Mendeteksi Makanan Beracun

January 11, 2008 at 9:39 pm

[Suara Pembaruan, Senin, 9.6.2003; Oleh SE/L-2] Kematian mengintai umat manusia di mana saja dan dengan cara apa saja. Tanpa disadari, setiap waktu tubuh kita dijejali zat-zat kimia beracun yang secara perlahan mengantar kita ke kematian.Di tengah perhelatan hari lingkungan hidup sedunia, kita dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa tubuh bumi yang renta ini kian tercemar. Di jalanan setiap saat kita harus menghirup gas-gas beracun yang disemburkan knalpot kendaraan. Di perairan pun sangat mungkin biota laut yang kita santap mengandung zat-zat kimia berbahaya.

Hasil penelitian Lembaga Oseanologi Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan bahwa beberapa biota laut mengandung sejumlah zat kimia. Sebut saja ikan dan kerang hijau yang mengandung timbel (Pb), kromium (Cr3+), kadmium(Cd), dan air raksa (Hg), dalam jumlah jauh di atas ambang batas. Dengan sifatnya yang akumulatif, zat-zat kimia tersebut akan meracuni tubuh siapa pun yang mengonsumsinya.

Kekhawatiran kita juga bertambah dengan terungkapnya peredaran obat palsu belum lama ini. Hampir 40 persen dari obat-obatan yang diperdagangkan di negeri ini ternyata palsu. Sangat mungkin obat palsu tersebut mengandung unsur kimia yang justru bersifat meracuni tubuh manusia.

Menurut Dr Bambang Wispriyono, staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), zat beracun tersebut akan menyebabkan apoptosis. Gejala itu mengarah kepada kematian sel yang bersifat aktif. Itu ditandai dengan terjadinya perubahan-perubahan morfologi sel.

Perubahan-perubahan tersebut antara lain berupa shrinkage sel (sel mengerut dan pecah), kondensasi nukleus, DNA cleavage dan fragmentasi potongan-potongan kromatin.

Dalam kondisi normal saja sel-sel tubuh yang mengalami apoptosis akan mengalami gangguan keseimbangan oleh faktor-faktor eksternal. Antara lain peristiwa oxidative stress (OS) yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor zat-zat kimia, obat-obatan, mikroorganisme patogen dan sebagainya.

Menurut Bambang, OS adalah senyawa radikal yang bisa merusak DNA (deoxyebose nucleic acid) dan menyebabkan mutasi gen. Selain itu, peningkatan apoptosis menimbulkan kerusakan sel permanen dan berakhir dengan kerusakan jaringan dan organ.

Sebaliknya, rendahnya apoptosis dan bertambahnya pembelahan sel yang tidak terkontrol menimbulkan karsinogenesis. Dengan demikian tubuh kita memerlukan kondisi normal dan seimbang.

Sejauh ini terus dilakukan penelitian untuk mengetahui mekanisme terjadinya apoptosis oleh berbagai OS. Penelitian dilakukan dengan mempelajari jalur signaling (signaling pathways) yang terjadi.

Untuk mengungkap mekanisme apoptosis Bambang melakukan signaling pathway dengan menggunakan mitogen activated protein kinases (MAPKs). MAPKs termasuk protein kinase yang berfungsi sebagai transmitter signaling ekstraselular ke nekleus. Tiga sub-famili MAPKs adalah Extracelular Regulated Kinase (ERK), c-Jun N-Terminal Kinase (JNK) dan P38 MAPK.

MAPKs mengalami fosforisasi (pengaktifan protein untuk penyampaian sinyal) untuk selanjutnya secara transkripsional mengatur ekspresi gen c-fos dan c-jun. Proses itu mempengaruhi profilerasi, diferensiasi, dan apoptosis sel.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada signaling pathway MAPKs itulah yang dijadikan salah satu indikator awal terjadinya apoptosis sel.

Selanjutnya mekanisme terjadinya apoptosis oleh zat-zat kimia, khususnya logam berat dan senyawa toksik lainnya bisa dipantau. Menurut Bambang merkuri klorida akan meningkatkan c-fos mRNA dan c-Fos protein satu jam sebelum apoptosis terjadi pada dosis yang diperbolehkan. Sedangkan, kadmium klorida mendorong terjadi apoptosis dengan efek toksi yang lebih hebat.

Menurut pakar bioteknologi LIPI, Dr Arif B Witarto, hasil temuan itu memberi harapan baru bagi upaya menetralisasi zat-zat racun di dalam tubuh. Dengan penelitian tersebut bagian-bagian sel/organ tubuh yang terkena racun bisa terungkap secara terperinci.

Analisis medis pun bisa difokuskan secara spesifik pada lokasi yang terkena racun, sehingga mempermudah kalangan medis dalam penanganan dan pemberian dosis secara lebih tepat.

Selain itu, analisis yang tepat bisa menghindari terjadinya efek samping dalam proses pengobatannya.

Entry filed under: 1. BIOTEKNOLOGI, Rekayasa Protein. Tags: .

Ilmuwan Didorong Memanfaatkan Bioteknologi Klona Melinting Tembakau Jadi Pabrik Protein


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: