Langsing dengan ”Chitinase” Unggul

January 5, 2008 at 6:18 pm Leave a comment

[Pikiran Rakyat, Kamis, 19.8.2004; Oleh Aris/Humas IPB] Memiliki tubuh langsing menawan adalah dambaan semua wanita. Demi memenuhi keinginan bertubuh ideal tersebut, tak jarang wanita melakukan diet ketat habis-habisan. Ujung-ujungnya bukannya tubuh ramping didapat, tapi justru ke rumah sakit akibat mengabaikan kesehatan. Namun sekarang berbahagialah kaum wanita. Anda tak perlu repot-repot melakukan diet. Cukup mengkonsumsi kitosan dijamin masalah kolesterol teratasi.

Saat ini, kitosan telah diproduksi dan diedarkan sebagai suatu suplemen kesehatan berbentuk kapsul dan tablet. Beberapa merk yang sudah beredar di pasaran dijual seharga 30 dolar AS per kemasan berisi 100 – 200 butir.

Kitosan adalah salah satu turunan kitin. Kitin banyak di temukan secara melimpah di lingkungan laut. Tak jarang kitin dianggap limbah laut. Ia merupakan komponen penyusun struktur terbesar pada moluska, serangga, crustacea, fungi, ganggang dan hewan invertebrata laut lain. Kandungan kimia dan fisik serta turunannya sering digunakan di berbagai macam aplikasi bioteknologi untuk kepentingan komersial, baik di bidang pangan,kesehatan, pertanian dan industri.

Pemanfaatan kitin di bidang pangan adalah sebagai dietary fiber. Selain itu, bisa digunakan untuk menurunkan kolesterol tubuh. Di samping mempermudah konsumen dalam mengonsumsi obat (mirip kapsul), di bidang kesehatan kitin juga berfungsi sebagai immunoadjuvants (pelarut imunisasi agar mudah masuk ke darah).

Sedangkan penggunaan kitin untuk pertanian umumnya dapat merangsang pertumbuhan mikroba yang menguntungkan saat pemupukan, sekaligus menekan pertumbuhan pathogen tanaman. Kelemahan yang dimiliki kitin adalah sulit larut dalam pelarut kimia dan air.

Biodegradasi (penguraian) kitindibentuk chitinase melalui dua langkah. Endochitinase (EC 3.2.1.14) menguraikan polimer menjadi oligomer yang dilanjutkan dengan penguraian menjadi monomer oleh eksochitinase(b-N-acetylhexosaminidase, EC 3.2.1.52). Kedua enzim ini dijumpai di berbagai jenis organisme seperti bakteri, fungi, serangga, tanaman dan hewan.

Selama dekade terakhir, chitinase memperoleh perhatian yang luar biasa, karena penggunaannya yang luas. Usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas dan kemurniaan kitin sedang digalakkan di dunia dari bakteri chitinase. Beberapa karakteristik baru bakteri chitinase telah dilaporkan. Meski demikian hanya sedikit enzim chitin tahan panas yang diketahui.

Oleh karena itu, Aris Toharisman dalam pemaparan disertasinya ‘Purification and Characterization of Thermostable Chitinases From Bacillus licheniformis MB-2″, di Gedung Rektorat Kampus IPB, Bogor, berkeinginan menemukan chitinase tahan panas. Hadir dalam sidang terbuka itu Prof.Dr.Ir. Maggy T. Suhartono, Prof.Dr.Ir. Antonius Suwanto, dan Dr. Trenawati Purwadaria selaku dosen pembimbing serta Dr.Arief Budi Witarto, M.Eng., dan Dr.Ir. Dwierra Evvyernie, MS.MSc. bertindak penguji luar komisi.

Aris mengisolasi bakteri termofilik, Bacilluslicheniformis MB-2 dari sumber air panas Tompaso, Provinsi Sulawesi Utara untuk dijadikan objek penelitian. Dengan menggunakan analisa zymogram, pria peraih gelar doktor Ilmu Pangan IPB itu memilah dua dari lima enzim yang ditemukan. Satu enzim bersifat endokitin yaitu memotong secara acak (Chi-167). Enzim sisanya bersifat eksokitin yang memotong satu persatu (Chi-102). “Penemuan dua enzim ini baru pertamakalinya. Keduanya memiliki keunggulan yang tidak ada bandingannya baik pada bakteri sejenis atau bakteri yang lain,” tegasnya.

Enzim temuan Aris itu memiliki ketahanan pH yang luas (kisaran pH 4-12 ) masih dapat memproduksi kitin 70 %. Berbeda dengan kitin umumnya, kitin yang dihasilkan mudah larut pada pelarut organik (etanol, propanol), tahan deterjen, denaturaen (urea), guanidine, HCl dan dapat bekerja pada inhibitor Protein-Sparing Modified Fast (PSMF). “Keunggulan tersebut menunjukkan semakin tingginya peluang aplikasi enzim temuan saya ini dalam industri,” tambahnya.

Penelitian Aris Toharisman merupakan hibah dari Bioproducts Reseach Center (Yonsei University, Korea Selatan) yang bekerja sama dengan Departemen Pertanian Indonesia, serta mendapat dukungan dari Departement of Zoologyand Endocrinology (University of Ulm, Jerman).

Entry filed under: 1. BIOTEKNOLOGI, Rekayasa Protein. Tags: .

Penghargaan untuk Para Tokoh Senjata Pemusna Masal

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: