HUT Ke-38 LIPI: Pembudayaan Penelitian di Masyarakat Kurang

January 5, 2008 at 6:04 pm Leave a comment

[Media Indonesia, Kamis, 11.8.2005; Oleh CR-53/H-5 ] Jakarta – Perkembangan penelitian di Indonesia selain terhambat dalam segi dana pemerintah juga disebabkan kurangnya pembudayaan penelitian di kalangan masyarakat.

Peneliti Indonesia bidang astrofisika Johny Setiawan mengemukakan hal tersebut pada acara Temu Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, kemarin. Acara ini dalam rangka memperingati HUT ke-38 LIPI.

“Apresiasi masyarakat terhadap peneliti rendah karena pemerintah kurang membudayakan penelitian di kalangan masyarakat, terutama pada generasi muda,” ujar dosen Max Planck Institut fur Astronomie Heidelberg, Jerman, itu.

Di sisi lain, Johny mengkritik para peneliti Indonesia yang tidak mempunyai konsep untuk mengembangkan ilmunya di Indonesia. Tetapi ketika berada di luar negeri, mereka mampu mengembangkan konsep-konsepnya karena didukung dengan faktor teknologi yang menunjang. “Demikianlah keadaannya sekarang,” tuturnya.

Johny meminta pemerintah meniru negara-negara Eropa yang memiliki rencana ke depan yang jelas di bidang penelitian. Kondisi tersebut membuat dunia penelitian di negara-negara Eropa itu berkembang pesat sesuai dengan kemajuan zaman.

“Untuk tahun 2015 dan 2020 negara-negara Eropa sudah mempunyai rancangan proyek yang tengah dimatangkan sekarang ini,” ujar Johny.

Menurut dia, sebenarnya generasi muda Indonesia mampu mempersiapkan diri untuk bergabung dengan para peneliti luar negeri karena banyak proyek penelitian itu memiliki jangka waktu yang relatif sangat lama.

“Peneliti muda Indonesia yang potensial bisa terlibat dalam proyek penelitian luar negeri tahun 2015 dan 2020. Adalah mereka yang baru lulus SMA tahun 2005 ataupun sarjana yang baru lulus tahun 1999 dan 2000,” ungkap Johny.

Peneliti Pusat Kalibrasi Instrumentasi Metrologi LIPI Anto Tri Sugiarto juga mengungkapkan, permasalahan dana penelitian yang memang cukup sulit ditangani karena dunia swasta yang diharapkan ikut membantu ternyata tidak berminat.

Contoh besarnya dana ini terlihat bila melakukan penelitian di Indonesia yang menghabiskan biaya sekitar Rp100 juta. Sedangkan di Jepang hanya dengan 1 juta yen atau setara dengan Rp85 juta suatu penelitian dapat dilakukan. “Dengan dana sebesar itu, peneliti Indonesia dari mana uangnya?” katanya.

Dia menjelaskan minat meneliti di kalangan peneliti muda Indonesia juga memang masih rendah. Selain bakat menulis yang kurang, ditambah sedikitnya penghargaan, membuat mereka kurang terpacu untuk berpraktik.

Selain Johny dan Anto, dalam acara tersebut hadir pula peneliti muda LIPI Arief Budi Witarto dan Nurul Taufikurohman. Keempat peneliti itu saling berbagai pengalaman dalam penelitian mereka, baik yang diakui di tingkat nasional maupun internasional.

Entry filed under: 2. RISET, 3. PENGHARGAAN, Lindau Nobel Meeting, Riset & Laboratorium. Tags: .

LIPI Cari Peneliti Mandiri Indonesia Harus Serius Kembangkan Bioteknologi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: