Ramadan bagi Ilmuwan

January 4, 2008 at 10:55 pm Leave a comment

[Koran Tempo, Senin, 17.10.2005; Oleh Arief B. Witarto] Al-Quran menyebutkan bahwa ilmu adalah jaminan ketinggian iman seorang hamba (QS 58:11). Hal ini karena tersebarnya tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta sebagai ayat-ayat kauniyah, yang menjadi obyek pengamatan dan penelitian untuk mengenal Sang Pencipta lebih dekat.Ilmu pengetahuan

Teknologi sering diibaratkan pedang bermata dua. Sekali waktu bermanfaat bagi manusia, di lain kesempatan dapat sangat mematikan. Kegunaannya bergantung pada yang memegangnya. Bagaimana kadar keimanan ilmuwan Barat yang memegang kendali ilmu pengetahuan saat ini?

Penelitian Edward Larson, profesor hukum dan sejarah di Georgia University, Amerika Serikat, yang juga peraih Hadiah Pulitzer, yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 1998, menemukan bahwa 90 persen ilmuwan terpandang di National Academy of Science tak percaya atau ragu atas keberadaan Tuhan. Seiring dengan itu, mayoritas ilmuwan itu meyakini kehidupan dunia adalah abadi.

Penemuan serupa juga datang dari psikolog Amerika Serikat, James Leuba, yang menyurvei 1.000 ilmuwan terkenal Amerika Serikat. Menurut Leuba, fenomena ini terjadi karena “keangkuhan ilmiah” akibat dari superior knowledge, understanding, dan experience para ilmuwan terkenal tersebut.

Ilmuwan memiliki iman

Dalam pandangan Islam, tentu saja ilmuwan perlu memiliki iman. Justru ilmu pengetahuan membekali muslim dengan iman yang kuat. Tuhan tidak takut menyuruh manusia terus menggali ayat-ayat-Nya di muka bumi: menantang manusia menguak rahasia alam, yang menggelitik rasa ingin tahu manusia untuk menggali pengetahuan. Al-Quran dipenuhi petunjuk tentang rahasia alam yang bersifat saintifik (QS: 3, 190).

Paham materialisme telah merusak pandangan religius manusia. Islam memandang manusia sebagai makhluk dengan jasad, pikir, dan roh, sedangkan dalam pandangan manusia modern, manusia tak lebih dari “gumpalan daging” yang diatur oleh DNA (deoxyribonucleic acid).

Profesor Richard Dawkins dari Oxford University, Inggris, bahkan mengatakan dalam bukunya, The Selfish Gene, “We are machines for propagating DNA.” Karena manusia adalah materi, sehingga untuk hidup abadi di dunia, manusia modern memikirkan pendekatan yang materialistis juga.

Mereka beranggapan, esensi manusia adalah otak yang menyimpan memori, pikiran, dan kontrol, sehingga mereka berusaha membekukan otaknya setelah mati untuk diawetkan. Beberapa perusahaan telah berdiri dan diminati di Amerika Serikat. Harapannya, di masa depan, mereka bisa hidup lagi dengan mencangkokkan otaknya itu ke tubuh donor.

Bagi yang percaya DNA adalah materi kehidupan, mereka memilih teknologi klon. Pengklonan reproduksi untuk membuat kopi dirinya sendiri, pengklonan terapi untuk mengganti organ/jaringannya yang rusak karena proses penuaan, seperti mobil ganti suku cadang.

Di lain pihak, muslim meyakini keberadaan roh yang abadi. Kematian hanyalah proses perpindahan roh dari alam dunia ke alam akhirat. Roh bersifat gaib dan Tuhan melarang manusia mempelajarinya karena keterbatasan ilmu manusia sendiri (QS: 17, 85).

Menggali ilmu

Sejarah zaman keemasan Islam membuktikan, pencarian ilmu pengetahuan adalah bagian dari manifestasi keimanan. Nabi Muhammad SAW memerintahkan kaum muslim mencari ilmu sampai ke negeri Cina.

Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averroes) adalah contoh ilmuwan yang juga tokoh agama. Islam tidak membedakan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, justru nilai-nilai agama menyatu dalam seluruh aspek kehidupan ilmuwan muslim (QS: 3, 191).

Bagaimana ilmuwan muslim dalam belantara ilmu yang materialistis ini tetap survive dengan keyakinannya? Dalam upaya menggali ilmu, setidaknya muslim memiliki empat pandangan yang melatarbelakangi.

Pertama, ke-Esa-an Tuhan (tauhid). Implikasinya bahwa seluruh makhluk ciptaan-Nya pun bersifat satu/integral dan saling berhubungan (QS: 21, 22). Langkah-langkah ilmuwan muslim seperti Abdus Salam, yang mendapat Hadiah Nobel Fisika untuk meletakkan dasar unifying energy, adalah contoh yang baik.

Kedua, keyakinan ilmuwan muslim akan keterbatasan ilmu manusia dan sebaliknya Tuhan sebagai Yang Maha Tahu (QS: 16, 78). Muslim sadar, ilmu pengetahuan yang digalinya berdasar indra semata, sedangkan untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, indra memiliki kekurangan.

Ketiga, muslim menyadari alam dan seluruh isinya diciptakan Tuhan bukan untuk main-main, tapi ada maksudnya (QS: 38, 27). Lalat yang menjijikkan terbukti mengantarkan manusia memahami kehidupan. Hadiah Nobel Kedokteran 1995 diberikan kepada peneliti yang mengungkap rahasia kontrol genetik pada perkembangan awal embrio menggunakan lalat.

Keempat, ilmuwan muslim memiliki komitmen moral untuk menjadi khalifah di muka bumi, berlaku adil terhadap seluruh ciptaan Tuhan (QS: 38, 26).

Seruan puasa Ramadan ditujukan kepada orang-orang yang beriman (QS: 2, 183). Maka dengan latihan-latihan ibadah dalam bulan suci ini, ilmuwan muslim akan menundukkan akal dan pikirannya di bawah kendali rohnya. Keangkuhan ilmiah digantikan dengan kedekatan Ilahiyah. [*]

 Klik di sini untuk versi asli di Koran Tempo. (Perlu login)

Entry filed under: Sains & Agama. Tags: .

Gus Dur Hadir, Presiden SBY & Dua Mantan Presiden Absen Bidang Bioteknologi Perlu Disatukan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,991 hits

%d bloggers like this: