Menanti Lahirnya Kerja Sama Pakar Bioteknologi Pertanian

January 4, 2008 at 10:39 pm Leave a comment

[Suara Pembaruan, Selasa, 30.12.2003; Oleh L-11] Salah satu cara perbanyakan bibit tanaman jati mas (Tektona grandis) adalah melalui sistem kultur jaringan di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi, Serpong, Banten.

Sebetulnya sudah ada sedikit kemajuan seperti yang dilakukan peneliti muda dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Arief B Witarto, yang mengembangkan protein untuk bahan baku obat lewat tumbuhan. Hasil dari terobosan semacam itu bisa memecahkan persoalan mahalnya pengembangan protein yang dibutuhkan sebagai bahan baku obat-obatan. Dengan mengembangkan” pertanian protein” semacam itu memberi harapan diproduksinya obat-obatan yang lebih murah.

Namun, tidak adanya kerja sama antarintansi untuk” mengeroyok” hal serupa membuat kemajuan tersebut nyaris tak terlihat. Para peneliti di lingkungan Badan Litbang Pertanian sendiri belum banyak yang tertarik untuk secara serius menggarap hal itu.

Minimnya komunikasi antarinstansi semacam itu jelas berakibat lambannya kemajuan bioteknologi pertanian di Indonesia sehingga wajar jika Kepala Badan Penelitian dan Pertanian, Departemen Pertanian Dr Joko Budianto, merasa prihatin dengan hal itu. Menurut Joko, salah satu kendala pengembangan bioteknologi pertanian di Indonesia adalah masih rendahnya jaringan kerja sama (network) antarlembaga riset di Indonesia.

Untuk itu di samping harus mampu berlari cepat untuk mengejar kesuksesan negara-negara maju, para peneliti Indonesia harus cepat melakukan pembenahan-pembenahan antara lain dengan membangun networking antar peneliti lintas intansi secara lebih baik.

Kerja sama antarpeneliti dan antar lembaga riset, selain memperkaya gagasan juga akan menekan biaya penelitian. Karena masing-masing pihak bisa saling melengkapi terutama dalam penggunaan alat atau teknologi yang dibutuhkan.

Beberapa penelitian yang dilakukan Balitbiogen sebetulnya bisa lebih dikembangkan apabila jalinan kerjasama secara luas sudah terwujud.

Misalnya saja hasil penelitian di kompartemen Biologi Molekuler dan Rekayasa Genetika (BMRG) yang sudah menghasilkan antara lain padi tahan penyakit penggerek batang, kedelai tahan penggerek polong, dan jagung tahan penggerek batang. Juga sudah dihasilkan varietas kacang tanah yang tahan terhadap virus dan pepaya yang tahan kemasakan (tidak cepat busuk).

Untuk padi tahan penggerek batang, contohnya varietas code dan angke, kini sudah dikembangkan Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. Varietas code dan angke tahan terhadap penyakit hawar daun yang disebabkan oleh bakteri yaitu penyakit bercak-bercak merah pada daun.

Balitbiogen juga mengembangkan padi yang tahan terhadap tanah masam dan mengandung alumunium tinggi sehingga padi tersebut sangat cocok dikembangkan di lahan-lahan marginal seperti lahan gambut.

Hasil penelitian semacam itu tentu sangat diperlukan oleh petani agar lebih efisien dan efektif. Komponen biaya bertani yang semakin mahal, tentu harus bisa disiasati dengan teknologi semacam itu. Jika petani sudah bisa menikmati hasl jerih payah peneliti barulah hal itu bisa disebut sebagai sebuah prestasi.

Marka Molekuler

Sementara itu, Sugiono Moeljopawiro dari Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, menyoroti pentingnya pengembangan biologi molekuler.

Keterbatasan informasi genetik yang diberikan oleh sifat morfologi selama ini menjadikan pengembangan tanaman unggul berjalan lambat.

Penggunaan marka molekuler (penanda molekuler) untuk menyeleksi sifat yang diinginkan dari keturunan hasil persilangan dengan pelacakan sifat-sifat tanaman berdasarkan DNA yang dimiliki tanaman akan mempercepat proses tersebut.

Salah satu kelebihan dari metode ini adalah mempersingkat pengujian tanaman. Jika dengan cara konvensional diperlukan waktu sedikitnya lima tahun, dengan cara ini hanya diperlukan waktu paling lama tiga tahun. Dengan marka molekuler, pada generasi ketiga tanaman hasil persilangan sudah stabil.

Pada tanaman jagung marka molekuler digunakan untuk mengetahui jarak genetik (hubungan kekerabatan) jagung. Dengan begitu, para pemulia menjadi lebih mudah dalam melakukan persilangan.

Sebagai contoh pemulia mudah untuk merakit tanaman jagung yang tahan bule (penyakit daun bilur putih). Penelitian ini bekerja sama dengan Balai Penelitian Serealia (Balitisereal), Maros, Sulawesi Selatan.

Selanjutnya yang tak kalah pentingnya adalah perlindungan terhadap sumber genetik pertanian Indonesia dari ancaman kepunahan. Oleh karena itu, kegiatan konservasi dengan mendirikan laboratorium Bank Genetik sangat diperlukan. Dan tentu saja, hal itu akan lebih baik jika dilakukan tidak hanya oleh Balitbiogen saja.

Keterlibatan berbagai lembaga riset terkait bisa lebih memperkuat upaya konservasi sumber daya genetik pertanian.

Dengan demikian, memasuki tahun 2004, penguatan jaringan antar peneliti dan lembaga riset bioteknologi menjadi agenda yang harus dikedepankan. Bercerai berai seperti sekarang ini hanya membuat pengembangan bioteknologi seperti jalan di tempat.

Sementara para peneliti asing setiap saat mencuri sumber daya genetik Indonesia untuk kepentingan mereka. Bersatu mengembangakan bioteknologi pertanian juga berarti menghentikan proses penjajahan asing terhadap Indonesia melalui produk-produk teknologinya. Semoga.

Entry filed under: 1. BIOTEKNOLOGI, Molecular Farming. Tags: .

“Brain Drain”: Apakah Hanya Masalah Gaji? Critical Mass Peneliti Indonesia Tidak Pernah Terwujud

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: