Industri Farmasi Lokal Bisa Produsi Insulin Sendiri

January 10, 2008 at 9:00 pm Leave a comment

[Republika, Selasa, 28.3.2006; Oleh jar] Penyakit kencing manis (diabetes mellitus/DM) memiliki jumlah penderita yang cukup banyak di Indonesia. Penyakit ini berkembang karena pola makan dan gaya hidup yang salah. Misalnya terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi, jarang berolahraga, dan sebagainya.

Penderita kencing manis diperkirakan akan terus meningkat. Kalau dulu sebagian besar pengidapnya adalah usia tua, kini mereka yang berusia muda. Bahkan anak-anak pun, bisa terkena penyakit ini. Diperkirakan DM, di antara penyakit-penyakit noninfeksi, menjadi penyebab kematian paling tinggi di negara maju seperti Amerika Serikat.

Pada penderita kencing manis, fungsi insulin di dalam tubuhnya terganggu. Padahal fungsi insulin sangat penting, untuk memasukkan gula dari dalam darah ke sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai energi. Karena itu, pada penderita DM gula tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga tetap beredar di dalam darah. Hal ini dapat diketahui dari kadar gula darah yang semakin meningkat.

Untuk menyembuhkan penyakit ini penderita diberi obat berupa insulin. Fungsi insulin yang disuntikkan ini adalah mengembalikan fungsi insulin di dalam tubuh yang mengalami gangguan. Sayangnya, insulin yang diperlukan oleh para penderita DM masih diimpor dari negara luar. Hingga saat ini, industri farmasi dalam negeri belum bisa memproduksi insulin. Pertanyaannya, apakah memang benar para pelaku farmasi Indonesia belum bisa memproduksi insulin sendiri?

Menurut pakar bioteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Arief Budi Witarto M.Eng., dari sisi teknologi sebenarnya sumber daya manusia Indonesia banyak yang mampu untuk memproduksi insulin. Bahan bakunya juga bisa dengan mudah didapatkan di sini.

Karena itu, kata Arief, pemerintah perlu didorong untuk bisa mewujudkan produksi insulin dalam negeri. Caranya dengan membuat semacam BUMN farmasi yang khusus memproduksinya.

”Ini menjadi tantangan bagi kita, apakah kita perlu memproduksi insulin sendiri atau tidak. Tapi, bagi saya hal itu harus dilakukan. Ini terkait dengan kemandirian kita sebagai bangsa,” ujarnya pada kuliah tamu di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pekan lalu.

Arief menambahkan, penyandang dana bisa pemerintah atau kalangan swasta. Namun, sebenarnya pembuatan insulin ini secara teknologi lebih simpel. Negara-negara seperti Brasil, Cina, Kuba, Mesir, dan India sudah bisa memproduksi insulin sendiri. Selama ini, Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa adalah penghasil insulin terbesar dan dipasarkan ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

”Prinsipnya menurut saya, dari sisi SDM dan bahan baku sebenarnya kita bisa memproduksi insulin sendiri. Hanya saja hingga saat ini belum ada trigger-nya,” ujar alumnus program doktor dari Department of Technology, Faculty of Engineering Tokyo University of Agriculture and Technology ini.

Dengan memproduksi sendiri, ujar Arief, harga insulin bisa lebih murah. Ini perlu diperhatikan karena pengguna insulin cukup besar di Indonesia. Sebab berdasarkan data, jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia adalah nomor lima terbanyak di dunia.

Soal hak paten dari insulin, lanjutnya, tidak menjadi masalah. Sebab hak paten untuk insulin sudah banyak yang kadaluwarsa. ”Negara-negara berkembang sudah banyak yang mengembangkan produksi insulin ini. Jadi, Indonesia sudah saatnya mencoba hal yang sama,” ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut Arief mengatakan, insulin dalam tubuh penderita DM berfungsi untuk mengontrol kadar gula darah. Insulin berbentuk protein dan terdiri dari 55 jenis asam amino. Pasar insulin di seluruh dunia cukup besar. Sebab jumlah penderita DM juga cukup besar. Semua jenis insulin adalah rekombinan. Beberapa ahli yang pernah melakukan penelitian tentang insulin adalah Herbert Bayer, Stanley Cohen, dan Robert Swanson. ”Untuk membuat insulin rekombinan, yang dibutuhkan adalah DNA manusia. DNA tersebut akan diproses menjadi RNA dan akhirnya menjadi protein. Namun untuk sampai ke tahap itu, butuh proses yang panjang,” ungkap penerima Paramadina Award 2005 ini.

Tidak mudah

Sementara itu, Managing Director PT Dexa Medica, Ir Ferry A Soetikno MSc MBA, mengatakan, tidak mudah memproduksi insulin di dalam negeri. Sebab teknologi dan proses yang dibutuhkan untuk memproduksi insulin itu cukup rumit. Proses pembuatannya terdiri dari banyak cara. ”Jadi, itu tidak mudah, terutama untuk membuat teknologinya. Prosesnya juga bermacam-macam,” ungkapnya kepada Republika.

Pengurus Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi itu menuturkan, untuk membuat insulin sendiri dibutuhkan pabrik khusus. Masalahnya, harus dikaji terlebih dahulu tentang feasibility-nya. ”Artinya, kalau mmebuat pabrik sendiri tapi tidak memadai, ya siapa yang mau menanamkan investasinya,” tuturnya.

Tentang bahan baku, Ferry mengatakan, itu tergantung proses yang digunakan. Jadi, menurutnya, bukan hanya produksi yang perlu diperhatikan, tapi edukasi ke pasien juga penting. Misalnya, apakah pasien mau disuntik insulin atau tidak. Tapi, sebenarnya penggunaan insulin di Indonesia tidak terlalu besar. Dan, selama ini insulin diimpor dari Denmark.

Mencegah Kencing Manis

Kencing manis atau dikenal dengan penyakit gula (diabetes mellitus-DM) adalah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula (glukosa) dalam darah. Tanda atau gejala awal diabetes antara lain rasa haus yang berlebihan, rasa lapar, dan sering buang air kecil. DM yang tidak terkontrol bisa menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah atau kapiler. Kerusakan ini akan menyebabkan sumbatan yang bisa mengganggu aliran darah ke jaringan.

Bagian tubuh yang tidak mendapat aliran darah tersebut akan mengalami kematian akibat kekurangann zat asam. Kerusakan dinding kapiler juga bisa menyebabkan kebocoran cairan dan darah dari kapiler. Kebocoran inilah yang menyebabkan pembengkakan jaringan.

Jika tidak segera ditangani, DM bisa menyebabkan komplikasi pada organ tubuh yang lain. Salah satunya adalah mata. Bentuknya adalah glaukoma (peningkatan tekanan bola mata) dan katarak (kekeruhan pada lensa mata). Ada dua tipe kencing manis, yaitu tipe 1 dan 2. DM tipe-1 terjadi karena kekurangan insulin. Sedangkan DM tipe-2 terjadi karena insulin di dalam tubuh tidak berfungsi dengan baik.

Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh sel beta di pankreas di dalam tubuh, yaitu sebuah kelenjar yang letaknya di belakang lambung. Fungsi kelenjar ini mengatur metabolisme glukosa menjadi energi. Selain itu juga mengubah kelebihan glukosa menjadi glikogen yang disimpan di hati dan otot. Untuk mencegah terjadinya kencing manis, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Di antaranya memeriksakan diri secara teratur ke dokter, diet rendah gula, bila kelebihan berat badan maka sebaiknya diturunkan hingga ke posisi normal.

Selain itu, pantaulah kadar gula darah secara rutin setiap hari. Kini banyak alat tes gula darah yang dijual bebas dengan harga cukup murah. Hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah berolahraga secara teratur.

Entry filed under: 2. RISET, Bioteknologi & Industri. Tags: .

Klaster Bioteknologi Bisa Entaskan Kemiskinan Peneliti Muda Indonesia Tahun 2002

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: