Flu Burung Mudah Bermutasi

January 12, 2008 at 12:22 am

[Suara Pembaruan; Selasa, 27.1.2004; Oleh Jurnasyanto Sukarno] Seorang peternak memberikan makan kepada ayam-ayam potong di peternakan Desa Jatake, Legok, Tangerang, Banten, Senin (26/1). Ratusan ayamnya mati walau tidak terdeteksi penyebabnya. Puluhan peternakan ayam kecil terancam bangkrut karena adanya virus flu burung.

Virus H5NI, penyebab flu burung (avian influenza) mudah melakukan mutasi (perubahan genetis) di dalam tubuh manusia dan babi. Namun, virus yang tingkat kemampuan mematikannya sangat tinggi ini (high-pathogenic avian influenza) ini tidak mudah menular.

Demikian diungkapkan ahli penyakit pernapasan dan paru-paru, Dr Tjandrayoga, kepada Pembaruan, di Jakarta, Senin (26/1). Meskipun demikian, katanya, virus itu bisa menular dari manusia yang sudah positif terinfeksi kepada manusia lainnya yang tengah mengidap flu.

“Peluang mutasi terbesar terjadi apabila manusia yang terinfeksi flu burung pada saat bersamaan juga menderita flu biasa. Persilangan antara virus H5N1 dengan virus flu biasa akan menghasilkan strain baru yang bisa saja menular ke manusia lainnya. Mutasi pada virus H5N1 dimungkinkan oleh adanya sifat antigenic shift dan antigenic drive pada virus tersebut,” jelasnya.

Kecemasan yang berkembang saat ini adalah virus flu burung tersebut mengalami mutasi atau perubahan dan mendompleng flu manusia. Kalau ini terjadi, lanjutnya, maka flu yang sudah bermutasi tadi tabiatnya akan berubah menyerupai flu biasa, begitu juga cara penularannya.

Sementara itu, menurut ahli bioteknologi kedokteran dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Arief B Witarto, flu burung atau flu unggas (bird flu, avian influenza) adalah penyakit flu yang disebabkan oleh virus yang terdapat pada burung liar.

Virus tersebut secara genetis memiliki lima potong RNA sementara virus yang lain umumnya hanya memiliki satu potong RNA. Hal itulah yang menyebabkan virus tersebut bisa dengan mudah melakukan mutasi sekaligus menjadi sulit untuk menentukan vaksin yang cocok. “Bisa saja satu vaksin cocok pada suatu ketika, namun beberapa waktu kemudian sudah tidak lagi cocok untuk mengobati penyakit itu,” ujar Arief.

Menurutnya, keunikan biologi virus influenza adalah kemampuan virus ini mengalami perubahan genetika (genetic reassortment) sehingga mampu menembus species barrier dan terjadilah penularan antarspesies makhluk misalnya dari binatang ke manusia.

Dikatakan, penularan virus influenza asal unggas ke manusia ini bukan hal baru, karena telah dilaporkan sejak tahun 1968. Galur virus influenza H5N1 ini, hanya ditemukan di Hongkong pada tahun 1997 dan tidak ditemukan di negara-negara di luar Hongkong. Namun, dalam perkembangannya, ternyata galur H5N1 itu juga yang menyebabkan kematian manusia di Vietnam, Kamboja, Korea Selatan, Jepang dan Thailand bulan Januari 2004 ini.

Dua Meninggal

Kabar terbaru di Thailand sudah dua orang yang meninggal akibat terinfeksi flu burung. Namun demikian sejauh ini belum ada bukti kuat penyakit flu burung menular dari manusia yang terinfeksi ke manusia lainnya.

Sementara pada kasus yang terjadi di Hong Kong kebanyakan menyerang anak-anak dan orang dewasa yang tinggal di pemukiman kumuh di sekitar peternakan ayam, pasar ayam serta para pekerja di peternakan ayam dan rumah potong ayam.

Awalnya, penyakit flu burung ini adalah penyakit hewan yang menyerang bangsa unggas. Flu burung atau sampar unggas (fowl plaque) adalah penyakit virus yang menyerang berbagai jenis unggas, meliputi ayam, kalkun, merpati, unggas air, burung-burung piaraan, hingga ke burung-burung liar. Namun, babi juga dapat tertular flu burung.

Gejala

Menurut Prof Dr Thomas Suroso, guru besar Veteriner Institut Pertanian Bogor (IPB), gejala pada unggas yang terkena virus flu burung biasanya bervariasi, bahkan kadang tanpa gejala. Gejala yang umum adalah tanda-tanda pada pernapasannya, seperti bersin, pembengkakan kepala, jengger berwarna biru, bercak merah pada bagian tulang sayap. Juga muncul tanda-tanda saraf seperti tidak dapat berjalan, kepala dan leher berputar-putar.

Gejala umum lainnya adalah mencret, penurunan produksi dan makan, serta kematian yang rendah serta tinggi tergantung galur virusnya. Namun, gejala-gejala tersebut sangat umum dan bisa juga disebabkan oleh bakteri, sehingga diagnosis yang meyakinkan sangat dibutuhkan.

Penularan dari unggas ke manusia terjadi bila kita melakukan kontak langsung seperti memelihara atau menyembelih dan tinggal di sekitar unggas hidup, yang terinfeksi penyakit ini. Unggas yang terinfeksi dapat pula mengeluarkan virus ini melalui tinja, yang kemudian mengering dan hancur menjadi semacam bubuk. Bubuk inilah yang dihirup oleh manusia atau binatang lainnya.

Virus itu bisa bertahan dalam waktu cukup lama pada jaringan atau kotoran unggas yang sudah mati, terutama pada temperatur rendah. Dari 18 orang yang terinfeksi flu burung pada 1997 di Hong Kong, semuanya melakukan kontak cukup dekat dengan unggas hidup entah itu di pasar atau peternakan.

Cara terbaik untuk menghindari terinfeksi virus ini adalah tidak melakukan kontak dengan unggas hidup dimana wabah flu burung sedang merebak. Kelompok profesi yang berisiko terinfeksi virus influenza burung adalah para pekerja di peternakan ayam, pasar burung dan rumah potong ayam. Anda juga dianjurkan segera mencuci tangan setelah melakukan kontak dengan ayam, burung atau jenis unggas lainnya.

Demam Tinggi

Menurut dr Tjandra, gejala terkena flu burung pada manusia sama seperti flu biasa. Penderita akan mengalami demam tinggi, sekitar 40 derajat Celsius, batuk-batuk, tenggorokan sakit, badan lemas, hidung beringus, pegal linu, pusing, peradangan selaput mata (mata memerah). Gejala lain seperti mencret dan muntah seringkali juga terjadi, terutama pada anak-anak. Untuk memastikan apakah seseorang terkena flu biasa atau flu burung harus melalui pemeriksaan darah.

Mengenai seberapa aman mengonsumsi daging unggas yang terinfeksi virus tersebut, menurut Tjandra pemanasan dengan suhu 56 Celsius selama 30 menit sudah mengakibatkan virus influenza mati. Makin tinggi suhu pemasakan daging unggas makin cepat pula virus tersebut menjadi tidak aktif (inaktif). Di luar tubuh hewan, virus influenza akan menjadi inaktif dalam tempo 15 jam.

Menurut Thomas Suroso, untuk memberantas penyakit ini harus melalui tindakan stamping out, yakni membunuh semua ayam pada peternakan terserang, disertai desinfeksi kandang.

Sementara itu Departemen Pertanian Jepang menangguhkan impor ayam dan produk olahannya dari Indonesia dan Kamboja berkaitan dengan wabah virus flu burung. Larangan ini akan tetap berlaku sampai dua negara itu mengonfirmasikan penyakit itu sudah bisa diatasi.

Maret 2003, Jepang mengimpor 2.215 ton daging ayam dan 757 produk ayam olahan dari Indonesia. Jumlah ini setara dengan 0,4 persen nilai impor daging ayam dan 0,3 persen produk ayam olahan dari Indonesia ke Jepang. Demikian kantor berita Reuters.

Entry filed under: Rekayasa Protein. Tags: .

Petani Protein Tanpa Pacul Arief Budi Witarto, Insinyur Protein yang Sarat Prestasi


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: