Petani Protein Tanpa Pacul

January 11, 2008 at 11:56 pm

[Majalah Gatra, Edisi Khusus No.40 Thn.IX-23.8.2003, Hal.38; Oleh Nur Hidayat & Hendri Firzani] [Download file PDF 1.458 KB] Cara “bertani” Arief Budi Witarto, 32 tahun, sungguh tak lazim. Ia tak memakai pacul, melainkan mikroskop. Lahan cocok tanamnya pun bukan sawah, melainkan laboratorium. Namun pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, ini suka menyebut pekerjaannya sebagai bertani. Lebih tepatnya “bertani protein”.

“Itu padanan molecular farming, karena molekul yang dimaksud adalah protein”, penyandang gelar doktor bidang rekayasa protein itu. Profesi ini terbilang langka. Ahli rekayasa protein di Indonesia bisa dihitung dengan sebelah tangan.

Berkat keahliannya, berbagai prestasi dan penghargaan mampir ke pangkuan Arief. Terakhir ia meraih penghargaan Peneliti Muda Terbaik Indonesia Bidang Rekayasa dan Teknologi 2002 dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Saat ini, Arief mengepalai Proyek Penelitian Rekayasa Protein dan Bioinformatika pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.

Pasar bioteknologi di Indonesia menurut Arief sangat potensial.

Betapa tidak, dari segumpal tanah -yang banyak mengandung mikroba- bioteknologi bisa mengubahnya menjadi berbagai produk rekayasa genetika. Mulai tanaman tahan hama, pangan ternak, sampai obat anti-kanker yang lebih cespleng tanpa efek samping. “Begitulah antara lain pekerjaan rekayasa protein”, kata Arief.

Sayang, mereka yang bisa mengolah kekayaan itu hanya sedikit. Usia bioteknologi Indonesia juga masih muda. Arief mengaku, pada awalnya ia pun tak begitu paham bioteknologi. Ketika masih duduk di semester I Fakultas MIPA Institut Bioteknologi Bandung (ITB), Arief melamar program beasiswa dari Pemerintah Jepang, 1990.

Alumnus SMA Negeri I Yogyakarta itu dengan mudah lolos seleksi. Ia disarankan melanjutkan studi ke Tokyo University of Agriculture and Technology. “Waktu itu, saya ikut saja ketika diminta masuk ke jurusan bioteknologi”, kata Arief. Rupanya, bungsu dari empat bersaudara pasangan Suroso dan Witarti ini betah.

Gelar sarjana hingga doktor semua diraihnya di Tokyo University. Di usia belum genap 29 tahun, Arief berhasil menyelesaikan program doktoralnya dengan indeks prestasi (IP) sempurna, 4,00, Maret 2000. “Kalau di Jepang, umur segitu memang sudah pada doktor”, katanya, merendah.

Selama di Jepang, bersama profesor pembimbingnya, Arief berusaha mengembangkan teknologi biosensor dengan mengembangkan enzim dehydrogen glukosa tipe PQQ. Selama ini, biosensor amat membantu dokter dalam mendiagnosis kadar gula penderita diabetes.

“Teknologi biosensor berkembang cepat”, kata Arief. Hanya saja, enzim yang digunakan selama 40 tahun tak pernah berubah, yakni glucose oxidase (GOD) yang diproduksi mikroba Aspergillus niger. Padahal, dalam mengoksidase glukosa, GOD sangat bergantung pada kadar oksigen dalam sampel.

Karena itulah, Arief memilih dehydrogen glukosa tipe PQQ tadi. “Dibandingkan dengan GOD, enzim ini tak bergantung pada kadar oksigen, dan aktivitasnya juga tinggi”, kata Arief. Kini, hasil penelitian itu diterapkan perusahaan multinasional sensor glukosa asal Amerika Serikat, LifeScan.

Rekayasa protein sudah menjadi pilihan hidup Arief. “Indonesia yang sedang terpuruk memerlukan ‘darah segar’ kalangan muda untuk bangkit kembali. Saya berharap bisa menjadi bagian dari golongan ini”, katanya. [*]

Entry filed under: 4. PROFIL, Biosensor, Molecular Farming, Peneliti Muda Indonesia, Rekayasa Protein. Tags: .

Mengenal Dr. Arief Budi Witarto: Peneliti Muda Terbaik Indonesia 2002 bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa Flu Burung Mudah Bermutasi


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: