“Brain Drain”: Apakah Hanya Masalah Gaji?

January 4, 2008 at 10:34 pm Leave a comment

[Kompas, Selasa, 1.7.2003; Oleh Arief B. Witarto] Opini Prof Dr Ali Khomsan berjudul “Brain Drain” Dosen PTN (Kompas, 24/6/2003) mempermasalahkan gaji sebagai penyebab terjadinya migrasi sumber daya manusia intelektual atau brain drain dari Indonesia ke negara lain. Alasan ini sudah menjadi isu klasik yang memang tidak bisa dimungkiri.

Akan tetapi, apakah berpijak dari hal itu, solusi yang realistis dapat diterapkan di Indonesia, apalagi dalam kondisi serba susah akibat krisis ekonomi berkelanjutan ini? Ada baiknya kita renungi hal- hal lain yang mungkin menyebabkan terjadinya fenomena tersebut. Karena fenomena brain drain menyangkut sumber daya manusia (SDM) intelektual, maka tulisan ini tidak membatasi pembicaraan dalam lingkup universitas/dosen saja, tetapi juga lembaga penelitian/penelitinya.

Bila gaji menjadi alasan terjadinya brain drain, maka kita perlu melihat dari kelayakan jumlah yang diterima daripada besar nominalnya. Apabila dosen atau peneliti yang dengan peraturan sekarang maksimal (untuk profesor atau ahli peneliti utama) bergaji Rp 2,5 juta per bulan kemudian menuntut gaji Rp 7 juta per bulan setara dengan para manajer di perusahaan swasta, mungkin asumsinya universitas/lembaga penelitian itu sudah menghasilkan keuntungan sebagaimana pihak swasta.

Saya kira semua orang mafhum bahwa di negeri ini standar gaji memang rendah sehingga kalau pendapatan menjadi alasan, tidak hanya kaum intelektual saja yang siap melakukan migrasi geografis, para pekerja kasar seperti buruh, pembantu rumah tangga, dan lain-lain pun akan berbondong-bondong meninggalkan Indonesia.

Menengok ke Jepang, negara dengan ekonomi terkuat nomor 2 di dunia dan penerima hadiah Nobel terbanyak di Asia, dosen perguruan tinggi negeri (PTN)-nya bergaji lebih kurang Rp 30-an juta per bulan. Itu artinya 10 kali lipat lebih besar dari kolega seprofesinya di Indonesia. Namun, untuk standar di Negeri Sakura, gaji ini setara dengan pegawai pemerintah lainnya dan tidak jarang bisa lebih rendah dari lulusan S1 yang bekerja di perusahaan swasta. Apalagi dengan lulusan SMU yang menjadi atlet profesional sehingga tidak sedikit profesor dari PTN terpandang sekali pun hanya tinggal di rumah susun sederhana.

Dengan demikian, saya sangsi solusi menaikkan gaji dosen/peneliti, apalagi secara “pukul rata”, dapat mencegah terjadinya brain drain. Apalagi mempertimbangkan kondisi masyarakat yang masih terpuruk oleh krisis ekonomi berkelanjutan, tampaknya hal ini malah dapat menambah beban rakyat.

LALU, apa yang bisa kita lakukan? Dunia ilmu pengetahuan sebenarnya relatif lebih sederhana daripada dunia bisnis, politik, dan sebagainya. Ilmuwan membuka rahasia alam dengan berbekal kejujuran sehingga para ilmuwan, baik yang menjadi peneliti maupun dosen, lebih merasa nyaman ketika mendapat penghargaan yang tulus dari sesamanya.

Komunitas peneliti protein di dunia baru-baru ini dengan antusias menyambut seruan “sesepuh” dalam bidang ini dalam sebuah kompetisi bernama Paracelsus Challenge untuk mendesain protein yang dapat berubah bentuk. Walaupun “hanya” berhadiah 1.000 dollar Amerika Serikat (AS), para peneliti dari berbagai penjuru dunia rela berbulan- bulan melakukan eksperimen untuk menyambut tantangan itu. Kalau diukur dari penghasilan, silakan bandingkan dengan honor artis Ibu Kota untuk sekali manggung.

Sekarang, menjadi tantangan para administrator universitas dan lembaga penelitian untuk menggugah hati nurani stafnya sehingga dapat menumbuhkan motivasi seperti di atas. Memilih ilmuwan berprestasi yang pantas diberi penghargaan juga bukanlah hal yang rumit. Hampir seluruh jurnal internasional yang memuat hasil-hasil penelitian telah dilengkapi dengan “akreditasi” dalam bentuk impact factor (nilai yang menunjukkan seberapa banyak jurnal itu dirujuk oleh publikasi lain).

Masing-masing paper/publikasi ilmiah pun dapat dilihat pengaruhnya dengan jumlah citation index yang memperlihatkan berapa kali paper tersebut di-refer oleh paper lain. Beranikah universitas/lembaga penelitian memberikan insentif lebih kepada dosen/penelitinya yang berhasil melakukan penelitian tingkat dunia dengan dibuktikan oleh publikasi di jurnal internasional?

Sayangnya, sistem penilaian sekarang tidak membedakan antara jurnal internasional dengan jurnal lokal, apalagi melihat impact factor dan citation index-nya. Padahal, justru para top scientist yang telah berkomunikasi dengan dunia luar melalui publikasinya itulah yang paling potensial melakukan brain drain.

Membentuk atmosfer ilmiah yang hidup dan mengilhami juga merupakan tantangan berat yang perlu dipikirkan. Tidak jarang berbagai hadiah Nobel digaet dari penelitian yang dilakukan dalam komunitas kecil, bahkan dalam gedung yang sama. Laboratorium Biologi Molekuler di Medical Research Council (MRC) Inggris terkenal menghasilkan banyak penelitian kelas dunia dan tidak sedikit hadiah Nobel diperoleh karena tradisi ilmiah kuat.

Sementara itu, kondisi di Indonesia, pertemuan ilmiah reguler di tingkat laboratorium/jurusan dan sebagainya yang membahas kemajuan ilmu pengetahuan saja, misalnya dalam bentuk Journal Club, masih jarang dilakukan. Hasil-hasil penelitian dilaporkan hanya untuk memenuhi persyaratan administratif, tetapi isi dari penelitian itu sendiri seperti aspek orisinalitas, teknis pendekatan ilmiah yang dilakukan, keabsahan analisa yang dikerjakan, sampai diskusi terhadap hasil yang diperoleh bukanlah prioritas yang diberikan.

Iklim ilmiah yang tidak sehat ini berlanjut menjadi sikap saling mencurigai karena terjadi pencurian gagasan sampai lahir berbagai intrik dan desas-desus negatif. Suasana universitas dan lembaga penelitian yang harusnya hidup dengan gagasan cemerlang, dinamis, dengan masukan konstruktif serta nyaman, dengan keterbukaan dan kejujuran, pun menjadi tidak ubahnya dunia politik atau bisnis. Sungguh tak terbayangkan hal ini terjadi dalam dunia ilmu pengetahuan yang seharusnya mengedepankan rasionalitas.

Dua hal di atas, saya pikir lebih urgen untuk menjadi perhatian saat ini dalam menanggulangi fenomena brain drain yang meresahkan. Selain lebih realistis dilihat dari kondisi bangsa ini, saya yakin ilmuwan dosen dan ilmuwan peneliti kita masih banyak yang memiliki dedikasi yang tidak terbelikan oleh uang. Sekarang yang penting adalah upaya memberikan peluang untuk mengembangkannya, bukan justru mempersempit ruang geraknya yang mendorong brain drain.

Entry filed under: 2. RISET, Riset & Laboratorium. Tags: .

Kloning Anak Manusia dan Bisnis Menanti Lahirnya Kerja Sama Pakar Bioteknologi Pertanian

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 117,991 hits

%d bloggers like this: