Berharap Mandiri dari Biotek Farmasi Sendiri

January 5, 2008 at 7:25 pm Leave a comment

[Republika, Selasa, 28.9.2004; Oleh wed] Indonesia sebenarnya mampu menghasilkan produk-produk biotek, namun hasilnya tidak dikembangkan untuk diproduksi secara besar-besaran. Padahal, SDM untuk hal ini sudah ada. Cinta produksi dalam negeri. Kalimat tersebut sering dan sudah lama didengungkan oleh pejabat dan banyak kalangan di Indonesia. Agaknya kata-kata itu baru diterapkan pada bidang-bidang tertentu.

Di bidang kesehatan, misalnya, slogan tersebut bahkan jauh dari jangkauan. Lihat saja jenis-jenis peralatan medis hingga obat-obatan. Menurut beberapa kalangan kesehatan, ketergantungan bidang kesehatan terhadap barang-barang impor masih lebih dari 80 persen.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Teknologi terbaru dalam bidang kesehatan memang sudah semakin maju. Penguasaan teknologi pun sudah diraih oleh para tenaga kesehatan di negara ini. Hanya saja, Indonesia masih terus mengandalkan produk kesehatan dan obat-obatan asing. Tentu saja harga dari semua produk itu mahal.

Memang, semakin baru teknologi yang diterapkan, maka semakin mahal pula biaya yang harus ditanggung oleh para penggunanya. ”Masuk akal karena biaya untuk penelitian pun sangat mahal. Namun, bila produk sudah diproduksi di dalam negeri secara massal dan digunakan oleh masyarakat sendiri, harganya bisa ditekan hingga lebih dari 10 persen,” ujar Direktur Utama RS Kanker Dharmais, Prof Dr Samsuridjal Djauzi dalam pembahasan biotek dan industri farmasi di Indonesia.

Diskusi panel di Jakarta pekan lalu itu menyatakan bahwa kebutuhan produk biotek farmasi semakin meningkat. Namun, kebutuhan tersebut belum mampu dicukupi oleh industri farmasi dalam negeri.

Kebutuhan tinggi

Bioteknologi farmasi merupakan jaringan berbagai bidang ilmu yang didasari atas biologi molekuler dan lain-lain untuk membuat produk farmasi. Biotek tersebut bisa saja menghasilkan DNA, RNA, atau produk lainnya sebagai obat atau vaksin.

Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Obat Alam Indonesia Departemen Farmasi Universitas Indonesia, Dr Maksum Radji, penelitian yang berkaitan dengan biotek sudah cukup banyak. ”Hanya saja, kita terbatas pada kapasitas masing-masing. Tak dikembangkan lebih lanjut untuk diproduksi secara besar-besaran. Untuk SDM bidang ini kita sudah mempunyai.”

Perkataan Maksum ini diarahkan agar berbagai pihak bisa bekerja sama dalam memanfaatkan hasil penelitian yang sudah cukup banyak dilakukan oleh berbagai instansi penelitian. ”Kita selama ini banyak menggunakan hasil dari luar. Kita sendiri sebenarnya mampu. Justru itu, kita harus siapkan diri untuk mengantisipasi serbuan produk-produk yang ada,” sambung Maksum.

Kebutuhan hasil biotek farmasi di Indonesia cukup tinggi. Dengan penduduk sebesar 220 juta orang, berbagai penyakit juga beragam diderita oleh masyarakat. Untuk itu, masyarakat butuh obat, vaksin, dan produk lainnya di bidang kesehatan. Produk-produk tersebut merupakan hasil dari biotek farmasi. Di Indonesia penyakit infeksi seperti hepatitis B, tipus, HIV, Flu, dan lainnya sudah marak. Untuk mencegah berbagai infeksi ini, vaksin sangat dibutuhkan.

Beberapa instansi penelitian sudah menghasilkan beberapa reagen untuk vaksin-vaksin tertentu. Instansi penelitian tersebut ada di universitas-universitas, Lembaga Eijkman, Lembaga Hepatika Mataram, pusat penelitian di rumah-rumah sakit, dan perusahaan atau industri farmasi. ”Sebagian dari mereka bahkan ada yang sudah memproduksi penemuannya. Bahkan, tak sedikit dari produk mereka yang sudah diekspor ke luar negeri,” ujar Samsuridjal.

Kemampuan dalam negeri

Ketika mengunjungi sebuah puskesmas di Havana, Kuba, tim peneliti dari Indonesia menyaksikan seorang pasien sedang mendapat terapi streptokinase. Alat perekam jantung, monitor, bahkan defibrilator dan mesin untuk pemeriksaan laboratorium semuanya buatan Kuba. Di Indonesia terapi itu diberikan hanya di rumah-rumah sakit besar karena produknya impor dan mahal.

Pernyataan Menristek RI Hatta Rajasa yang menyayangkan banyak hasil penelitian yang tidak ditindak lanjuti oleh industri patut diperhatikan. Menurut Samsuridjal, negara ini perlu belajar dari Kuba. Negara kecil itu tidak kaya, namun bioteknya berkembang pesat. Kerja sama erat universitas, industri, dan komitmen pemerintah dapat menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat, serta dihargai oleh masyarakat ilmiah internasional.

”Kita perlu ada advokasi untuk menyampaikan ke pemerintah. Pasar kita besar. Sekarang sulit sekali menemukan produk nasional. Sewaktu-waktu, kita harus memroduksi dalam negeri. Bila kita mau mandiri, kita harus saling bekerja sama antara lembaga penelitian, industri farmasi, dan juga pemerintah,” sambungnya.

Menurut Direktur Utama PT Kimia Farma Drs Gunawan Pranoto Apt, kebutuhan industri untuk menghasilkan produk farmasi sangat tinggi. Hanya saja, kapasitas penelitian sangat terbatas. Karena itu, kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian, khususnya di bidang biotek, sangat dibutuhkan. ”Kami berharap, kerja sama ini bisa terjalin secepatnya. Diawali dari proyek yang kecil asal nyata. Kerja sama ini diharapkan bisa membuahkan hasil yang bisa dinikmati masyarakat luas dan meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia,” ujar Gunawan.

Samsuridjal mengakui bahwa kemampuan peneliti biotek Indonesia cukup banyak. Ironisnya, lebih banyak mereka bekerja di negara lain. Bila Indonesia memiliki program pengembangan biotek dan produknya yang jelas, maka SDM tersebut bisa saja pulang lagi ke negaranya sendiri.

Sebagai perbandingan, penelitian biomedis di Argentina, misalnya, telah berhasil memperoleh hadiah Nobel. Namun, kemajuan biotek di Argentina secara keseluruhan tidaklah banyak terdorong bahkan para peneliti yang memperoleh penghargaan internasional biasanya pindah ke negara maju.

Karena itu, sudah saatnya sekarang dibangun industri biotek farmasi secara terpadu. Tentunya pemerintah perlu dana yang cukup besar. ”Proyek biotek ini besar dengan ratusan temuan, namun yang bisa diambil paling 1-2 jenis. Karena itu, risikonya perlu ditanggung bersama, termasuk pemerintah,” ungkap Samsuridjal. Bila sudah diproduksi dalam skala besar, lanjutnya, keuntungannya pun besar. Daya serap nasional tinggi. Keuntungan tersebut bisa diserap untuk kemajuan dari biotek nasional lewat riset-risetnya.

Belajar dari Kuba

Kuba dikenal sebagai negara pengekspor produk biotek farmasi. Masyarakat ilmiah internasional mengenal negara ini dari bidang penelitiannya. Komitmen pemerintah Kuba untuk mengutamakan penggunaan produk dalam negeri berhasil memajukan industri biotek dan alat kedokteran. Hasil penelitian di universitas atau lembaga penelitian dimanfaatkan oleh pemerintah untuk layanan masyarakat.

Produk obat, reagen maupun alat kedokteran, digunakan oleh pemerintah secara nasional. Tak heran, sekitar 85 persen kebutuhan untuk pelayanan kesehatan di Kuba diproduksi di dalam negeri. Negara ini mengembangkan industri biotek sejak tahun 1970-an dengan mengirimkan tenaga untuk belajar di Eropa dan Jepang. Pada 1981 pemerintah menyediakan dana yang besar, dan mendirikan pusat biotek di Havana Barat dan di berbagai provinsi. Karena jumlah tenaga terlatih mencukupi, mereka tidak banyak bergantung pada tenaga asing.

Salah satu penemuannya adalah Synthetic Conjugate Polysaccharide Vaccine untuk Haemophylus Influenza Type b (Hib) yang kini sudah diproduksi massal dan diekspor. Penemunya adalah Dr Vincente Verez Bencomo dan para peneliti di Laboratorium Sintetik Antigen, Fakultas Kimia, Universitas Havana.

Vaksin Hib dikembangkan dari antigen yang berasal dari polisakarida ekstrak bakteri. Namun, para peneliti Kuba ini mengembangkan antigen karbohidrat dengan cara sintesis kimia. Cara sintesis ini lebih menguntungkan daripada ekstrak natural karena lebih murni dan dapat diproduksi secara massal dan harga lebih murah. Dengan keberhasilan dalam antigen vaksin Hepatitis B ini, maka ada peluang untuk menerapkan pendekatan ini dalam memproduksi vaksin malaria, kanker, dan HIV.

Laboratorium universitas itu bekerja sama dengan pusat biotek Center for Genetic Engineering and Biotechnology (CIGB) untuk produksi berskala besar. Menurut Dirut RS Kanker Dharmais Prof Dr Samsuridjal Djauzi yang berkunjung ke sana, laboratorium pusat biotek ini sederhana dan tak besar. ”Ruangannya tidak lebih besar daripada laboratorium biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.”

Meski begitu, peneliti LIPI Dr Arief Budi Witarto mengatakan, peralatan serta cara kerja mereka menyaingi negara maju. Di laboratorium ada sekitar 40 orang peneliti muda yang bekerja, namun sebagian besar bukan staf Fakultas Kimia. Mereka mahasiswa tingkat master dan doktor dari berbagai instansi dan industri.

Pada umumnya topik penelitian di universitas itu ditindaklanjuti menjadi produk industri biotek dan dipasarkan ke internasional. Direktur Utama CIGB, Dr Luis Herrera mengungkapkan, CIGB mengekspor produknya sekitar 40 juta dolar AS per tahun. Salah satu produk andalannya adalah vaksin hepatitis B yang dihasilkan dari teknik rekombinan DNA.

”Di CIGB pun banyak tenaga pengajar universitas. Jadi, tak hanya karyawan industri,” ujar Samsuridjal. CIGB mempunyai unit penelitian, dan pengembangan produk dan manufaktur. Selain itu, ada anak perusahaan yang memasarkan produk CIGB ke pasar dunia. Dengan demikian, antara penelitian, pengembangan produk, manufaktur sampai pemasaran berjalan secara terpadu.

Uniknya, salah satu unit, Center for Immunology Molecular (CIM) yang memproduksi produk berbasis teknik antibodi monoklonal awalnya berupa unit penelitian RS kanker di Havana. Unit ini kini menjadi sebuah industri.

Entry filed under: Bioteknologi & Industri. Tags: .

Pendidikan di Negara Miskin Protein dan Perempuan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: