Arief Budi Witarto, Insinyur Protein yang Sarat Prestasi

January 12, 2008 at 2:03 am

[Majalah d’Maestro, Edisi Th.II, No.8, Februari 2006, hal.64-67; Oleh Dwi Ratih] [Download file PDF 740 KB] Melihat penampilannya yang santai dengan pakaian kasual, siapa menyangka kalau Arief Budi Witarto adalah peneliti yang sarat prestasi dan penghargaan. Peneliti yang baru berusia 34 tahun ini, antara lain, menciptakan protein baru untuk alat pengukur gula darah. Saat ini hampir semua alat pengukur gula darah -biasa dimiliki pengidap diabetes mellitus- yang beredar di dunia, memanfaatkan protein baru yang dikembangkan oleh enzim PQQ glucose dehydrogenase ini.

Protein tersebut merupakan ‘jantung’ alat pengukur gula darah, karena ia akan mengubah gula darah menjadi sinyal elektronik, sehingga kadar gula darah seseorang dapat terbaca. Protein ini dikemas dalam secarik kertas yang disebut test strip.

Protein ini memang bukan temuan doktor lulusan Department of Biotechnology, Graduate School of Technology, Tokyo University of Agriculture and Technology, Toky, Jepang (tahun 2000) ini sendiri, melainkan hasil kerja sekelompok peneliti di Tokyo University of Agriculture and Technology pimpinan Prof. Sode.

Namun begitu, kelahiran Lahat, 12 Mei 1971 ini adalah bagian penting dalam penelitian yang berlangsung selama tujuh tahun itu. Arief terlibat selama lima tahun hingga penelitian tersebut menghasilkan temuan final. Karena prestasinya tersebut, Arief antara lain mendapatkan Outstanding Research Award dari Institute for Science and Technology Studies, Jepang (2001).

Saat ini pakar rekayasa protein ini sedang melakukan kerja besar yang bisa menjadi terobosan bagi dunia kesehatan. Peneliti Muda Terbaik bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa LIPI (2002) ini tengah ‘bermain-main’ dengan beberapa protein, seperti erythropoietin, enzim sialidase, human serum albumin.

Dari otak-atik itu ditargetkan lahir protein-protein baru untuk keperluan diagnosa dan pengobatan penyakit kanker, pengobatan anemia, pengobatan sirosis hati dan diagnosa HIV.

“Untuk pengembangan alat diagnosa kanker, basisnya pengukuran konsentrasi asam sialat. Itu karena sel kanker selalu memiliki kandungan asam sialat lebih tinggi ketimbang sel yang normal. Yang diotak-atik di sini enzim sialidase. Tapi ini perjalanan panjang, sekarang kita mulai dengan kloning gen, selanjutnya merekayasa asam amino sebagai penyusun protein”, terang Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein bidang Bioteknologi Molekuler, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI ini.

Di tangan seorang insinyur protein, begitu Arief biasa menyebut profesinya, protein memang tidak lagi dilihat sebagai zat makanan. Protein dipandang sebagai material untuk menciptakan protein baru yang lebih sesuai dengan kondisi untuk satu penerapan tertentu.

“Ada tiga sifat protein yang umumnya ditingkatkan dalam kegiatan rekayasa protein, yaitu stabilitas khususnya terhadap suhu dan zat kimia, spesifisitas ikatan terhadap substrat dan aktivitas katalitiknya. Untuk itu banyak sekali teknik yang harus dikuasai insinyur protein sebelum melakukan kegiatan rekayasa”, ujar pria yang menguasai struktur detil protein, teknik kloning gen, teknik memproduksi protein dalam jumlah besar, teknik mengubah asam amino penyusun protein, sifat biokimia dan biofisika protein sampai simulasi struktur protein dalam komputer.

Dengan kemampuannya itu, penerima PII Engineering Award kategori Adhicipta Rekayasa Award (2005) ini, bisa dibilang menjadi satu-satunya peneliti Indonesia yang menguasai bidang rekayasa protein secara komplet hingga kini.

Bukan itu saja penelitian pendiri Indonesian Protein Society (2003) ini. Penerima Paramadina Award bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (2005) ini, juga tengah melakukan penelitian molecular farming atau bertani protein erythropoietin, sialidase, glucose dehydrogenase pada tumbuhan tembakau dengan teknik insersi DNA Nucleus dan protein albumin, antibodi dan interferon pada tumbuhan yang sama dengan teknik insersi mitochondria.

Bertani protein pada tumbuhan juga merupakan suatu terobosan, karena umumnya molecular farming dilakukan pada organisme seperti bakteri, ragi, ulat sutra. “Kalau kita melakukan hal yang sama dengan di luar negeri akan sulit bersaing. Jadi saya mikir apa yang kira-kira bisa unggul di Indonesia, dan jawabannya adalah tumbuhan, mengingat Indonesia adalah negara tropis”, terang Arief yang pandai menerangkan soal rekayasa protein yang rumit ini dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Mengenai pilihannya pada tumbuhan tembakau, pria yang aktif menulis artikel ilmiah populer di media massa ini, punya tiga alasan. Yakni, secara teknik, ilmu mengenai tumbuhan tembakau sudah matang, pertanian tembakau di Indonesia sudah maju dan ingin meningkatkan kesejahteraan petani tembakau. “Selama ini tembakau dimonopoli industri rokok dan petani tembakau ada pada posisi marjinal”, ujar pendiri dan koordinator Jaringan Peneliti Bioteknologi Indonesia ini.

Bapak empat anak ini juga tengah melakukan studi biologi molekuler protein-protein yang disekresikan oleh tumbuhan kantung semar. “Kalau ini bermula dari hobi. Ada tumbuhan endemik Indonesia yang sudah hampir punah. Saya terinspirasi untuk memanfaatkan bagian kantungnya untuk membuat protein. Jadi tidak perlu proses ekstraksi seperti kalau membuat protein di daun tembakau. Kita kini tengah membuat kultur jaringan untuk bisa memasukkan DNA. Jika berhasil, ini yang pertama di dunia”, ujia Arief yang demi mewujudkan cita-citanya itu rela naik Gunung Gede dan melewati tiga perangkap harimau untuk mengambil sampel protein kantung semar.

Semua kerja besar itu mulai dirintis suami Any Chaerani ini sejak tiga tahun lalu. Setahun setelah pulang dari studi di Jepang selama 12 tahun, termasuk dua tahun post-doc, Arief langsung memulai penelitian sambil mendirikan laboratorium rekayasa protein di ruangan bekas gudang.

“Saya merasa dari segi keilmuan sudah cukup, tapi kurang mengetahui medan Indonesia. Karena itu selama setahun saya berkeliling mengunjungi peneliti-peneliti Indonesia yang sudah eksis. Lalu mulai membangun lab dan penelitian molecular farming“, terang pria yang saat SD sempat menjadi atlet bulutangkis dan kerap mewakili Provinsi Yogyakarta dalam berbagai pertandingan ini.

Keputusan pendiri Himpunan Bioinformatika Indonesia pulang ke Indonesia tak lepas dari tekadnya mengembangkan ilmunya di tanah air. “Saya sempat ditawari mengajar di Malaysia, menjadi associate professor, tapi saya pikir kapan Indonesia maju di bidang rekayasa protein kalau tak mulai-mulai. Tapi saya sadar yang saya lakukan hanya kecil karena hanya merupakan individu”, ujar Arief yang berbangga hati karena tiga orang yang dibimbingnya berhasil memenangkan kompetisi tingkat nasional.

Konsisten dengan tekadnya, bungsu dari empat bersaudara pasangan Suroso dan Witarti ini, aktif mengajar dan membimbing mahasiswa di beberapa universitas, menulis di media massa serta menjadi pembicara di berbagai seminar. Tidak itu saja, Arief pun membangun organisasi dan jaringan di antara sesama peneliti bioteknologi di tanah air.

Menurut Arief, pencapaian yang diperolehnya saat ini tak lepas dari dukungan keluarga dan teman-teman. “Sampai sekarang istri dan anak-anak cukup memahami pekerjaan saya. Artinya saya masih suka bekerja kalau di rumah”, ujar Arief yang menyebut pergaulan juga sebagai faktor yang mendukung pencapaiannya selain terus-menerus memperbarui ilmu.

“Saya minta teman untuk kirim paper setiap minggu. Itu artinya saya harus akses internet terus, dan ada biaya khusus, tapi ya memang harus begitu”, ujar Arief yang berstrategi dalam setiap penelitian, selalu ada dua atau tiga penelitian pendamping yang topiknya saling mendukung.

“Itu untuk mengalihkan perhatian karena orang kalau terus-menerus bekerja dan tidak ada hasilnya, motivasinya akan turun. Filosofi ini terbawa dari bulu tangkis. Pemain bulu tangkis kan harus segera ubah strategi jika strateginya nggak jalan. Penelitian juga begitu, karena kalau bikin satu terus mentok, kita akan habis waktu, ” ujar Arief yang menilai bahwa suasana kerja adalah hal yang paling perlu diperbaiki untuk menunjang kreativitas peneliti Indonesia.

“Memang di sini fasilitas dan dana serba terbatas, tapi suasana kerja yang paling menghambat. Science is people. Jadi kalau mau maju, pemerintah bisa hanya sediakan gedung, alat dan kita para peneliti disuruh kerja, tanpa peduli proses. Itu catatan saya selama tiga tahun di sini, ” kata Arief yang sesekali masih menyempatkan naik gunung, hobinya saat SMA sekaligus untuk berolah raga.

Entry filed under: 4. PROFIL, Biosensor, Molecular Farming, Rekayasa Protein, Riset & Laboratorium, Riset & Pendidikan. Tags: , .

Flu Burung Mudah Bermutasi Panen Protein dari si Kantong


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: