Menanam Tembakau Menuai Obat

January 11, 2008 at 10:11 pm

[Majalah Gatra, Sabtu, 31.7.2004, hal.94; Oleh Hendri Firzani] [Download file PDF 65KB: ariefwitarto_digatra_31juli2004.pdf] Sebuah kabar gembira datang dari Jepang. Tak lama lagi, para penderita anemia (penyakit akibat kekurangan sel darah merah) tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Erythropoietin, bahan baku obat yang selama ini mereka gunakan, bakal jauh lebih murah. Kenapa? Protein yang biasa “ditambang” dari hewan itu kini bisa dipetik dari tembakau.

“Pada tembakau, jumlah yang dihasilkan akan jauh lebih banyak ketimbang di tubuh hewan,” kata Dr. Arief Witarto, 32 tahun. Meski penelitian dilakukan di Jepang, ini temuan peneliti biomolekular Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

Tentu bukan perkara gampang menanam erythropoietin (EPO) pada tembakau. Tahap pertama adalah bagaimana menumbuhkan protein asing ke dalam tumbuhan. Caranya, menyusupkan gen pengode protein itu ke dalam kultur jaringan tembakau.

Setelah menyusup ke dalam sel, tahap berikutnya adalah bagaimana agar sel itu bisa hidup menjadi tumbuhan. Kalau sudah di tahap ini, barulah kita bisa memproduksi protein dalam tembakau. “Tembakau jadi semacam reaktor untuk memproduksi protein,” tutur pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, itu.

Untuk itu, peneliti muda terbaik bidang rekayasa dan teknologi LIPI tahun 2002 ini, sejak Januari, kembali ke tempatnya menuntut ilmu, dan menggunakan kelengkapan fasilitas laboratorium di Universitas Tokyo.

EPO adalah sejenis protein yang berfungsi sebagai hormon pengatur pembuatan sel darah merah (eritrosit). Karenanya, EPO tak cuma terdapat pada manusia, melainkan juga pada sapi, anjing, kucing, kera, tikus, babi, juga kambing.

Protein pilihan Arief tentu yang berasal dari manusia atau gen human erythropoietin (hEPO). Itu diperoleh dari peneliti Prancis, Dr. Emmanuel Payen (Laboratoire de Therapie Genique Hematopoietique, Institute Nationale de la Sante et de la Recherche Medicale/INSERM, Paris).

Lalu, menyuntikkan hEPO ke sel tembakau juga harus memakai vektor berupa plasmid yang didapatkan dari Center for the Application of Molecular Biology to International Agriculture (CAMBIA), Canberra, Australia. Vektor ini bernama pCAMBIA.

Bagaimana hasilnya? “Belum tahu, karena belum sampai pada produksi di lapangan,” kata Arief. Menurutnya, penelitian direncanakan berjalan selama tiga tahun. Jadi, ia berharap, akhir 2006 sudah bisa dihasilkan tembakau penghasil hEPO. “Saat itu saya harap petani kita sudah bisa diberdayakan memproduksi tembakau untuk hal yang ‘lebih bermanfaat’,” katanya.

Ya, salah satu alasan Arief memilih tembakau, karena banyak petani kita menanam tumbuhan itu untuk rokok. Apalagi, tembakau memiliki biomassa luar biasa besar dibandingkan tanaman budi daya lain. Menurutnya, daun besar membuat biomassa tembakau 170-200 ton per hektare. Tumbuhan lain yang mendekati cuma kentang 124 ton per hektare dan tomat 59 ton per hektare.

Arief berharap, suatu saat Indonesia bisa menjadi penghasil EPO nomor wahid di dunia. Maklum hEPO, selain untuk obat anemia, juga bisa untuk terapi kanker. Malah belakangan, kemampuan memproduksi sel darah merah disalahgunakan para atlet untuk menambah daya tahan tubuh ketika bertanding.

Saat ini, hEPO merupakan produk protein berbasis obat paling besar pasarnya di dunia. Menurut data dari Nikkei Annual Bio-Business Report tahun 2000, pasar dunia hEPO waktu itu adalah US$ 1,38 milyar. Produk protein obat yang mendekatinya adalah insulin (obat diabetes melitus) US$ 1,15 milyar, dan human granulocyte colonystimulating factor atau G-CSF US$ 1,12 milyar. Yang lain belum ada yang menembus angka milyaran.

Pemegang paten hEPO saat ini adalah perusahaan bioteknologi terbesar di dunia, Amgen Inc di California, Amerika Serikat. Namun patennya bakal habis November 2004. “Jadi, penelitian kami tepat waktunya untuk tidak terganggu dengan paten ini,” kata Arief. Moga-moga dua tahun ke depan, kita akan mendengar petani tembakau berkata, “Ah… ini protein terbaik yang pernah saya tanam.

Entry filed under: Molecular Farming. Tags: .

Mahasiswa Harus Berani Berinovasi Tokoh Kita: Dr. Arief Budi Witarto – Pemenang Pemilihan Peneliti Muda Indonesia X–2002


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,991 hits

%d bloggers like this: