farmasi (seperti eritropoietin/insulin). Melihat besarnya penduduk Indonesia, jelas peluang biotek farmasi Indonesia sangat potensial.

Presentasi 3 nara sumber ini telah memicu diskusi yang hangat dari peserta. Seorang peneliti dari sebuah RS menyampaikan hasil penelitiannya tentang antibodi untuk diagnostik yang segera mendapat “lamaran” dari Kimia Farma dan Kalbe Farma. Harapan yang besar dari pertemuan seperti ini disampaikan oleh peneliti dari BPPT dan ITB. Sementara pihak industri juga menyadari kalau selama ini kurang mengetahui kondisi SDM di dalam negeri karena kekurangan forum seperti ini. Padahal menurut Prof. Samsuridjal, tidak sedikit peneliti dalam negeri yang berprestasi dunia bahkan dipercaya industri luar negeri tapi malah kurang mendapat perhatian industri dalam negeri.

Sepanjang penulis ketahui, inisiasi untuk mempertemukan pihak peneliti dan industri pada bidang biotek baru dimulai tahun 2003. PERMI/Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia membuat “gebrakan” dengan menyelenggarakan sebuah “business circle” disela-sela pertemuan ilmiah tahunannya pada bulan Agustus 2003. Pada pengarahan untuk anggota panel penelaah proposal RUT-RISTEK yang diselenggarakan LIPI tahun lalu, pihak industri yang diundang ternyata juga memberikan masukan yang sangat banyak tentang kebutuhan-kebutuhan industri yang bisa dipenuhi oleh hasil riset para peneliti. Jadi nampaknya yang diperlukan adalah bagaimana menyambung “missing-link” ini.

RISTEK sebagai lembaga koordinator Iptek tertinggi di negeri ini, mungkin adalah lembaga yang paling berkepentingan untuk merealisasikannya. Akan tetapi usaha-usaha di tingkat bawah seperti inisiatif RS Dharmais dan PT Kimia Farma, himpunan profesi seperti PERMI, dll perlu pula mendapat dukungan. Dalam bidang biotek, sebenarnya Indonesia sudah memiliki Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI) yang beranggotakan lembaga penelitian, universitas dan industri yang bekerja dalam bidang ini, namun nampaknya peranannya perlu lebih ditingkatkan dalam menjembatani peneliti dan industri. [*]

Klik di sini untuk Versi asli di Berita Iptek

Entry filed under: Bioteknologi & Industri, Riset & Laboratorium, Riset & Pendidikan. Tags: .

“Sumbangan” Bush untuk Sains Dunia ? Diabetes, Inspirator Kemajuan Iptek


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: