Arief dan Obsesi Keunggulan SDM

January 5, 2008 at 5:46 pm Leave a comment

[Kompas, Sabtu, 14.2.2004; Oleh Gesit Ariyanto] [Download file PDF 540 KB ariefwitarto_dikompas_14februari2004.pdf] Jepang selama ini selalu diyakini unggul dalam segalanya dibandingkan dengan Indonesia, termasuk tingkat kecerdasan penduduknya. Karena itu, Arief Budi Witarto (32), peneliti penerima penghargaan Toray Indonesia 2004, terobsesi mematahkan penilaian yang dianggapnya menyesatkan itu.

OBSESI Arief bukan tanpa dasar. Dua belas tahun dihabiskannya di Jepang untuk meraih gelar sarjana hingga post-doctoral sehingga ia tahu betul apa yang berlangsung dalam pendidikan di Jepang.

“Sering digambarkan bahwa orang Jepang itu serba super dengan kecerdasan di atas rata-rata. Padahal, banyak mahasiswa Jepang yang tidak pintar, tidak serius, dan suka membolos sehingga jadi sasaran kemarahan dosen,” katanya.

Matanya semakin terbuka saat mendapat kepercayaan dari profesornya untuk membimbing tesis mahasiswa S2 dari Jepang, ketika menyelesaikan program S3 di Tokyo University of Agriculture and Technology. Kualitas kerja dan pemikiran manusia Jepang ternyata tidak istimewa. “Kesimpulan saya, mereka juga biasa saja,” ungkap peneliti di Pusat Riset Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

Bedanya adalah mereka memiliki disiplin lebih tinggi. “Begitu diberi satu pengantar, langsung dikerjakan tanpa menunggu perintah selanjutnya,” ungkap dia.

Hatinya bergetar menyadari kualitas individu Indonesia yang tidak kalah cerdas, tetapi tidak dikenal di kancah ilmuwan internasional, bahkan juga apabila dibandingkan dengan Malaysia. Padahal, mahasiswa Melayu asal Malaysia yang dikirim ke Jepang lebih banyak yang bermalas-malasan belajar.

KESIMPULANNYA mantap, Indonesia sebenarnya mampu bersaing dan dikenal dengan sumber daya manusia (SDM) unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Syaratnya adalah sistem pendidikan dan penelitian di Indonesia dirombak.

Misalnya, siswa Indonesia jangan lagi dicekoki banyak ilmu. Di Jepang, yang penting mahasiswa memahami esensi perkuliahan. Selanjutnya, guru, dosen, atau profesor menampung dan mengarahkan minat siswa.

Ini berarti perlu pengajar di setiap tingkatan yang mengajar dengan hati. Tidak hanya memberi perintah atau tugas, tetapi juga pendampingan langsung di laboratorium maupun di lapangan. “Selama pendidik masih sibuk dengan persoalan untuk mencukupi kebutuhan hidup, maka percepatan menuju manusia Indonesia unggul akan sulit terwujud. Namun, justru persoalan itulah yang kini menimpa dunia pendidikan,” katanya menambahkan.

Meski terbentur sistem pendidikan yang tidak mendukung, obsesi Arief tidak bergeser. Upayanya mengembangkan iklim penelitian dan sumber daya manusia di Indonesia dimulai dengan keputusan kembali ke Tanah Air begitu studinya selesai. Padahal, saat itu ia sudah ditawari bekerja sebagai kepala divisi penelitian di sebuah perusahaan kosmetik di Jepang. Secara finansial, hidupnya bersama istri dan tiga anak akan lebih tenang dengan penghasilan lebih dari cukup.

Ia memilih pulang dan bekerja sebagai peneliti LIPI dengan gaji di bawah Rp 1,5 juta per bulan. Ia juga mengajar di program pascasarjana Universitas Indonesia, dengan harapan bisa memotivasi dan menularkan apa yang diperoleh selama belajar di Jepang. Hal itu dijalaninya dengan risiko beberapa pekerjaan kantornya di LIPI harus diselesaikan di rumah.

Oleh karena itu, lantai kedua rumahnya di kawasan Depok, Jawa Barat, diubah menjadi ruangan kerja lengkap dengan deretan buku- buku, jurnal, hasil penelitian, dan seperangkat komputer.

Dengan obsesi bisa melahirkan peneliti unggul dari Indonesia, ia berupaya mengarahkan anak didik yang dinilainya berpotensi belajar ke Jepang. Pertengahan tahun 2004, ia akan menemui profesornya di Jepang untuk membimbing mereka. “Saya tidak ingin membiarkan mahasiswa yang berpotensi hilang begitu saja,” ungkapnya.

KIPRAH Arief di bidang bioteknologi berawal tahun 1989, saat ia mendaftar pada Science and Technology Manpower Development Program-lebih dikenal sebagai “Program Habibie”-yang merekrut siswa-siswi sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) berpotensi untuk bersekolah di luar negeri. Ia bersama 150-an siswa dari berbagai kawasan Indonesia lolos dari proses penyaringan ketat yang terdiri atas empat tahap.

Lulusan SMA I Yogyakarta itu pun dikirim ke Jepang untuk belajar bioteknologi. Sebelumnya Arief sempat kuliah satu setengah semester di Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta Institut Teknologi Bandung.

Namun, ia sempat frustrasi ketika pulang. Pengelolaan buruk ternyata tidak hanya terjadi di dunia pendidikan, tetapi juga penelitian. Kepentingan peneliti belum diakomodasi pemerintah dalam sebuah sistem yang baik sehingga banyak akademisi atau peneliti yang tidak serius meneliti. “Kalau begini terus, bagaimana Indonesia bisa maju,” ujarnya.

Untunglah, obsesinya untuk ikut andil mengembangkan tidak hanya sumber daya manusia, tetapi juga iklim penelitian, menguatkannya. Maka, dengan segala keterbatasan yang ada, ia mencoba menekuni tugasnya: meneliti rekayasa protein untuk diaplikasikan dalam dunia kedokteran. Itulah yang membuatnya mendapat penghargaan Toray 2004.

Protein solid hasil rekayasa, yang dihasilkan bersama tim di Jepang, kini digunakan perusahaan Amerika Serikat untuk diaplikasikan pada alat pendeteksi diabetes. Darah pasien yang dicampur dengan cairan protein solid dimasukkan ke alat pengukur gula darah. Dalam hitungan menit diperoleh hasilnya.

Temuan ini merevolusi pendeteksian penyakit yang memakan waktu. Dengan metode yang sama, kini dikembangkan rekayasa protein untuk menghasilkan protein solid pendeteksi kanker.

Menurut Arief, segala keterbatasan memang tidak boleh membuat peneliti mundur atau meneliti asal-asalan. Namun, semangat ini harus didukung pemerintah dengan mengubah sistem yang ada menjadi lebih suportif dan akomodatif. “Misalnya, pengadaan alat penelitian yang tidak lagi birokratis. Soalnya, pernah penelitian berhenti berbulan-bulan hanya karena menunggu peralatan datang,” kata Arief.

Entry filed under: 4. PROFIL, Riset & Pendidikan, Science & Technology Award. Tags: .

Prof Dr Ryoji Noyori: Guru, Murid, dan Sistem Kunci Keberhasilan Indonesia Rintis “Molecular Farming”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: