Pembangunan Klaster Bioteknologi untuk Hadapi Epidemi

January 11, 2008 at 9:11 pm

[Suara Pembaruan, Rabu, 7.12.2005; Oleh Y-5] Jakarta – Pembangunan kluster bioteknologi sebagai pusat yang mempertemukan kalangan industri, pemerintahan, dan perguruan tinggi, serta peneliti, dibutuhkan untuk menghadapi epidemi dan mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan luar negeri. Hal itu dikatakan Koodinator Tim Pengembangan Bioisland Kementerian Negara Riset dan Teknologi Dr Meika Syahbana Rusli di hadapan peserta seminar bioteknologi yang berlangsung di Gedung II Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta, Selasa (6/12).

Menurut Meika, pihaknya tengah meninjau lahan seluas 20 hektare, tempat akan dibangunnya kluster bioteknologi dengan nama Serpong Biopark. Kawasan ini terletak di Puspitek, Serpong, 30 km sebelah barat Jakarta. “kluster ini diharapkan dapat menjadi rumah bagi para peneliti dan inkubator bagi industri bioteknologi. Tempat ini juga diharapkan dapat menjadi arena penstimulasi di antara peneliti-peneliti untuk berbagi gagasan dan temuan, serta berinteraksi langsung dengan pihak industri,” katanya. Secara struktur, pusat penelitian dan pengembangan bioteknologi ini bernaung di bawah Kementerian Negara Riset dan Teknologi, tetapi Serpong Biopark ini juga direncanakan mampu mandiri.

Sebagai pusat penelitian, kawasan ini direncanakan memiliki infrastruktur penelitian dan pengembangan bioteknologi bertaraf internasional. Dengan demikian, sosialisasi terhadap teknologi dan produksinya menjadi teruji dan memenuhi standar yang dapat diserap industri. Selain itu, keberadaan kluster juga diharapkan dapat menutupi kendala perguruan tinggi dalam pengadaan peralatan canggih yang relatif mahal, namun tingkat penggunaannya rendah.

Selain itu, sarana kluster ini juga dibangun untuk mengatasi masalah darurat nasional, seperti pandemi atau epidemi penyakit tertentu, terutama penyakit infeksi khas negara-negara tropis yang juga dialami masyarakat Indonesia, seperti tifus, kolera, demam berdarah, malaria, dan tuberkulosis.

Saat ini, menurut Meika, realisasi pembangunan kluster sedang menunggu kebijakan pemerintah. Kebijakan dimaksud berupa pendanaan yang sangat dibutuhkan pada tahap awal pembangunan Serpong Biopark. Namun, pada akhir pembangunannya yang diperkirakan memakan waktu 10 tahun sampai 15 tahun, komitmen pemerintah ini diproyeksikan tidak melebihi 30 persen dari keseluruhan biaya pengelolaan kluster. Pendapatan tambahan akan diperoleh dari sejumlah layanan jasa analisis, seperti dari penapisan molekul bioaktif atau pendeteksian kultur aktif.

Menyinggung rencana pembangunan kluster serupa di Pulau Rempang, Batam, Meika mengatakan rencana pembangunan kluster itu tidak jauh berbeda dengan Serpong Biopark. Bedanya, kluster yang rencananya diberi nama Bioisland itu dirancang bertaraf internasional dan melibatkan tenaga-tenaga ahli asing. “Pembangunan Bioisland masih menunggu keputusan Rencana Umum Tata Ruang pemerintah daerah Batam,” katanya.

Sementara itu, pembicara lainnya Dr Arief Budi Witarto mengatakan campur tangan pemerintah tetap diperlukan, terutama dalam pengadaan fasilitas infrastruktur, sarana transportasi, telekomunikasi, dan kebijakan perpajakan dan regulasi lainnya. Menurut Arief, lemahnya interaksi antara para pelaku ilmu pengetahuan dan teknologi nasional sangat berpengaruh pada kemajuan pengembangan bioteknologi, khususnya dalam teknologi kedokteran di Indonesia. Berdasarkan hasil kunjungannya ke beberapa negara di dunia, Arief mengatakan semua negara membangun kluster berdasarkan tuntutan permasalahan yang ada.

Entry filed under: 2. RISET, Bioisland & Klaster. Tags: .

Perkembangan Bioinformatika di Dunia dan Kondisinya di Indonesia LIPI Gandeng Jerman Kembangkan Biofarmasetik


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: