Hasil Asian Games, Cermin Kebersamaan Bangsa

January 14, 2008 at 8:39 pm

[Berita Iptek, Sabtu, 28.4.2007; Oleh Arief B. Witarto] Pesta Olahraga Asia, Asian Games di Doha, Qatar baru saja selesai. Prestasi atlet-atlet Indonesia tidak dapat dibanggakan karena sebagai negara dengan penduduk ke-3 terbesar di Asia, dalam jumlah total medali (emas, perak, perunggu), Indonesia hanya menduduki peringkat ke-17. Tidak mengherankan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (MENPORA) pun dengan tegas menyatakan bahwa tim Indonesia telah gagal. Indikatornya, target 4 emas yang dicanangkan hanya menghasilkan 2 emas. Di antara negara ASEAN pun, posisi Indonesia terpuruk. Thailand pada posisi ke-5, Malaysia ke-9, Singapura ke-14 dan bahkan Vietnam pada urutan ke-15. Hasil Asian Games ini, bagi Indonesia juga yang terburuk sejak 15 tahun silam. Sehingga MENPORA berjanji untuk segera mengevaluasi sebab kekalahan atlet-atlet Indonesia ini.

Olahraga adalah kegiatan yang prestasinya terukur secara obyektif. Tidak seperti para politisi atau artis selebriti kita yang pandai bersilat lidah dan berperan ganda di muka publik, pencapaian fisik para olahragawan bukanlah bohong-bohongan. Maka dari itu, seringkali prestasi olahraga menjadi barometer kemajuan bangsa. Tak segan banyak negara mengeluarkan dana besar untuk menggenjot prestasi olahraganya demi prestise bangsa. Untuk Asian Games kali ini, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan dana Rp. 100 milyar untuk PELATNAS. Suatu jumlah yang tidak sedikit bila digunakan untuk menanggulangi masalah-masalah sosial masyarakat.

Sifat olahraga yang sportif, sekaligus akan menggambarkan kondisi masyarakat bangsa itu. Seperti juga kondisi lalu lintas jalan raya melukiskan situasi politik suatu negara. Keterpurukan Indonesia dari krisis multidimensi yang dimulai dari krisis ekonomi, terus menjalar ke berbagai sisi kehidupan, salah satunya adalah keutuhan bangsa ini. Individualisme semakin menjadi-jadi dan sebaliknya kepedulian terhadap sesama semakin sirna. Korupsi hanyalah salah satu contohnya, dimana koruptor tidak peduli lagi nasib orang lain, yang penting dirinya kaya. Apakah hasil Asian Games ini mencerminkan juga kondisi itu?

Marilah kita lihat pencapaian tertinggi berupa medali emas berdasar jenis pertandingannya dalam Asian Games kali ini. Seperti diketahui, ada pertandingan tunggal, kemudian pertandingan ganda dan ada yang dimainkan oleh 3 orang atau lebih seperti bola volley, sepakbola, dll (pertandingan beregu). Pertandingan tunggal melihat kemampuan individu dari atlet itu. Sementara dalam pertandingan tidak tunggal, baik ganda maupun beregu, kerjasama antar atlet baik secara langsung maupun tidak langsung, sangat menentukan kemenangan. Dalam pertandingan beregu bulutangkis, walaupun seorang atlet bermain tunggal, psikologis atlet itu tetap punya beban untuk memenangkan pertandingan secara bersama. Ini adalah kerjasama tidak langsung. Sementara dalam pertandingan sepakbola, permainan kiper yang cemerlang berpengaruh kepada permainan seluruh pemain lainnya. Ini adalah kerjasama langsung. Untuk itu, dengan melihat hasil pertandingan ganda maupun beregu, kita bisa melihat bagaimana kerjasama menjadi landasan utama yang terbentuk dalam bangsa tersebut. Dalam Tabel, diringkas peringkat negara yang mendapat medali emas dalam Asian Games ini.

Berdasar kriteria ini, “pemenang” Asian Games kali ini adalah Vietnam dengan 67 % medali emasnya diperoleh dari pertandingan tidak tunggal (ganda dan beregu). Selanjutnya disusul oleh Thailand (62 %), India (50 %) dan Singapura (50 %) dengan nilai-nilai yang sangat tinggi. Keempat negara ini kita saksikan sekarang menunjukkan perkembangan ekonomi yang sangat signifikan yang salah satunya ditunjang oleh kebersamaan membangun bangsa itu. Dimanakah posisi Cina yang sejajar dengan India dalam pertumbuhan ekonominya yang mencengangkan itu? Cina ada pada urutan ke-11 dengan nilai 31 % untuk jumlah medali emas yang diraihnya dari pertandingan tidak tunggal. Luar biasa besarnya perolehan medali emas Cina (165 buah atau 38 % dari total jumlah medali emas), membuat angka di atas nampak kecil dibanding India. Tetapi nilai itu tetap signifikan untuk menunjukkan semangat kerjasama bangsa Cina. Sebab jumlah medali emas untuk pertandingan tidak tunggal memang lebih sedikit daripada pertandingan tunggal, yaitu 30 % atau 127 dari keseluruhan yang 428. Jadi nilai threshold untuk melihat signifikansi perhitungan ini adalah 30 % ke atas. Dengan demikian, kita bisa melihat Korea Selatan yang berada di peringkat ke-2 berdasar jumlah total perolehan medali, dan juga bangsa yang dikenal sangat solid dan ulet, menunjukkan nilai 31 % untuk perolehan medali emas pada pertandingan tidak tunggal. Nilai yang juga signifikan melukiskan kondisi kebersamaan bangsanya.

Kondisi Jepang mungkin agak unik karena perolehan nilainya hanya 24 %, di bawah threshold, walaupun peringkat totalnya pada no.3 setelah Cina dan Korea Selatan. Keunikannya juga disebabkan karena Jepang dikenal sebagai masyarakat yang terlebih dahulu maju secara ekonomi dibanding negara Asia lainnya karena semangat kebersamaannya yang terkenal itu. Tapi dalam perkembangan generasi muda Jepang akhir-akhir ini, semangat itu nampak mulai luntur dan sangat menonjol pada bidang olah raga. Ikon-nya adalah pemain sepakbola Jepang ternama, Hidetoshi Nakata. Nakata sangat terkenal dengan sikap individualismenya dan mempopulerkan pandangan bahwa “saya bertanding untuk diri saya sendiri”.

Sekarang dimana posisi Indonesia? Seperti dapat ditebak dari kondisi bangsa kita saat ini, nilai Indonesia dalam Tabel ini adalah 0 %! Dua medali emas Indonesia diraih pada pertandingan tunggal yaitu bulutangkis dan bowling. Hasil seperti ini sudah lama terjadi sebelum Asian Games kali ini. Dalam cabang olah raga bulutangkis misalnya. Bila dahulu kita masih merajai pertandingan beregu putra, bahkan putri, akhir-akhir ini, cabang yang menjadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia ini semakin minim menunjukkan prestasi pada pertandingan ganda sekali pun. Selain itu, seakan menggambarkan juga kondisi kaum wanita di Tanah Air, setelah Susi Susanti, sangat jarang ditemukan atlet wanita kita menjadi juara bulutangkis tingkat dunia. Hanya pada tunggal putra terus, prestasi ini masih dijaga. Apakah ini suatu bukti bahwa dalam hampir pada semua sektor kehidupan berbangsa kita sekarang, dominasi pria dan individualisme sangat kental? Mungkin kita perlu bercermin pada tetangga kita Malaysia. Selain jumlah medali emasnya lebih banyak daripada Indonesia, nilai persentase keunggulannya pada pertandingan tidak tunggal pun di atas threshold yaitu 38 %. Tidak heran, kita menyaksikan bangsa ini semakin maju meninggalkan kita yang pernah menjadi “guru”-nya.

Dengan ini, kita semoga semakin menyadari bahwa prestasi olahraga kita sebenarnya hanya cermin dari kondisi bangsa kita sekarang. Individualisme dan semangat kerjasama kita sangat rendah. Masih ditambah dengan dominasi pria. Tanpa memperbaiki ini, rasa-rasanya kita tidak akan pernah berjaya di bidang olahraga seperti dahulu kala. Kita mungkin juga bisa mengerti, kalau toh Pemerintah ingin meningkatkan peringkat Indonesia dalam kejuaran-kejuaran seperti ini dalam waktu singkat, sebaiknya lebih prioritaskan pertandingan tunggal pada cabang olah raga apa pun. Bangsa kita masih sulit untuk menjadi “bersama kita bisa”. [*]
ariefwitarto_tabelolahraga.jpg
Tabel. Perolehan medali emas berdasar pertandingan dalam Asian Games 2006

Klik di sini untuk versi asli di Berita Iptek.

About these ads

Entry filed under: Riset & Pendidikan. Tags: .

Science is Fun, but Doing Science in Indonesia is not Funny at all Dicari, Ide Segar


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 104,550 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: