Riset Harus Ditunjang dengan Komersialisasi

January 10, 2008 at 8:29 pm Leave a comment

[Kompas, Kamis, 14.6.2007; Oleh NAW] Guna menggalakkan universitas riset sebagai institusi penelitian dalam menghasilkan paten, semestinya perguruan tinggi juga ditunjang iklim usaha atau komersialisasi yang kondusif. Rendahnya tingkat komersialisasi sering menjadi kendala untuk mematenkan berbagai hasil riset yang ada dan menghambat pengembangan riset ataupun inovasi itu sendiri.

Demikian disampaikan peneliti dan Asisten Profesor pada Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) Budhijanto, di Jakarta, Rabu (13/6), sebelum menerima penghargaan sebagai “peneliti Indonesia yang memiliki jiwa wirausaha”.

Penghargaan dari Badan Pertukaran Akademis Jerman (DAAD) dan Badan Penelitian Riset Terapan Fraunhofer (FhG) itu juga diberikan kepada Arief Budi Witarto selaku Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein pada Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Untuk menuju universitas riset seperti yang sedang digalakkan sekarang, jumlah paten dari setiap universitas harus menjadi indikator,” kata Budhijanto.

Ia mendapat penghargaan atas proposal penelitian lanjutan untuk menghasilkan produk biokimia untuk perekat kayu ramah lingkungan dari minyak biji jambu mete.

Selama ini bahan perekat kayu yang banyak digunakan terutama pada produk furnitur ekspor berupa unsur kimia dari bahan minyak bumi.

Budhijanto dijadwalkan akan menuntaskan riset itu selama empat bulan di Jerman, Agustus- November 2007. Selanjutnya, hasil riset tersebut diharapkan dapat dipatenkan atas nama Universitas Gadjah Mada. Hasil pengembangan riset atas bantuan Fraunhofer tersebut kemudian dapat dikomersialisasikan.

Penelitian lanjutan di Jerman nantinya, lanjut dia, untuk meningkatkan kapasitas kandungan biokimia dari 40 persen hingga mendekati 100 persen sebagai produk perekat kayu. Saat ini hasil penelitiannya, kandungan biokimia dalam perekat kayu itu baru 40 persen.

“Perekat kayu yang ramah lingkungan juga telah dipersyaratkan di berbagai negara di Eropa, yang menjadi negara tujuan ekspor furnitur Indonesia,” kata Kepala Perwakilan Fraunhofer Indonesia Ida Bagus Narayana.

Sedangkan Arief mengajukan proposal riset untuk menghasilkan protein farmasi yang dapat mendukung sistem kekebalan kanker, dengan memakai tembakau sebagai media produksi.

Menurut Narayana, penghargaan tahunan ini diberikan untuk yang ketiga kalinya. Penghargaan sebelumnya masing-masing untuk peneliti di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Fraunhofer melihat potensi pengembangan riset di Indonesia pada bidang bioteknologi untuk menggantikan produk kimia yang berasal dari minyak bumi, yang kini kian langka. “Berbagai produk dari biokimia akan lebih terjamin ketersediaannya dari tanaman dan ramah lingkungan,” kata Narayana.

Entry filed under: 3. PENGHARGAAN, Technopreneur Award. Tags: .

Protein dan Perempuan Paramadina Award 2005 Untuk Duta-duta Terbaik Pusaka Bangsa

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: