Peneliti Indonesia Raih Penghargaan ITSF

January 11, 2008 at 9:23 pm

[Suara Pembaruan, Rabu, 4.2.2004; Oleh L-11] Jakarta – Dua peneliti muda Indonesia menerima penghargaan dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) atas jasanya mengembangkan penelitian yang berguna bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2).

Kedua peneliti yakni Dr Arief Budi Witarto dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Dr Evvy Kartini dari Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), terpilih melalui seleksi ketat menyingkirkan 25 pesaingnya. Selain medali, para peraih penghargaan juga mendapat hadiah uang masing-masing sebesar Rp 60 juta

Menurut ketua tim seleksi, Prof Dr Aman Wirakartakusumah, seluruh hasil penelitian yang diseleksi menunjukkan kualitas yang sangat baik. Secara keseluruhan menunjukkan komitmen bagi kemanusiaan dan perbaikan lingkungan sehingga bukan hal mudah bagi juri untuk menentukan pemenangnya.

Sebagai contoh penelitian Arief yang berguna bagi kemanusiaan yaitu mengembangkan protein sebagai bahan baku vaksin dan obat-obatan dengan bantuan tanaman. Arief mengembangkan tanaman transgenik penghasil protein, menggantikan fungsi bakteri yang secara konvensional digunakan selama ini.

Hasilnya, biaya pembuatan protein pun menjadi jauh lebih murah dan mudah serta sesuai dengan sumber daya alam Indonesia sebagai sebuah keunggulan tersendiri.

“Saya berharap nantinya masyarakat bisa memperoleh obat-obatan dengan harga yang lebih murah,” ujarnya.

Sementara itu Evvy mengembangkan penelitian untuk membuat baterai isi ulang yang tidak mudah bocor. Selama ini baterai isi ulang (rechargeable) seperti lithium mudah bocor. Selain tidak ekonomis, juga berbahaya bagi lingkungan. Dengan temuannya ini, Evvy berharap industri baterai bisa lebh ekonomis dan ramah lingkungan.

Ketua ITSF, Dr Soefjan Tsauri menyatakan rasa bangganya terhadap peneliti-peneliti muda Indonesia yang mengalami peningkatan kualitas dari tahun ke tahun sehingga dia berharap, suatu saat nanti akan lahir seorang pemenang nobel dari Indonesia.

Karena itu untuk memotivasi para peneliti Indonesia, dalam perhelatan kali ini ITSF mengundang seorang pemenang nobel kimia, Prof Dr Ryoji Noyori dari Jepang. Dalam konferensi pers dengan para wartawan, Noyori mengaku peneliti muda Indonesia tidak kalah dengan peneliti Jepang, Amerika maupun Eropa. Persoalannya, sistem dan kebijakan di Indonesia belum mendukung ke arah pengembangan penelitian seperti di negara-negara maju.

Karena itu Noyori berharap, Indonesia mau melakukan perubahan-perubahan mendasar, khususnya dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya. Jika pembenahan sistem mulai dari sekarang dilakukan, paling tidak 10 tahun yang akan datang Indonesia akan menuai hasilnya.

Mengenai persoalan dana yang selama ini dikeluhkan, selayaknya tidak perlu menghambat kreativitas seseorang. Noyori mencontohkan dirinya dan para peneliti di Jepang tahun 1960-an.”Meski kami serba kekurangan, namun kami bertekad untuk bisa maju dan bersaing dengan negara-negara maju. Kerja keras dan kesungguhan lah yang membuat Jepang bisa semaju sekarang,” ujarnya.

Katanya untuk memenangi nobel, seorang peneliti tidak harus lebih unggul dari penelitian sebelumnya. Namun yang terpenting dia bisa lebih inovatif atau dia mampu mengembangkan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya (bersifat unik). “Saya yakin peneliti Indonesia pun bisa untuk melakukan hal itu,” kata Noyori.

Selain memberi penghargaan bergengsi bagi kedua peneliti di atas, ITSF juga memberikan penghargaan pendidikan ilmu pengetahuan bagi guru-guru biologi, Fisika, dan Kimia Sekolah Menengah Umum dari berbagai daerah.

Penghargaan diberikan kepada para guru yang telah memberikan metode pengajaran yang kreatif dan inovatif meski dengan keterbatasan sarana. Dari 148 orang pelamar terpilih sebanyak 10 orang guru dengan total hadiah sebesar Rp 175 juta.

ITSF juga memberikan hibah penelitian Iptek kepada 19 orang peneliti muda dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah. Komite seleksi telah melakukan penyaringan sekitar 150 orang peneliti dari seluruh Indonesia. Total hibah penelitian yang diberikan tahun ini sebesar Rp 636.340.000.

Entry filed under: Molecular Farming, Science & Technology Award. Tags: .

LIPI Gandeng Jerman Kembangkan Biofarmasetik Bioinformatika Menjelma Jadi Bisnis Besar


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: