Critical Mass Peneliti Indonesia Tidak Pernah Terwujud

January 4, 2008 at 10:45 pm Leave a comment

[Suara Pembaruan, Minggu, 15.2.2004; Oleh Setia Lesmana; Unduh file asli PDF 1.240 KB ariefwitarto_disuarapembaruan_15februari2004.pdf] Dunia riset Indonesia serbakekurangan dan ketinggalan, baik dana, alat-alat, maupun fasilitas lainnya. Karenanya, akan lebih baik jika para peneliti kita lebih memfokuskan penelitiannya pada objek penelitian yang merupakan keunggulan komparatif Indonesia.

Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam. Di sisi lain banyak peneliti Indonesia dengan reputasi dunia lewat karya mereka di jurnal internasional maupun dikenal luas dalam masyarakat ilmiah internasional. Posisi itu diraih karena mereka berhasil menggali potensi tersebut. Misalnya saja peneliti yang melakukan pencarian mikroba-mikroba dari berbagai wilayah eksotik di Tanah Air. Atau juga peneliti yang mengungkapkan kandungan zat rasa dan aroma berbagai buah-buahan serta makanan olahan khas Indonesia.

Penelitian-penelitian itu bisa mengharumkan nama Indonesia dengan penemuan-penemuan baru/orisinil yang mendapat tempat di jurnal internasional.

Mestinya dari temuan orisinil seperti itulah Indonesia bisa sedikit demi sedikit mengembangkan kemampuan untuk mandiri. Misalnya, memproduksi enzim-enzim protease, lipase dan masih banyak lagi untuk industri kulit yang masih bergantung penuh pada produk Cina. Atau berbagai produk biofarmaka yang masih impor dari Eropa, Jepang dan Amerika.

Dr Arief Budi Witarto MEng merupakan seorang ahli bioteknologi kedokteran yang banyak memanfaatkan keunggulan komparatif Indonesia. Pria yang lahir di Lahat, Sumatera Selatan, 33 tahun silam itu mengembangkan penelitian di bidang yang termasuk langka di Indonesia, bioteknologi kedokteran. Salah satu penelitiannya yaitu teknologi biosensor untuk mendeteksi kadar gula seorang penderita diabetes. Hasil penelitiannya itu digunakan perusahaan multinasional AS

Peraih penghargaan peneliti muda terbaik Indonesia bidang rekayasa dan teknologi tahun 2002 itu juga mengembangkan penelitian baru yang mengandalkan keunggulan komparatif Indonesia. Ia mengembangkan teknologi biofarming untuk mendapatkan protein yang merupakan bahan baku vaksin dan obat-obatan melalui tanaman. Penelitiannya ini berhasil menekan biaya produksi protein sehingga diharapkan nantinya bisa diproduksi obat-obatan dengan harga murah.

Tanggal 3 Februari 2004 lalu, Kepala Proyek Penelitian Rekayasa Protein dan Bioinformatika pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI itu berhasil meraih penghargaan ilmiah dari Indonesian Toray Science Foundation (ITSF) atas jasanya mengembangkan Iptek di Indonesia. Penghargaan tersebut sangat bergengsi karena ibarat hadiah Nobel namun untuk skala Indonesia. Seusai penganugerahan, Pembaruan berhasil mewawancarai alumnus Tokyo University itu.

Selamat ya Anda mendapat penghargaan dari ITSF. Bagaimana perasaan Anda setelah mendapat penghargaan itu?

Terima kasih atas ucapan selamatnya. Perasaan saya, senang dan lega. Setahun lalu ketika saya mendapatkan penghargaan Peneliti Muda Indonesia terbaik, saya merasa senang -sebagaimana kali ini- karena hal ini merupakan apresiasi terhadap hasil karya saya.

Kali ini, ada tambahan perasaan yaitu “lega”, karena hampir dua tahun sebagai peneliti di Indonesia, saya semakin merasakan bahwa penghasilan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) belum menutupi kebutuhan hidup. Secara kebetulan saat ini kami sedang menantikan anak ke-4. Jadi hadiah dari Science and Technology Award (STA) dari ITSF ini membuat kami lega, setidaknya untuk sementara waktu.

Untuk siapa keberhasilan ini Anda dedikasikan?

Pertama orang-orang terdekat saya yaitu istri dan anak-anak serta Ibu atas segala pengorbanan dan pengertian mereka. Kedua, seluruh anggota kelompok penelitian saya di Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi- LIPI atas kerja keras dan dedikasinya. Ketiga, teman-teman di luar negeri yang banyak membantu aktivitas penelitian di sini mulai dari mencarikan paper, membeli serta membawakan alat penelitian, mengirimkan data dijital informasi biologis untuk analisa bioinformatika, dan lain-lain.

Bisa Anda ceritakan proses seleksi yang telah Anda lalui?

Berdasarkan informasi dari website ITSF (http://www.itsf.co.id) saya menyampaikan dan mengusulkan diri ke atasan tempat saya bekerja. Saya menulis proposal dan mengirimkan ke Panitia dengan rekomendasi dari Kepala Puslit, Dr. Usep Soetisna. Menurut Dewan Juri seleksi yang diketuai Prof. Dr. M. Aman Wirakartakusumah (Mantan rektor IPB), ada 27 peserta dari berbagai bidang dan profesi seperti guru besar, dosen, peneliti, dan sebagainya.

Awalnya karena kurang teliti, format proposal saya tidak memenuhi syarat (tidak dibendel dan jumlahnya kurang). Untungnya, Panitia berbaik hati mengingatkan hal itu sehingga bisa diperbaiki dan dikirimkan lagi sebelum batas waktu yang ditentukan. Semua proses seleksi mulai dari penulisan proposal, presentasi dan wawancara, semua dilakukan dalam bahasa Inggris.

Selanjutnya Panitia memilih tiga) orang finalis, yaitu saya sendiri , Dr. Tery Mart dan Dr. Evvy Kartini untuk presentasi dan wawancara pada 5 Desember 2003 di kantor ITSF, Gedung Summitmas II, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta. Akhirnya ditetapkan dua pemenang yaitu saya dan Dr. Evvy Kartini.

Apa tema penelitian yang Anda lakukan sehingga Anda berhasil menjadi pemenang?

Saya melakukan penelitian tentang Rekayasa Protein terhadap protein berstruktur Beta-Propeller. Meminjam istilah Prof. Dr. Ryoji Noyori (Penerima Hadiah Nobel Kimia 2001) dalam special lecture-nya pada ITSF Ceremony di Hotel Shangri-La, Jakarta (3 Februari 2004), saya adalah ‘the only one’ yang melakukan penelitian ini di Dunia. Hasil penelitian saya dalam jurnal Protein Engineering yang dipublikasikan oleh Oxford University Press tahun 2001 adalah penelitian pertama di Dunia mengenai rekayasa protein terhadap protein ‘baling-baling’ ini.

Saya teringat waktu sidang akhir disertasi S-3 di Departemen Bioteknologi, Fakultas Teknik, Tokyo University of Agriculture and Technology (Februari 2000), para guru besar penguji bertanya apa topik penelitian saya di masa depan. Saya dengan yakin menjawab, “propelling the knowledge of protein by beta-propeller proteins”.

Walaupun namanya baling-baling, protein ini tidak bisa berputar. Bentuknya saja yang mirip baling-baling. Ada ribuan bentuk protein yang telah diketahui saat ini. Protein baling-baling adalah salah satu di antaranya. Tidak jarang bentuk protein itu disusun oleh bagian yang berulang, tapi hanya protein baling-baling saja yang bagian perulangannya (bagian baling-baling) jumlahnya bisa berbeda dari 4 s/d 8, tapi bentuk akhirnya tetap sama. Keunikan yang menarik dan bentuknya yang indah itulah yang menarik perhatian saya.

Dengan teknik rekayasa protein, saya mengungkapkan beberapa rahasia protein baling-baling. Yang pertama, bahwa interaksi antara kedua ujung rantai polipeptida atau bagian akhir penyusun protein baling-baling ini penting dalam menjaga stabilitas struktur protein ini. Dengan informasi ini, kita dapat menaikkan stabilitas protein baling-baling yang ditemukan pada banyak jenis enzim dan protein yang penting bagi kedokteran. Selain itu, saya juga membuktikan bahwa bagian-bagian protein dapat dipertukarkan untuk mendapatkan protein dengan karakter yang diinginkan. Ibaratnya kita dapat bermain lego tapi pada tingkatan molekuler.

Dari penelitian yang bersifat ‘basic science’ itu bisa lahir banyak kemungkinan yang lebih aplikatif. Misalnya, dua protein baling-baling yang menjadi objek penelitian yaitu enzim PQQ glucose dehydrogenase (PQQGDH) dan enzim sialidase, memiliki potensi besar sebagai alat diagnosa penyakit diabetes dan kanker. Untuk PQQGDH, enzim hasil rekayasa yang memiliki stabilitas lebih tinggi dan spesifitas yang lebih sempit, bahkan telah digunakan oleh perusahaan alat pengukur gula darah di AS.

Penelitian Anda sangat bernilai bagi kemanusiaan, karena menyangkut sesuatu yang sangat penting bagi dunia kedokteran dan farmasi. Mengapa Anda tertarik untuk meneliti hal itu?

Bioteknologi modern lahir tahun 1970-an dengan aplikasi pada kedokteran yaitu produksi protein-protein untuk terapi seperti insulin, hormon pertumbuhan, dan sebagainya. Sampai sekarang, bioteknologi kedokteran adalah bidang paling besar pangsa pasarnya di dunia selain tidak terlalu banyak kontroversinya dibanding aplikasi bioteknologi lain seperti pertanian dan lingkungan.

Untuk kondisi negara berkembang seperti Indonesia, ketergantungan pada produk-produk kedokteran, termasuk hasil kemajuan bioteknologi seperti obat dan vaksin dari jenis protein (lazim disebut dengan istilah biofarmaka), buatan luar negeri sangat besar. Sehingga diperlukan kemandirian dengan penguasaan teknologi. Untuk itulah saya memantapkan diri memilih bidang ini.

Di tempat saya bekerja, dengan beberapa teman yang juga berminat, kami merintis ‘Medical Biotechnology Initiative’ karena yang bekerja dengan serius pada bidang ini belum banyak di Indonesia. Saya juga dipercaya menjadi anggota panel penilai dana penelitian nasional bidang kesehatan khususnya bidang bioteknologi kedokteran.

Bagaimana pendapat Anda tentang dunia penelitian di Indonesia? Lantas bagaimana jika dibandingkan dengan penelitian di negara-negara maju?

Secara individu, sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak kalah unggul. Ketika di Jepang, saya melihat mahasiswa Indonesia berada di ranking atas dibanding mahasiswa asal Malaysia, Cina, India bahkan mahasiswa Jepang sendiri. Tidak jarang kita juga mahasiswa dari daerah/pulau terpencil di Indonesia -yang di tanah air sendiri tidak pernah diperhitungkan sebagai sumber SDM andal-, ‘tiba-tiba’ beprestasi sangat mencolok di Jepang!

Namun sayangnya ‘orang-orang hebat’ itu begitu kembali ke Indonesia, seperti ditelan ‘black-hole’. Namanya tidak pernah muncul dalam pertemuan ilmiah internasional, publikasinya juga tidak pernah terdengar di luar negeri. Apakah artinya ini?

Saya yakin, sistem kitalah yang salah. Kuba yang tidak kalah kekurangannya dibanding Indonesia, bisa maju pesat pada bidang bioteknologi. Indonesia yang telah memberikan perhatian pada pengembangan bioteknologi sejak 20 tahun lalu, hanya berhasil mengorbitkan satu-dua orang saja peneliti tangguh pada bidang ini di tingkat dunia.

Sistem negara ini tidak membedakan antara aktivitas penelitian dan kerja administratif kantoran. Penelitian yang bersifat akumulatif dan memerlukan waktu, dibatasi per-tahun saja. Sehingga kalau penilainya tidak paham prospeknya, penelitian yang baru melangkah bisa tersandung dan tidak bangkit lagi.

Kerja keras peneliti, dihargai sebatas laporan administratif saja, misal berapa banyak lembar dalam laporan/ paper, bukan pada kualitasnya. Konkretnya, 1-2 lembar artikel berkualitas tinggi di jurnal Nature atau jurnal Science yang cukup untuk membawa penelitinya meraih Hadiah Nobel, dalam sistem Indonesia nilainya bisa jauh lebih kecil dibanding publikasi di jurnal-jurnal lokal yang ditulis berpuluh- puluh halaman!

Dana penelitian pun dianggap pengeluaran konsumtif, bukan investasi masa depan, sehingga dikenakan pajak. Belum juga pengelolaan dana tersebut tidak ubahnya belanja barang kelontong di toko. Padahal dalam penelitian seringkali ada barang yang harus diadakan dengan segera karena ada penemuan-penemuan baru, sehingga pengelolaan dana tersebut harusnya fleksibel dan dikelola secara mandiri tapi profesional oleh peneliti sendiri seperti di luar negeri.

Tidak heran, sistem buruk seperti ini membenamkan potensi SDM unggul Indonesia. Hanya orang-orang luar biasa (extra ordinary) saja yang tetap bisa survive karena dapat mengatasinya. Tapi mayoritas peneliti kita tidak dapat mengembangkan potensinya sehingga pergi keluar negeri (brain drain geografis) atau pindah profesi (brain drain bidang). Wajarlah, critical mass peneliti Indonesia tidak pernah terwujud.

Sampai kapan pun, kalau sistem ini tidak dibenahi kita akan terus tertinggal dengan negara-negara yang dulu justeru belajar dari kita seperti Malaysia, Filipina, Vietnam, dan lain-lain.

Lalu sebaiknya seperti apa kebijakan pengembangan riset di Indonesia agar bisa berdaya saing dan tidak tergantung pada produk asing?

Dengan kondisi serba kekurangan dan ketinggalan (dana, fasilitas, dan lain-lain), sebaiknya kita memberikan perhatian khusus kepada objek penelitian yang merupakan keunggulan komparatif Indonesia.

Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam. Saya menyaksikan dalam bidang bioteknologi, para peneliti Indonesia yang memiliki reputasi dunia (publikasi di jurnal internasional, dikenal luas dalam masyarakat ilmiah internasional, dan lain-lain) adalah mereka yang berhasil menggali potensi tersebut. Misalnya peneliti yang melakukan pencarian mikroba-mikroba dari berbagai wilayah eksotik tanah air. Peneliti yang mengungkapkan kandungan zat rasa dan aroma berbagai buah-buahan serta makanan olahan khas Indonesia.

Penelitian-penelitian itu akan membawa nama harum Indonesia dengan penemuan-penemuan baru/orisinil yang mendapat tempat di jurnal internasional.

Dari temuan-temuan orisinil seperti ini, kita juga bisa sedikit demi sedikit, mengembangkan kemampuan sendiri untuk mandiri. Misalnya, memproduksi enzim- enzim protease, lipase dan lain-lain untuk industri kulit yang masih tergantung penuh pada produk Cina, berbagai produk biofarmaka yang masih impor dari Eropa, Jepang dan Amerika, dan sebagainya.

Satu lagi, saya berpendapat lebih efektif bila prioritas dukungan pemerintah diberikan kepada individu-individu peneliti yang extra-ordinary tersebut daripada mengerahkan peneliti Indonesia untuk menggeluti topik tertentu yang telah ditetapkan. Kenapa? Karena critical mass peneliti Indonesia sedikit, jadi ketika langkah kedua diterapkan, saya perhatikan yang muncul akhirnya orangnya ya ‘itu-itu’ lagi.

Judul proposal yang diajukan tak jarang juga seperti dipaksakan agar dapat memenuhi topik yang telah diberikan. Sementara keberhasilan penelitian sangat ditentukan pula oleh kesungguhan dan kecintaan peneliti pada bidang yang digelutinya.

Entry filed under: 4. PROFIL, Riset & Laboratorium, Science & Technology Award. Tags: .

Menanti Lahirnya Kerja Sama Pakar Bioteknologi Pertanian Gus Dur Hadir, Presiden SBY & Dua Mantan Presiden Absen

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,955 hits

%d bloggers like this: