Kehidupan Peneliti di Kuba

January 5, 2008 at 5:38 pm Leave a comment

[Suara Pembaruan, Jumat, 22.10.2004; Oleh Samsuridjal Djauzi] Dr Mayra Ramos Suzarte tampak lebih muda dibandingkan dengan fotonya. Ibu dua anak yang bekerja sebagai peneliti di Center of Immunology Molecular (CIM) di Havana ini berkunjung ke Jakarata dalam rangka simposium bersama Indonesia-Kuba mengenai penyakit kanker. Dia sejak tahun 1994 menekuni penelitian yang berbasis antibodi monoklonal.Seperti diketahui, CIM mulai memproduksi antibodi monoklonal untuk diagnostik penyakit kanker, dan sekarang ini telah berhasil menghasilkan obat kanker berdasarkan teknik antibodi monoklonal. Produksi yang telah tersedia di pasar adalah Theracim, antibodi monoklonal terhadap Epidermal Growth Factor Receptor (receptor EGF). Sedangkan produk lain sedang menyusul yaitu vaksin EGF.

Beberapa jenis kanker seperti kanker nasofaring, kanker paru, kanker payudara, kanker pankreas dan kanker kolon sebagian besar mempunyai reseptor EGF. Reseptor inilah yang mempermudah proliferasi (perkembangan) sel kanker. Jika fungsi reseptor ini dihambat dengan antibodi monoklonal atau vaksin kanker maka proliferasi sel kanker juga akan dapat dihambat. Dewasa ini Theracim sudah digunakan di Kuba. Sedangkan di Kanada, Jerman, Italia, Prancis dan Cina masih dalam tahap uji klinik.

Kemampuan para peneliti Kuba dalam bidang bioteknologi telah mendapat pengakuan luas. Seorang peneliti di Fakultas Kimia Universitas Havana, Dr Vincente baru saja mempublikasikan penelitiannya di majalah bergengsi Science tentang pembuatan vaksin H infuenza b dengan cara sintetik polisakarida. Dewasa ini perusahaan multinasional dalam bidang vaksin memproduksi vaksin tersebut dengan cara mengolah antigen yang berasal dari dinding bakteri H infuenza b. Namun Vincente berhasil membuat antigen untuk vaksin ini dengan cara mensintesis polisakarida serta mengonyugasikannya dengan protein. Kita dapat membayangkan kesulitan untuk sĂ­ntesis polisakarida ini di laboratorium. Namun Vincente dan kelompoknya tidak hanya sampai pada keberhasilan di laboratorium, tetapi berhasil memproduksinya untuk kebutuhan masyarakat Kuba bahkan juga diekspor ke luar negeri.

Mungkin amat menarik untuk mengetahui kehidupan sehari-hari peneliti Kuba. Apakah para peneliti tersebut menikmati kemudahan dan kehidupan yang nyaman seperti koleganya di negera maju?

Menurut cerita Mayra, dia memulai harinya dengan mengantar anaknya yang kecil (umur 4 tahun) ke sekolah taman kanak kanak dengan mengendarai sepeda. Siang hari dia menjemput anaknya di sekolah, kemudian kembali bekerja. Semuanya dilakukan dengan mengendarai sepeda. Acap kali dia harus tinggal sampai malam di laboratorium. Bahkan karena dia bekerja dengan antibodi monoklonal sering kali dia harus bekerja meski hari libur. Kendaraannya sehari-hari ke tempat kerja adalah sepeda.

Mayra merasa beruntung karena di laboratorium tempat dia bekerja disediakan ruang kerja yang nyaman. Sewaktu saya berkunjung ke CIM di Havana, ternyata pusat biotek ini menempati gedung yang megah. Semula pusat biotek tersebut berasal dari unit penelitian rumah sakit kanker di Havana. Unit penelitian ini mampu menghasilkan produk yang dapat dijual sehingga kemudian berkembang menjadi pusat biotek yang maju di Kuba. Dr Arief Witarto, seorang pakar biotek dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga sempat mengunjungi pusat biotek ini, menyatakan bahwa sistem kerja dan peralatan laboratorium yang terdapat di pusat biotek Kuba bersaing dengan negara maju.

Seusai bekerja di laboratorium, Mayra melakukan tugasnya selaku ibu rumah tangga. Mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Untunglah suaminya yang bekerja di bidang teknik selalu membantunya. Keduanya bekerja dan tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Tugas utama orangtua untuk mendidik kedua anaknya dilakukan dengan penuh perhatian. Rumah mereka seperti juga rumah orang Kuba pada umumnya, sederhana. Tidak dijumpai barang mewah. Namun rumah tersebut dilengkapi dengan listrik, air, dan telepon. Untuk membayar biaya listrik, air, dan telepon mereka tak perlu khawatir karena mereka hanya membayar secara simbolik. Karena pada dasarnya fasilitas tersebut disediakan oleh pemerintah. Meski tergolong sebagai peneliti senior, Mayra tidak mempunyai mobil.

Godaan ke Negara Lain

Mobil pribadi merupakan barang langka di Kuba. Pada umumnya penduduk Kuba menggunakan angkutan umum atau sepeda. Keadaan ini menyebabkan jalan raya di Havana lengang. Penduduk Havana tidak menghadapi masalah kemacetan lalu lintas yang dialami oleh penduduk di kota besar lain di dunia.

Dalam suatu pertemuan dengan karyawan RS Kanker Dharmais, seorang peserta menanyakan gaji Mayra dan Dr Rolando Camacho (seorang dokter bedah Onkologi). Secara diplomatis Mayra menjawab di Kuba kalau ingin mempunyai uang (dolar) banyak, hendaklah bekerja sebagai bellboy, bartender, atau pemandu wisata. Sedangkan mereka yang memilih jadi peneliti bekerja karena mencintai pekerjaannya. Sepulang dari Jakarta, Mayra akan mampir selama dua minggu di Jerman untuk menilai uji klinik obat antibodi monoklonal yang dilakukan di sana.

Bagaimana Kuba mencegah tenaga ahlinya lari ke luar negeri? Kami merasa nyaman tinggal di Kuba, kata Mayra dan Rolando. Meski hidup sederhana mereka mendapat kepuasan dalam bekerja. Suasana kerja menyenangkan, fasilitas laboratorium lengkap. Mereka bangga dapat menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat Kuba dan bahkan diekspor. Di bidang pendidikan rakyat Kuba dapat menikmati pendidikan dengan cuma-cuma, begitu pula dengan layanan kesehatan. Jadi meski kelihatannya pendapatan mereka tidak tinggi tetapi pengeluaran pun tidak banyak. Mereka hidup terjamin meski tidak mewah.

Sistem pendidikan juga mendukung warga Kuba untuk mencintai negerinya. Murid-murid sekolah dasar diajarkan untuk bekerja keras dan mencintai tanah air. Masyarakat Kuba bangga dengan prestasi negerinya. Meski merupakan negara kecil, namun Kuba berhasil menduduki peringkat 11 Olimpiade Athena serta peringkat 52 indeks pembangunan manusia (bandingkan dengan Indonesia yang menduduki peringkat 111).

Entry filed under: 2. RISET, Riset & Laboratorium, Riset & Pendidikan. Tags: .

Two Indonesian Scientists receive Toray Award Penghargaan Toray 2004

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: