Heboh Nephenthes Pembawa Hoki

January 5, 2008 at 6:10 pm Leave a comment

[Trubus, 2006; Oleh RN-Datinfo] Awal April 2006 di AJBS Surabaya. Ayub S Parnata dibantu seorang pegawai baru saja menurunkan beberapa dus karton dari sebuah minibus. Mereka tengah bersiap untuk menata stan di ajang Surabaya Orchids Show 2006. Belum sempat barang dibawa ke dalam ruang pameran, beberapa orang datang menghampiri. Tanpa banyak bicara, mereka langsung memilih-milih barang di dalam dus. Dalam hitungan menit, 500 pot nepenthes yang dibawa ludes terjual. Dengan harga minimal Rp150.000 per pot, Ayub memperoleh pendapatan Rp25-juta. Padahal beberapa jenis dijual dengan harga Rp350.000 per pot. Pantas Ayub memilih untuk pulang ke Bandung tanpa sempat berpameran.

Kisah manis berlanjut waktu pemilik nurseri Racie Orchids di Bandung itu berpartisipasi dalam ekshibisi Bali Orchids Show di Bali 2 bulan berselang. Kantong beruk yang dibawa pun laris-manis. Sebut saja misalnya Nepenthes gymnamphora, N. rafflesiana, N. bicalcarata, N. mirabilis, dan N. gracilis. Destika Cahyana, wartawan Trubus melihat, kantong-kantong beruk setinggi 30 – 50 cm dalam pot 12 cm dengan cepat berpindah ke tangan pengunjung. Volume penjualan selama pameran pada 14 – 20 Juni 2006 itu, 500 pot dengan harga sama. Berarti lagi-lagi minimal Rp25-juta masuk ke pundi-pundi Ayub. Benar rupanya apa kata Dr Akino W Azzaro, master feng shui di Jakarta Pusat. Nepenthes pembawa hoki. (baca: boks kecil halaman 15)

Masih di ajang sama, Agustina Listiawati pun menuai rupiah. Total jenderal, penangkar nepenthes di Pontianak itu menuai omzet Rp34-juta. Itu keuntungan penjualan 500 pot N. rafflesiana merah muda, N. ampullaria merah, dan N. bicalcarata dengan harga Rp75.000 – Rp150.000 per pot.

Penelusuran Trubus ke berbagai daerah, anggota famili Nepenthaceae memang tengah digandrungi. Salah satu indikator yang mudah dipantau adalah kisah sukses para pemilik nurseri di ajang pameran. Dalam Trubus Agro Expo WTCM2 pada 18 Mei – 4 Juni 2006, stan Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia (KTKI) yang dimotori M. Apriza Suska, salah satu yang menyedot perhatian pengunjung.

Maklum stan itu menampilkan beragam jenis ketakung – nama nepenthes di Kalimantan – yang menarik. Sebut saja N. gracilis nigropurpurea yang berkantong merah kehitaman, N. truncata berdaun seperti hati, dan N. sanguinea yang langsing dan kecokelatan. Pantas bila pengunjung rela merogoh kantong Rp50.000 hingga Rp1,5-juta. Hingga akhir pameran, sebanyak 500 pot terjual.

Nurseri

Pun Vonny Asmarani yang baru 2 kali berekshibisi: pada Surabaya Orchids Show (April) dan Bali Orchids Show (Juni). Awalnya saya pesimis. Tapi ternyata banyak kolektor yang datang mencari, ujar perempuan yang lebih dikenal sebagai penganggrek dan pemain adenium itu.

Para pemain sepakat, mayoritas pembeli adalah hobiis baru. Waktu Trubus mampir di stan KTKI pada Trubus Agro Expo WTCM2, beberapa kali penjaga stan terlihat memberi penjelasan kepada pengunjung yang datang. Pertanyaan ini tanaman apa dan bagaimana bisa menangkap serangga terlontar. Di antara mereka, ada yang langsung membeli satu-dua pot.

Tren itu juga mulai terlihat dari penjualan di beberapa nurseri. Setiap bulan Agustina Listiawati mengantongi omzet Rp1-juta – Rp2-juta dari penjualan nepenthes. Di Banyumas, Tarikin menjual sekitar 20 pot nepenthes per bulan. Sementara penjualan rutin Apriza mencapai 200 pot per bulan. Rata-rata jenis N. ampullaria, N. ventrata, dan N. rafflesiana yang diminta. Kota Hujan, dari nurseri di kawasan Baranangsiang, sejak 8 bulan terakhir Edison menjual 200 pot seharga Rp75.000 – Rp100.000 tanaman setinggi minimal 20 cm.

Eksotis

Bukan tanpa alasan jika tahul-tahul – begitu sebutan di sebagian Sumatera – digemari. Penampilan tanaman pemakan serangga itu memang impresif. Dari ujung daun, keluar kantong yang punya bentuk dan corak beragam. Sebut saja misalnya N. ampullaria yang berkantong bulat telur seperti ampul (ampul dalam bahasa Latin berarti kandung kemih, red). Atau N. reinwardtiana yang seksi karena bentuk kantong berpinggang dan langsing. Ada pula N. rajah yang dinobatkan sebagai ketakung berkantong terbesar.

Bentuk kantong di bagian bawah dan atas pun berbeda. Misal kantong roset dan kantong bawah N. rafflesiana lebih bulat dan bersayap. Sementara kantong atas memanjang, ramping seperti corong, dan tidak memiliki sayap, tutur Rusdi Tamin, pakar identifikasi nepenthes dari Universitas Andalas. Warna dan corak kantong kobe-kobe – sebutan di Papua – pun beragam – bahkan dalam satu jenis. Trubus menemukan N. ampullaria berkantong hijau dengan bibir merah, kantong merah bibir merah, kantong merah bibir hijau, kantong merah muda bibir merah muda, kantong berbercak 3 warna – tricolor – hingga kantong hijau pucat dan merah pekat. Perbedaan itu akibat pigmen antosianin. Terkadang ditemukan ciri khusus yang menarik. N. bicalcarata punya 2 taring di balik tutup kantong. Atau N. truncata yang daunnya seperti hati. N. reinwardtiana mudah dikenali dari 2 titik seperti mata di bagian dalam kantong. Sementara N. albomarginata punya garis putih tepat di bawah bibir. Pantas bila penggemar di mancanegara menjulukinya excotic pitcher plant – si pemanjat, merujuk sifat tumbuhnya, yang eksotis.

Paparan Dr Akino W Azzaro, membuat para hobiis kian gandrung pada karukut-en – nama di daerah Mandor, Kalimantan Barat. Dalam ilmu feng shui, setiap kantong penyerap energi, kata Akino. Dipadu dengan warna, setiap kantong punya makna berbeda. Kantong kuning bagus untuk rezeki, sementara kantong merah baik untuk yang susah mendapat pasangan.

Tren dunia

Kolektor tak bakal kehabisan barang koleksi. Maklum di dunia terdapat sekitar 95 spesies yang sudah dipublikasikan. Penyebarannya dari Madagaskar di sebelah barat sampai Kaledonia Baru di timur. Mulai Cina Selatan di utara sampai Australia di selatan. Sebanyak 70% ada di Indonesia. Di tanahair, ketakung menyebar dari Sabang sampai Merauke – kecuali Bali dan Nusa Tenggara.

Itu belum termasuk jenis-jenis hibrida hasil silangan alami dan rekayasa manusia. Australia, Jerman, Belgia, Belanda, Jepang, Sri Lanka, dan Malaysia beberapa negara yang getol membudidayakan nepenthes. Di Australia, Exotica Plant salah satu nurseri besar yang memproduksi hibrida nepenthes, kata Charles Clark, penulis buku Nepenthes of Borneo dan Nepenthes of Sumatera, saat dihubungi via telepon. Menurut pria asal negeri Kanguru yang puluhan kali datang ke Kalimantan itu, di Queensland banyak hobiis melakukan hibridisasi. Hasilnya diperbanyak dengan kultur jaringan.

Di negara-negara itu, tanaman pemakan serangga memang lebih dulu dikembangkan. Pada November 2004, Lewi Pohar Cuaca – marketing manager Monfori Flora – dibuat terkagum-kagum waktu berkunjung ke Pothos Nursery di Belanda. Di dalam sebuah greenhouse raksasa, ribuan N. ventrata dan N. alata tumbuh seragam. Tanaman sudah mengeluarkan kantong meski tinggi belum sejengkal.

Dengan produksi massal, pantas di sana nepenthes mudah ditemukan dan murah. Dr Arief Witarto periset di LIPI, bercerita waktu kuliah di Jepang hingga 2000, ia sempat membeli sepot besar N. ventrata seharga 1.000 yen. Itu setara Rp80.000. Ukuran serupa di tanahair – jenis berbeda – bisa dibanderol jutaan rupiah.

Mati

Hasil penelusuran Trubus ke beberapa pemain di Indonesia nepenthes mulai populer 1 – 2 tahun terakhir. Semula ia hanya tanaman liar di hutan yang tidak dilirik. Setelah dipoles dalam kemasan menarik – dipotkan, dibuat kompak – , si buruk rupa jadi putri cantik. Apalagi beberapa pemain mendatangkan jenis hasil kultur jaringan. Penampilan tanaman hasil budidaya itu lebih menarik. Trubus melihat N. ventrata di nurseri Dr Purbo Djojokusumo di Ciawi, Bogor, dipenuhi kantong. Padahal itu turunan dari induk asal Belanda yang dibeli dalam sebuah pameran di Jakarta pada 1999.

Meski begitu, bukan berarti mengoleksi si kantong beruk tanpa kendala. Meilfin Roza di Jakarta sempat berhenti mengoleksi nepenthes gara-gara ketakung yang ditemukan di pedalaman Sumatera Barat mati setelah 2 bulan dirawat. Mungkin karena itu jenis dataran tinggi. Jadi tidak bisa hidup di dataran rendah, kata pengusaha jasa perkapalan itu. Itu juga yang dialami Wahyu Nano waktu mendapat N. gymnamphora asal Gunung Semeru.

Tanaman asal hutan itu pun sulit diperbanyak. Pengalaman Purbo, 90% setek nepenthes hutan mati. Diduga media tidak tepat dan kelembapan kurang jadi penyebab. Nepenthes menyukai media bersifat asam dan porous. Pertama kali merawat nepenthes, Ir Uhan Suharlan menggunakan media moss. Namun, tanaman justru membusuk. Moss terlalu basah untuk digunakan di nurseri di Cangkuang, Kabupaten Bandung. Apalagi setiap pagi dan sore kantong beruk disiram. Perkara tanaman mesti dipupuk atau tidak pun sempat jadi kontroversi. Koleksi pertama Chandra Gunawan yang dibawa dari Thailand daunnya terbakar setelah dipupuk.

Pantas bila Wahyu Nano memilih untuk tidak memupuk nepenthes. Widyawati di Malang mencemplungkan semut dan serangga lain daripada memberi pupuk, mengikuti pola makan nepenthes di alam. Itu berbeda dengan yang dilakukan Apriza dan Ayub S Parnata. Keduanya memupuk tapi dengan dosis sangat ringan.

Candu

Toh bila batu sandungan bisa diatasi, kecintaan pada nepenthes menjadi-jadi. Sekali berhasil merawat kantong beruk, Meilfin keranjingan mengoleksi. Ia rela menggelontorkan jutaan rupiah untuk mendapatkan N. bicalcarata setinggi 2 m yang digelayuti 22 kantong raksasa. Itu untuk melengkapi koleksi.

Ceko Mulyando di Bogor sampai-sampai dijuluki bandar nepenthes oleh rekan-rekan di kampus lantaran getol memperkenalkan kantong beruk yang jadi koleksi kebanggaan. Sementara Adrian Yusuf Baroto – mahasiswa Jurusan Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, gandrung nepenthes sejak kelas 4 SD. Hobiis baru pun bermunculan. Di Surabaya ada Ferry Siamena, Agus Setyo Yudhanto, dan Yanuar Zulfendi. Di Medan ada Lely Herlina, di Pekanbaru Djuharman Arifi n, serta Ivan di Bandung. Gara-gara mengoleksi kantong beruk mereka yang semula tak saling kenal jadi sering berkumpul. Euforia si periuk monyet pun terlihat dari penambahan jumlah anggota milis nepenthes dan Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia.

Beberapa pemain mulai serius melirik bisnis nepenthes. Sebut saja Drs Suparta Diut. Sejak 3 tahun terakhir, anggota DPRD Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, itu memperbanyak nepenthes dengan cara setek, memisah anakan, dan menumbuhkan biji. Tanaman induk dikumpulkan dari lahan kosong seluas 25 ha milik sendiri. Total jenderal, kini terdapat 4.000 pot di nurserinya. Itu juga yang dilakukan Abdul Kadir di Pontianak dan dan Abdus Samad di Sanggau, Kalimantan Barat. Budidaya itu untuk menghindari eksploitasi tanaman di hutan.

Maklum berdasar kriteria International Union for the Conservation of Nature dan World Conservation Monitoring, nepenthes digolongkan sebagai tanaman langka. Convention on International Trade of Endangered Spesies (CITES) memasukkan kantong beruk dalam Apendiks 2, kecuali N. rajah yang masuk Apendiks 1. Apendiks 1 berarti tanaman hampir punah. Sementara Apendiks 2, langka. Nepenthes boleh diperdagangkan asal berasal dari hasil penangkaran.

Belakangan beberapa pengusaha mencoba memperbanyak ketakung dengan cara kultur jaringan. PT Monfori Flora mulai memperbanyak N. ampullaria dan N. rafflesiana di laboratorium di Parung, Bogor.

Sementara Uhan Suhanta bekerjasama dengan kolega di Malaysia mengkulturjaringankan berbagai jenis. Para pemain getol memperbanyak karena pasar nepenthes tak melulu lokal. Permintaan dari Kanada urung Ayub layani karena stok terbatas. Sementara Lanny Lingga rutin memasok ke Taiwan. Rupanya seperti kata Dr Akino, kantong nepenthes membawa hoki dan rezeki.

Entry filed under: 1. BIOTEKNOLOGI, Molecular Farming. Tags: .

Indonesia Harus Serius Kembangkan Bioteknologi Penghargaan untuk Para Tokoh

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,991 hits

%d bloggers like this: