Ilmuwan Didorong Memanfaatkan Bioteknologi Klona

January 11, 2008 at 9:35 pm

[Suara Pembaruan, Senin, 16.6.2003; Oleh N-4] Jakarta – Para ilmuwan perlu didorong untuk tetap memanfaatkan bioteknologi klona pada sel atau jaringan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan. Namun, penerapan klona pada manusia ditolak karena menurunkan derajat serta martabat manusia sampai setingkat bakteri.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Prof Dr Farid Anfasa Moeloek mengemukakan hal itu dalam seminar sehari “Kloning dan Kesehatan Masyarakat” yang diselenggarakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam rangka HUT ke-38 fakultas itu, Sabtu (14/6) di Jakarta.

Hadir sebagai pembicara Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein dan Bioinformatika untuk Kedokteran dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong Dr Arief B Witarto MEng, Direktur Riset dan Bioteknologi PT Sanbe Farma J Hilgers, dan dr Bambang Dwipayono SpOG dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

Moeloek berpendapat, pemanfaatan teknologi klona untuk meningkatkan derajat kesehatan antara lain dilakukan dengan pembuatan zat anti atau antigen monoklonal yang dapat digunakan dalam banyak bidang kedokteran (diagnostik dan pengobatan). Kemudian, pada sel atau jaringan hewan dalam upaya penelitian kemungkinan melakukan klona organ, serta penelitian lebih lanjut untuk aplikasi klona organ manusia untuk dirinya sendiri.

Revisi Kodeki (Kode Etik Kedokteran) hasil Mukernas Etik Kedokteran III pada April 2002 menyebutkan, klona/cloning sebagai adopsi dari hasil keputusan Muktamar XXIII IDI 1997 tentang klonasi menolak dilakukan klonasi pada manusia. Ia menyarankan, FK UI membuat jaringan bioteknologi di dalam dan luar negeri untuk mengembangkan klona maupun stem cell yang tidak bertentangan dengan bioetika dan hukum yang disepakati di tengah masyarakat.

Moeloek yang juga mantan menteri kesehatan itu menjelaskan farmakoterapi selalu mengalami perkembangan. Jika pada awalnya dikenal pengobatan tradisional seperti jamu, kemudian berkembang dengan penemuan antibiotika dan obat sintetis, saat ini ditemukan terapi gen (memanfaatkan produk biologis yang dibuat oleh sel pasien untuk mengobati dirinya sendiri) dan terapi sel kedokteran regeneratif. Terapi tersebut menggunakan stem cell sendiri atau dari orang lain untuk menggantikan jaringan atau organ yang rusak.

Kedokteran Regeneratif

Dasar dari kedokteran regeneratif, ujar Moeloek, adalah sel induk (stem cell) yang bersifat imortal dan pluripotent, yang bisa berkembang menjadi semua jaringan dan organ yang berasal dari endoderm, mesoderm dan ektoderm. Ia menjelaskan, sel-sel muda memiliki sifat pluripotent, seperti sel darah tali pusat, sel-sel sumsum tulang (terutama dari anak muda), sehingga tidak perlu dibuat dari embrio.

Di Inggris, para peneliti di laboratorium berhasil memperbaiki kerusakan sel otak pada tikus yang mengalami parkinson. Di Amerika Serikat para dokter berhasil memperbaiki kerusakan otak manusia dengan memanfaatkan sel sumsum tulang. Di Michigan, Amerika Serikat, seorang pria yang mengalami kerusakan jantung disembuhkan dengan teknologi stem cell.

Sementara itu Arief menyebutkan, saat ini telah banyak dipasarkan produk-produk obat dari jenis protein rekombinan untuk aplikasi kedokteran, baik berupa terapi maupun diagnostik. Umumnya obat yang berbasis protein lebih spesifik bila dibandingkan dengan obat konvensional yang terbuat dari senyawa kimia.

Misalnya, penyakit non-hodgkin’s lymphoma (NHL) yang merupakan sejenis kanker pada sel sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan kematian pada 25.000 orang setahun di Amerika Serikat. Kanker itu bisa diobati tanpa efek samping dengan menggunakan Rituxan.

Entry filed under: 1. BIOTEKNOLOGI, Kloning & Stem Cell. Tags: .

Bioinformatika Menjelma Jadi Bisnis Besar Mendeteksi Makanan Beracun


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: