Revolusi Bioteknologi (1): Biofarmaka, antara Kesehatan dan Bisnis

January 10, 2008 at 9:18 pm Leave a comment

[Suara Pembaruan, Senin, 14.7.2003; Oleh Setia Lesmana] Suwarto (45) merasa hidupnya kini lebih ringan ketimbang hari-hari sebelumnya. Menggunakan alat diagnostik atau biosensor glukosa untuk mengukur kadar gula dalam darahnya, sekarang dia lebih mudah mengatur menu makannya. Maklum, dosen Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta, itu sempat diwanti-wanti dokter tentang kemungkinan terkena diabetes.

Alat seharga Rp 1 juta tersebut bekerja berdasarkan reaksi enzimatik. Alat ini dapat memantau reaksi enzim glucose oxidase (GOD) dengan substrat glukosa dalam darah pasien, papar pakar bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Arief Witarto. Cukup dengan setetes darah, alat tersebut dapat menunjukkan kadar gula dalam darah seseorang. Proses itu berlangsung hanya beberapa detik.

Berkat alat itu, pasien diabetes bisa hidup secara normal. Ia tidak perlu ke dokter secara rutin untuk mengetahui kadar gula darahnya. Biosensor glukosa berbasis enzim GOD pertama kali dikembangkan oleh Leland C Clark Jr tahun 1962. Arief menyebut produk semacam itu sebagai terobosan bioteknologi yang memberi harapan kepada banyak orang. Produk-produk obat dari jenis protein rekombinan (biofarmaka) untuk aplikasi kedokteran kian berkembang, baik terapi maupun diagnostik.

Secara umum, obat berbasis protein lebih efektif dan aman ketimbang obat konvensional dari senyawa kimia. Selain lebih spesifik dan tidak menimbulkan efek samping, obat itu lebih efisien karena memiliki potensi penyembuhan dan diagnosa lebih tinggi, ujar Arief. Contohnya penyakit Non-Hodgkin’s Lymphoma (NHL) yaitu sejenis kanker pada sel sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini merenggut nyawa 25 ribu orang per tahun di Amerika Serikat. Sekarang penyakit itu dapat diobati hingga pulih total dengan rituxan tanpa ada efek samping. Obat produk IDEC Pharmaceuticals ini merupakan antibodi yang mengenali satu protein tertentu dan hanya diekspresikan pada permukaan sel B dewasa, dalam hal ini sel kanker.

Berkat ikatan antibodi dan sel B tadi, sel tersebut dapat dikenali oleh sistem kekebalan tubuh sebagai sel kanker yang harus dimusnahkan. Dengan demikian, pengobatan dengan biofarmaka hasilnya lebih akurat tanpa menimbulkan efek samping. Berbeda dengan radioterapi dan kemoterapi yang tidak bisa membedakan antara sel kanker dan sel normal yang juga tumbuh dengan cepat. Rituxan sudah disetujui oleh Badan Pengawas Obat-obatan Amerika Serikat (FDA) tahun 1997 untuk digunakan secara luas.

Selain untuk terapi, antibodi telah banyak pula digunakan untuk diagnostik. Arief mencontohkan penggunaan antibodi untuk tes kehamilan yang sekarang berkembang luas di masyarakat. Alat ini bekerja berdasarkan reaksi ikatan antara antibodi tertentu dengan hormon human chorionic gonadotropin (HCG) yang diproduksi oleh wanita hamil, paparnya. Para ibu tanpa harus pergi ke dokter spesialis kandungan dapat dengan mudah mengecek apakah sedang hamil atau tidak. Caranya hanya dengan meneteskan sedikit urinenya pada alat tersebut.

Selain produksi antibodi dan enzim seperti dicontohkan di atas, protein-protein lain seperti hormon juga telah banyak diproduksi menggunakan bioteknologi. Hingga sekarang yang sudah diproduksi secara luas adalah Insulin. Dengan bantuan bakteri, para ahli bisa memproduksi insulin secara massal tanpa mengekstraksinya lagi dari pankreas sapi atau babi. Tahun 1982, Insulin menjadi salah satu produk unggulan Genentech, Inc., perusahaan bioteknologi (modern) pertama di Dunia.

Produk biofarmaka lainnya yang juga laris manis adalah Erythropoietin (EPO). EPO merangsang pertumbuhan sel darah merah untuk menyembuhkan penyakit anemia. Amgen, Inc. yang memiliki hak paten EPO sejak tahun 1987 berkembang menjadi perusahaan bioteknologi paling besar di Dunia antara lain berkat penjualan EPO tersebut.

Arief melihat Biofarmaka telah dan akan menjadi kekuatan raksasa di sektor kesehatan. Pencapaian itu sekaligus akan menjadi kekuatan ekonomi atau bisnis yang luar biasa. Hal ini kembali menegaskan peran revolusi bioteknologi yang didorong oleh perkembangan pada tingkat molekuler. Penguasaan bioteknologi, khususnya di dunia kesehatan, menjadi sesuatu yang bersifat strategis.

Rekayasa Molekuler

Revolusi bioteknologi dimulai sejak diketahui bahwa materi genetik pembawa sifat keturunan adalah DNA (deoxyribonucleic acid) atau asam deoksiribonukleat, bukan protein. Hal itu diperkuat oleh eksperimen Martha Chase dan Alfred Hershey (1952). Eksperimen itu membuktikan bahwa dengan menginjeksikan DNA virus ke dalam bakteri, dapat dihasilkan virus baru. Setahun kemudian, Watson dan Crick mengusulkan bahwa DNA berstruktur double helix.

Bagian penting dari penemuan tanpa eksperimen itu, menurut Arief, adalah penjelasan terhadap mekanisme replikasi DNA yang dengan indah dapat terjadi tanpa kesalahan berkat struktur tersebut. Bagai ledakan bom atom, penemuan struktur double helix ini merangsang penemuan-penemuan sangat penting dalam biologi molekuler yang terjadi dalam waktu sangat singkat.

Beberapa penemuan tersebut antara lain penemuan mRNA oleh Jacques Monod dan Francis Jacob (1961) dan penemuan kode genetik oleh Gobind Khorana dan Marshall Nirenberg (1966). Era selanjutnya dengan pengembangan teknologi rekombinan DNA oleh Stanley Cohen dan Herb Boyer, pengembangan teknologi Hibridoma oleh Cesar Milstein dan Georges Kohler, dan pengembangan teknologi pembacaan sekuen DNA oleh Maxam dan Gilbert.

Tahun 1983, dikembangkan teknik PCR oleh Karry Mullis. Sampai di sini hanya diperlukan waktu 30 tahun rekayasa pada tingkat molekul mampu merambah banyak hal termasuk DNA/gen, RNA dan protein. Biofarmaka dapat menjadi kenyataan berkat rekayasa genetika (genetic engineering) melalui teknologi rekombinan DNA.

Produksi massal protein-protein yang berpotensi untuk terapi maupun diagnosa hampir seluruhnya menggunakan teknologi tersebut. Tidak mengherankan perusahaan-perusahaan Bioteknologi pertama yang didirikan semua berorientasi pada produksi protein rekombinan. Barulah saat human genome project (1985), yang menjadi titik awal era genom, bermunculan perusahaan-perusahaan spesialis genom seperti celera genomics (1998).

Sementara itu, rekayasa protein (protein engineering) yang lahir pada tahun 1983, memberi kontribusi pada peningkatan kualitas dan performa aplikasi biofarmaka. Sebagai contoh, dengan rekayasa protein berhasil didapatkan enzim GOD yang stabil, sehingga biosensor glukosa tidak lagi bias dalam mengukur kandungan gula pada sampel darah.

Contoh produk biofarmaka bagi aplikasi terapi yang berhasil dikembangkan dengan rekayasa protein adalah EPO. Darbepoetin alfa adalah protein mutan dari EPO yang diproduksi oleh Amgen, Inc tahun 2000. Berkat mutasi yang menyebabkan penambah kandungan glikosil pada protein ini, serum half-life dari Darbepoetin alfa meningkat 3 kali lipat daripada protein asli. Pasar Dunia protein ini pun diperkirakan mencapai $US 3 miliar pada tahun 2000.

Entry filed under: 1. BIOTEKNOLOGI, 2. RISET, Biosensor, Bioteknologi & Industri. Tags: .

Lima Ilmuwan Indonesia ke Ajang Nobel Deptan Dukung Cukai Rokok Naik

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: