LIPI Gandeng Jerman Kembangkan Biofarmasetik

January 11, 2008 at 9:15 pm

[Suara Pembaruan, Kamis, 10.3.2005; Oleh L-11] Biofarmasetik adalah produk farmasi yang berbentuk protein dan dikembangkan dengan bioteknologi yang digunakan sebagai obat, perangkat diagnosis penyakit dan vaksin. Kebutuhan biofarmasetik semakin meningkat karena potensi serta akurasinya tinggi, namun dengan efek samping rendah. Sayangnya harga produk farmasi ini masih sangat mahal karena biaya produksi tinggi sehingga belum bisa dimanfaatkan oleh penduduk negara berkembang.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 2003, sudah memulai penelitian molecular farming yaitu usaha produksi protein bernilai tinggi, khususnya biofarmasetik dengan menggunakan tanaman. Teknologi ini mampu menurunkan biaya produksi sampai sepersepuluh dari cara konvensional yang menggunakan mikroba, sel hewan, atau lainnya.

Fokus pengembangan yang dilakukan LIPI pada produksi protein adalah untuk pengobatan misalnya saja human erythropoietin (hEPO) untuk mengobati penyakit anemia. Juga protein untuk diagnosis, yaitu berupa antibodi sebagai penanda molekuler atas sel kanker. Protein diproduksi secara massal dengan menggunakan tanaman tembakau. Karena menggunakan tanaman, teknologi ini sangat sesuai dengan iklim tropis yang kaya sinar matahari dan tanah subur.

Selain protein, juga dikembangkan vaksin yang bisa dimakan (edible) dengan menggunakan tanaman pisang. Berbekal dari hasil yang telah dicapai itu, LIPI menjalin kerja sama dengan Fraunhofer Institute dari Jerman, salah satu pusat riset unggulan di dunia dalam teknologi molecular farming. Kerja sama itu dilakukan untuk mengembangkan teknologi ini di negara tropis.

Tim LIPI dipimpin Dr Arief Budi Witarto, sedangkan dari Fraunhofer dipimpin Dr Stefan Schillberg, serta turut bergabung PT Kimia Farma Tbk sebagai mitra industri. Menurut Arief, ada tiga protein utama yang akan dikembangkan dalam kerja sama ini, yakni human serum albumin (HSA), human interferon-alfa (IFN-a2) dan antibodi M12.

Penggunaan HSA di dunia mencapai 550 ton/tahun, termasuk yang terbesar dan digunakan untuk pengobatan penyakit sirosis hati, luka bakar, dan lain-lain. IFN- a2 digunakan sebagai obat antivirus dan banyak dipakai untuk pengobatan HIV, Hepatitis, dan sebagainya. Sementara antibodi M12 adalah antibodi yang mengenali antigen MUC-1 yang banyak terdapat pada permukaan sel kanker, seperti kanker payudara, kanker hati, dan lain-lain.

Arief mengatakan dengan menggunakan antibodi M12, sel kanker dapat didiagnosis secara akurat dan dibunuh secara tepat. Selain tiga protein utama ini, akan dilakukan pula molecular farming terhadap protein inhibitor helicase yang akan dicari dari mikroba isolat Indonesia. Protein inhibitor helicase dapat menjadi obat antivirus, seperti virus Dengue penyebab penyakit demam berdarah karena bisa mencegah replikasi/pertumbuhan virus dalam sel yang diinfeksi.

Lebih lanjut Arief memaparkan, protein di atas akan diproduksi menggunakan kloroplast yaitu organela sel tanaman yang berfungsi melakukan fotosintesis di daun. Keuntungan menggunakan kloroplas dibandingkan inti sel yang lazim digunakan saat ini adalah tingkat produksi yang jauh lebih tinggi serta kemungkinan transfer gen ke tanaman lain yang jauh lebih rendah.

Tanaman yang digunakan adalah tembakau karena pertumbuhannya yang cepat, teknologi yang sudah mapan, dan produksi biomassa (daun) yang besar. Menggunakan teknologi DNA rekombinan, gen penyandi protein disisipkan dalam genom tanaman di kloroplas, sehingga tanaman tembakau transgenik yang dihasilkan dapat memproduksi protein obat yang bermanfaat.

Menurut Arief, dari daun tembakau yang dipanen, protein-protein biofarmasetik itu akan diekstraksi dan dimurnikan untuk diperoleh protein murninya, sehingga molecular farming ini dapat diibaratkan dengan “bertani protein”. Pengembangan teknologi di atas akan dilakukan secara bersama oleh LIPI dan Fraunhofer.

Sementara penanaman tembakau transgenik dilakukan di lahan luas Cibinong Science Center yang dikontrol dengan ketat.

Dalam waktu tiga tahun, direncanakan sudah diperoleh hasil yang dapat dilanjutkan untuk produksi tingkat industri oleh PT Kimia Farma Tbk.

Melalui hasil penelitian ini diharapkan harga obat- obat biofarmasetik yang penting dapat lebih terjangkau masyarakat luas.

Entry filed under: 1. BIOTEKNOLOGI, Molecular Farming. Tags: .

Pembangunan Klaster Bioteknologi untuk Hadapi Epidemi Peneliti Indonesia Raih Penghargaan ITSF


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,991 hits

%d bloggers like this: