Inovasi Melalui Riset dan Pengembangan

January 5, 2008 at 5:26 pm Leave a comment

[Kompas, Senin, 23.7.2007; Oleh Evy] Jakarta – Inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di Indonesia sangat jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara di Asia seperti China dan Jepang. Hal ini disebabkan kurangnya pengembangan riset dan pengembangan. Karena itu, strategi kerja sama antara dunia akademis, bisnis dan pemerintah perlu diterapkan secara berkesinambungan dan terencana.Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie, Senin (23/7), dalam seminar bertema ”Challenges, Opportunitues and Innovation Through R and D in the Pharmaceutical Industries”, di Gedung Widya Graha, LIPI, Jakarta.

Selama ini problem dasar pengembangan riset adalah tidak adanya yang menjembatani antara kepentingan para ilmuwan dengan industri. Banyak hasil-hasil riset yang tidak bisa diaplikasikan lantaran dinilai kurang memberikan keuntungan dan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. ”Pengembangan riset terbentur kendala dana, kurangnya fasilitas dan kurangnya penghargaan pada peneliti,” ujarnya.

Dr Arief Budi Witarto, peneliti dari LIPI, menyatakan, pengembangan riset selama ini sangat lamban lantaran kekurangan dana, tidak memiliki fasilitas yang lengkap dan minimnya renumerasi bagi para peneliti. ”Dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lain seperti India dan Kuba, fasilitas penelitian di Indonesia masih kalah lengkap. Ini menghambat aktivitas penelitian,” tuturnya.

Untuk itu, Umar Anggara menyatakan kemitraan model triple helix harus diperkuat melalui kerjasama antara dunia akademi, industri dan pemerintah. Model kemitraan ini akan membuka kesempatan untuk memperkuat kerjasama dalam bidang riset dan aplikasi hasil riset yang lebih baik bagi masyarakat secara umum, dan khususnya bagi pengembangan nasional.

Komisaris PT Kalbe Boenyamin Setiawan menambahkan, dunia akademi harus lebih membuka diri dan bekerja sama lebih erat dengan dunia industri. Universitas tetap harus melakukan penelitian dasar sebesar 60 persen, dan aplikasi riset serta pengembangan 40 persen. Sedangkan dunia industri harus menyediakan dana dan proyek penelitian yang dapat dikerjakan mahasiswa S1, S2 maupun S3,

Selain itu, pemerintah harus menciptakan lingkungan yang kondusif untuk melakukan R and D sehingga sumber daya alam yang berlimpah dan menghasilkan nilai tambah. “Jumlah entrepreneur di dunia akademis, pemerintah dan industri harus ditingkatkan, sehingga riset-riset yang dilakukan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan industri sebagaimana terjadi di beberapa negara,” ujarnya.

Entry filed under: 2. RISET, Riset & Laboratorium. Tags: .

Biotechnology as a challenge Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: