Pendidikan di Negara Miskin

January 5, 2008 at 7:22 pm Leave a comment

[Republika, Sabtu, 3.7.2004; Oleh Samsuridjal Djauzi & Ede Surya Darmawan] Pendidikan memang tak murah. Namun, mungkinkah sebuah negara miskin mampu menyelanggarakan pendidikan yang bermutu? Pertanyaan ini terjawab ketika kami bersama mantan menhutbun Dr Nurmahmudi Ismail, Dr Arief Budi Witarto (LIPI), dan Dr Sri Hartini (RS Dharmais) berkesempatan berkunjung ke sekolah dasar dan universitas di Havana, Kuba, pada awal Juni 2004.

Kunjungan ke sekolah dasar di Havana itu amat mengesankan. Kami disambut oleh murid-murid SD di halaman sekolah dengan lagu-lagu Kuba. Mereka murid murid kelas 3 sampai kelas 6. Mereka yang menjadi panitia penyambutan untuk kedatangan kami. Guru hanya mengawasi dan memberi penjelasan.

Gedung sekolah bertingkat dua terletak di jantung kota Havana. Bangunan sekolah sederhana namun kokoh dan bersih. Di sekolah ini terdapat 640 orang murid mulai dari taman kanak-kanak sampai kelas 6 SD. Setiap kelas paling banyak diisi oleh 20 orang murid. Jumlah guru di sekolah ini 45 orang sehingga perbandingan guru dan murid sekitar 1 banding 15. Latar belakang pendidikan guru adalah sarjana pendidikan sedangkan untuk pelajaran keterampilan seperti seni, pekerjaan tangan, olahraga, dan komputer, guru dibantu oleh instruktur lulusan sekolah kejuruan.

Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Spanyol namun mulai kelas tiga murid SD sudah mulai belajar bahasa Inggris. Kemampuan rata-rata murid SD di Kuba tinggi. Survei yang diadakan oleh Unesco pada 2002 menunjukkan kemampuan matematika dan bahasa siswa SD Kuba jauh di atas rata-rata murid SD negara Amerika Latin lainnya.

Mutu pendidikan di SD Kuba didukung oleh adanya program nasional melalui televisi untuk pelajaran matematika, biologi, dan bahasa. Pada jam-jam tertentu guru yang berpengalaman nasional memberikan pelajaran yang disiarkan oleh televisi Kuba. Seluruh kelas di Kuba dilengkapi dengan televisi sehingga dapat menangkap siaran tersebut.

Kami juga sempat berkunjung ke laboratorium komputer. Untuk siswa TK, pengenalan komputer masih dilakukan dengan komputer mainan yang terbuat dari kardus. Namun, bagi siswa SD tersedia komputer sebenarnya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelajaran. Mereka mendapat kesempatan bekerja di laboratorium komputer dua kali seminggu serta pada jam-jam senggang. Pada saat kunjungan laboratorium sedang berlangsung kegiatan siswa kelas 5 yang sedang berpraktik membuat presentasi dengan program power point.

Pada umumnya siswa diantar oleh orang tua pagi hari sekali ke sekolah karena orang tua mereka bekerja. Siswa diwajibkan sampai di sekolah pada pukul tujuh pagi dan pelajaran sekolah dimulai pukul delapan pagi. Sambil menunggu waktu belajar mereka dapat memanfaatkan komputer dan membaca buku di perpustakaan yang koleksi bukunya cukup banyak. Siswa yang orang tuanya bekerja dapat tinggal sampai sore di sekolah sampai sore, dan sekitar pukul 16.30 dijemput oleh orang tua mereka.

Kami sempat berkunjung ke beberapa kelas. Murid duduk tidak selalu dalam posisi klasikal menghadap papan tulis, namun disesuaikan dengan mata pelajaran. Untuk mata pelajaran matematik mereka duduk dengan posisi klasikal namun pada mata pelajaran bahasa mereka duduk dalam kelompok kecil, setiap kelompok terdiri dari 4 orang siswa. Mereka mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap secara lebih akrab.

Lapangan untuk pelajaran olahraga tersedia cukup luas. Saat itu beberapa siswa laki-laki dan perempuan sedang bermain basket, dan seorang instruktur dengan tekun membimbing mereka. Bahkan di kelas juga disediakan papan catur untuk olah pikir. Kami diantar oleh para siswa melihat-lihat fasilitas sekolah. Salah seorang siswi kelas 4 menjadi pemandu kami dan dia berbahasa Inggris dengan lancar. Teman-temannya juga mampu berbahasa Inggris namun tak selancar pemandu ini.

Selesai mengunjungi fasilitas sekolah kami beristirahat di ruang perpustakaan. Di ruang ini terpampang spanduk yang bertuliskan ucapan Fidel Castro dalam bahasa Spanyol yang artinya adalah: Untuk menjadi pendidik kita perlu memahami ilmu pengetahuan serta cakap menyampaikannya kepada murid kita.

Untuk perpustakaan tingkat sekolah dasar maka perpustakaan ini tergolong lengkap. Bahkan salah seorang siswa mengungkapkan bahwa setelah mengetahui akan ada kunjungan dari Indonesia maka dia mencari bahan di kepustakaan ini tentang Indonesia. Dia bertanya kepada kami betulkah Indonesia mempunyai banyak suku dan masing-masing suku mempunyai bahasa sendiri? Kami merasa kagum dengan minat siswa ini dan keinginannya untuk mengetahui lebih jauh tentang Indonesia.

Di ruang kepustakaan siswa mempertunjukkan beberapa lagu dan tari. Kami pun diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia. Tampaknya murid di Kuba mendapat pelajaran yang sungguh-sungguh dalam bidang kesenian. Mereka menyanyi dan menari dengan amat baik. Namun yang berkesan bagi kami adalah ketika mereka menghidangkan konsumsi. Semua disediakan oleh murid, mereka yang mengaturnya dan mereka pulalah yang membagikan pada kami. Meski penganan yang dihidangkan amat sederhana namun kami amat menikmati hidangan para siswa tersebut. Kami meninggalkan sekolah dasar ini dengan kenangan suasana belajar yang menyenangkan dan fasilitas yang memadai meski Kuba seperti Indonesia masih tergolong negara miskin.

Universitas

Kami juga berkesempatan berkunjung ke Universitas Havana. Universitas ini sudah tua dan juga terletak di tengah kota tak jauh dari Hotel Havana Libre tempat kami menginap. Di Universitas Havana terdapat sekitar 5.000 orang mahasiswa. Sehabis Shalat Subuh biasanya kami berjalan kaki dan beberapa kali kami sempat berjalan kaki sampai ke Universitas Havana. Meski sudah tua, bangunan universitas terpelihara baik, bahkan halamannya amat bersih. Pagi-pagi kami melihat petugas sudah menyapu halaman. Mahasiswa juga sudah berdatangan meski ruang kuliah belum dibuka. Gedung-gedung fakultas dihiasi dengan berbagai patung-patung para ilmuwan dan semboyan-semboyan untuk belajar.

Kami sempat berkunjung ke Fakultas Kimia. Gedung laboratorium ini sudah tua namun dari gedung inilah dihasilkan karya yang cukup besar yaitu sintesa oligosakirida yang mampu menggantikan dinding sel bakteri Hemophylus influenza B. Melalui penemuan ini dapat dibuat vaksin secara sintesis dan penemuan ini kemudian dikembangkan di pusat Biotek CIGB (Centre for Genetic Engineering and Biotechnology). Sekarang Kuba telah menghasilkan jutaan vial vaksin H.influenza B yang digunakan di Kuba dan juga diekspor ke luar negeri. Di laboratorium kimia ini bekerja 40 orang pakar kimia sebagian besar adalah tenaga paruh waktu, sebagian lagi adalah karyawan industri biotek yang sedang dalam proses pendidikan untuk meraih gelar master atau doktor.

Jika dulu mahasiswa pasca-sarjana Kuba bangga dengan gelar yang mereka peroleh di negara maju maka sekarang mereka merasa bangga dengan gelar yang mereka dapat dari Universitas Havana. Meski untuk mendapat gelar tersebut kadang-kadang mereka perlu juga mendapat pelatihan keterampilan di beberapa negara di Eropa. Rata-rata usia staf di Universitas Havana masih amat muda. Bahkan kepala laboratorium ini beserta isterinya yang juga bekerja sebagai pakar kimia di laboratorium ini juga tampaknya masih muda. Sulit untuk membayangkan di laboratorium yang tampaknya sederhana ini telah dapat dihasilkan berbagai penemuan yang bermanfaat bagi masyarakat serta diakui mutunya oleh dunia.

Sebagian staf juga memperoleh kesempatan untuk bekerja di pusat industri biotek yang menyebabkan suasana kerja di industri biotek menjadi suasana yang ilmiah. Salah seorang anggota rombongan kami, Dr Arief Budi Witarto, pakar rekayasa protein dari LIPI diminta untuk memberikan ceramah di pusat industri biotek CICB, karena CICB banyak melakukan penelitian produk yang produksinya berdasarkan teknik rekombinan DNA. Suasana diskusi di pusat biotek ini tak berbeda dengan pertemuan ilmiah di universitas yang terbuka dan akrab.

Saat ini Kuba mempunyai sekitar 14 pusat biotek yang tersebar di Havana dan provinsi lain di Kuba. Jumlah saintis di Kuba mencapai 12 ribu orang dan 1.800 di antaranya merupakan doktor. Sarjana Kuba mempunyai kemampuan tinggi dan mempunyai motivasi kuat untuk menyumbangkan kepakarannya kepada masyarakat. Mutu yang tinggi dan sikap yang mengutamakan masyarakat ini merupakan hasil pendidikan sejak sekolah dasar. Kuba membuktikan bahwa, meski miskin negara ini dapat menyelenggarakan pendidikan yang baik. Bagaimana dengan Indonesia?

Entry filed under: 2. RISET, Riset & Pendidikan. Tags: .

Peneliti Muda Rebut Prestasi Nasional 2002 Berharap Mandiri dari Biotek Farmasi Sendiri

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: