Mahasiswa Harus Berani Berinovasi

January 11, 2008 at 9:53 pm

[Kabar UGM Online http://www.ugm.ac.id, Edisi 49/III/16 September 2005; Oleh Ida Tungga] Mahasiswa harus berani berinisiatif melakukan inovasi atau mengerjakan hal-hal yang tidak atau belum dikerjakan oleh orang lain. Keberanian ini diperlukan karena tantangan ke depan semakin komplek. Kata kuncinya memang adalah keberanian, namun dengan tetap menyadari bahwa kita tidak terlalu hebat untuk menjawab tantangan tersebut. Karena itu, kita perlu meningkatkan kerja sama yang sinergis yang berlandaskan tiga hal, yakni guyub, mikir dan makaryo.

Penegasan ini diungkapkan Wakil Rektor Senior Bidang Akademik (WRSA) UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D ketika menjadi keynote speech dalam workshop “Pengembangan Inovasi untuk Menghasilkan Penelitian Berkualitas”, di Auditorium Fakultas Peternakan UGM, Sabtu (10/9). Workshop diprakarsai oleh Program Peningkatan Pertumbuhan Kepemimpinan Berkualitas – Proyek DUE-like UGM.

Menurut Prof Sudjarwadi, bangsa-bangsa yang sudah maju telah menguasai empat hal, yakni sektor produksi, pemasaran, manajemen finansial dan services atau pelayanan. Dan kelemahan kita adalah, tidak berani menempatkan diri untuk ikut ambil bagian menguasai empat hal tersebut.

“Kita boleh saja memikirkan hal yang sama seperti yang orang lain pikirkan. Kita juga boleh mengatakan hal yang sama seperti yang orang lain katakan. Tetapi, kita harus berani mengerjakan hal-hal lain yang orang lain belum berani kerjakan,” katanya.

Pada bagian lain, Ketua Kelompok penelitian Rekayasa Protein, Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI, Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng. mengatakan, dalam diri mahasiswa sesungguhnya tersim-pan potensi. Potensi diri ini harus dikenali, terus- menerus diasah dan dikembangkan melalui berbagai kegiatan penelitian. Sebab, kegiatan penelitian sekarang ini akan dirasa penting dalam setiap lini kehidupan dalam masyarakat yang semakin hidup berdasarkan pengetahuan (knowledge-based society). Fenomena tidak lagi dipecahkan dengan takhayul tapi logika berdasarkan fakta. Demikian pula keputusan-keputusan penting selalu diambil berdasar hasil penelitian.

“Hal paling penting untuk mengembangkan ilmu pengetahuan adalah SDM atau manusianya, bukan yang lain. Karena oranglah yang sesungguhnya melakukan science!,” tandasnya.

Namun, lanjut Arief, untuk meraih keahlian tertentu, setiap orang perlu menguasai dua jenis pengetahuan, yakni explicit knowledge yang dapat diperoleh dari membaca buku atau kuliah, dan tacit atau implicit knowledge yang hanya dapat diraih dengan pengalaman. Juga, diperlukan ketelitian dan ketelatenan atau ketekunan, atau yang diistilahkan Arief dengan patient and passion, sebagai modal utama untuk menghasilkan penelitian yang baik.

Kendala dana

Workshop yang juga menampilkan para peneliti UGM tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta yang terdiri dari mahasiswa Sahabat Percepatan Peningkatan Mutu Pembelajaran (SP2MB) dan seluruh mahasiswa yang telah mengajukan proposal penelitian dalam Karya Inovasi Mahasiswa. Seorang peserta, Aditya dari Fakultas Peternakan UGM misalnya, meskipun proposal penelitiannya tentang pemanfaatan urin sapi sebagai pupuk cair meraih hibah penelitian, mengaku minimnya dukungan dana dan ketersediaan alat masih menjadi kendala bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian. Akibatnya, ide pun hanya menggumpal di benak.

Menanggapi keluhan ini, Arief mengakui, dana penelitian memang masih menjadi kendala di negara berkembang. “Kesulitan itu sebenarnya relatif. Kalau pingin mudah, cari dana dari luar negeri karena di Indonesia memang sulit. Tapi sebagai calon peneliti, modal dasar Anda adalah pengalaman. Karena itu, mulailah dari penelitian kecil dengan dana hanya sekian juta rupiah saja. Ini akan menjadi track record Anda dalam melakukan penelitian berikutnya” paparnya.

Lain lagi dengan Asri, mahasiswi dari Fakultas Pertanian UGM. Proposal penelitian “Pembuatan Pupuk Cair Agro Bio Geo Fertilizer” yang disusun bersama dua kawannya memang gagal dalam presentasi, namun ia mengaku belajar banyak dari kegagalan tersebut. “Mungkin karena kami terburu-buru, belum melakukan uji coba zeolit di Gedangsari, Gunungkidul. Kami hanya melihat dan membaca teori bahwa zeolit itu ternyata berguna. Kuncinya, memang harus sering-sering ke Gedung Pusat, mencari-cari informasi karena pengumuman yang tertempel di Fakultas seringkali mepet waktunya,” katanya.

Meski demikian, Asri mengharapkan ajang kegiatan serupa dapat lebih sering digalakkan pada masa-masa mendatang untuk menarik minat mahasiswa dalam hal pengembangan inovasi dan penelitian. “Saya nyesel loh, tahu kegiatan seperti ini setelah tahun-tahun akhir kuliah. Coba dari dulu, kan bisa bersaing memperebutkan tiket PIMNAS,” ujar mahasiswi yang kini juga menjadi asisten praktikum di fakultasnya.

Memang, kalau boleh mengutip pendapat Arief Budi Witarto, tidak seharusnya mahasiswa menjadi permata dalam lumpur. Setiap mahasiswa harus mengupayakan diri untuk membasuh segala kekotoran dan kekurangan diri supaya permata itu layak disematkan di dada, bernilai tinggi dan bermakna.

Entry filed under: Riset & Laboratorium, Riset & Pendidikan. Tags: .

Pemenang Penghargaan Toray 2004 Menanam Tembakau Menuai Obat


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: