100 Tahun Hadiah Nobel

January 14, 2008 at 11:03 pm

[Berita Iptek, Jum'at, 15.2.2002; Oleh Arief B. Witarto] Pada awal bulan Oktober lalu, telah diumumkan para pemenang Hadiah Nobel. Hadiah Nobel pada tahun 2001 ini tepat berusia 100 tahun sejak diberikan pertama kali tahun 1901 untuk lima bidang yaitu Fisika, Kimia, Kedokteran, Sastra dan Perdamaian (Hadiah Nobel Ekonomi diberikan sejak tahun 1968 atas inisiatif Bank of Sweden). Sebagaimana diketahui, Hadiah ini merupakan wasiat Alfred Nobel untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya kepada orang-orang yang paling berjasa pada kemanusiaan pada bidang masing-masing. Nobel adalah seorang ilmuwan sekaligus pengusaha yang sukses. Dengan keberhasilannya membuat dinamit, Nobel berhasil meraup kekayaan yang melimpah. Namun, tewasnya adik kandung Alfred Nobel dalam sebuah kecelakaan di pabriknya sendiri dan kenyataan bahwa temuannya dipakai dalam perang yang menyengsarakan orang banyak, telah membawanya kepada keinginan untuk memberikan sumbangan kepada masyarakat melalui penghargaan berupa Hadiah tersebut.

ariefwitarto_nobel1.jpg
Gambar 1. Medali emas Hadiah Nobel.
Terbuat dari emas 24 karat dengan berat kurang lebih 200 g.

Penerima Hadiah Nobel tak jarang dianggap sebagai pahlawan masyarakat melebihi sekat bidang masing-masing. Ketenaran Hadiah Nobel tak bisa disangkal sehingga menjadi kebanggaan institusi sampai kepada negara asal penerima hadiah tersebut. Ahmad D. Zewail dari California Institute of Technology terpilih menjadi penerima tunggal Hadiah Nobel Kimia tahun 1999, rakyat Mesir dimana Zewail berasal, merayakannya dan pemerintah menerbitkan perangko khusus bergambar wajahnya. Ryoji Noyori dari Nagoya University-Jepang yang meraih Hadiah Nobel Kimia tahun ini, mendapatkan telpon ucapan selamat langsung dari Perdana Menteri Jepang. Di lain pihak, Susumu Tonegawa dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang meraih Hadiah Nobel Kedokteran tahun 1987 mengakui tetap sulit mencari tempat parkir mobil di kampus MIT sampai sekarang dan tidak mendapatkan perlakuan khusus karena banyaknya penerima Hadiah ini di MIT. Akan tetapi tidak disangsikan Hadiah ini telah merubah jalan hidup, setidaknya kesibukan penerimanya. Misalnya, Peter Doherty (Nobel Kedokteran, 1996) yang menjadi penerima Hadiah Nobel dari Australia pertama sejak 1975, tiba-tiba menjadi tokoh publik di negaranya. Dinobatkan sebagai pembicara untuk menjelaskan ilmu pengetahuan dan kadang untuk menggaet anggaran kepada masyarakat maupun politikus. Hal serupa dialami oleh Hideki Shirakawa (Nobel Kimia, 2000) yang sebelumnya hidup tenang sebagai pensiunan, berubah menjadi orang sibuk dengan dipilihnya sebagai ketua maupun anggota berbagai lembaga penasihat pemerintah masalah ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Ketenaran Hadiah Nobel ditunjang antara lain oleh besarnya jumlah uang yang diberikan. Penerima tunggal hadiah Nobel tahun ini mendapatkan tak kurang dari 10 juta Kronor Swedia (kurang lebih 940 ribu dolar Amerika). Jumlah ini terus bertambah dari besar hadiah pada tahun 1901 yang sekitar 150 ribu Kronor, sesuai dengan nilai mata uang saat itu. Besarnya jumlah uang ini hanya bisa didekati oleh beberapa hadiah lain seperti Balzan prize (620 ribu dolar) oleh Pemerintah Swiss dan Italia, Abel prize (570 ribu dolar) yang baru akan diberikan mulai 2003 oleh Pemerintah Norwegia dan Crafoord prize (500 ribu dolar) yang diberikan oleh Royal Swedish Academy of Sciences sejak tahun 1980. Akan tetapi alasan utama ketenaran Hadiah ini adalah usia Hadiah Nobel yang sudah sangat lama dan telah diberikan kepada para “pendiri” ilmu pengetahuan yang namanya terabadikan dalam bidang masing-masing. Sebagai contoh, Rontgen (1901), Curie (1903) dan Bohr (1922) untuk bidang Fisika, van’t Hoff (1901), Rutherford (1908) serta Langmuir (1932) untuk Kimia, von Behring (1901), Koch (1905) dan Luria (1969) untuk bidang kedokteran, dsb. Sehingga penerima Hadiah ini seperti diakui menjadi anggota “hall of fame” ilmu pengetahuan.
ariefwitarto_nobel2.jpg
Gambar 2. Lambang KVA.
KVA berdiri sejak 1739 beranggotakan 514 orang dari dalam dan luar negeri.

Pemilihan peraih Hadiah Nobel dilakukan oleh institusi yang ditunjuk langsung oleh Nobel. Royal Swedish Academy of Sciences (KVA) bertanggung jawab untuk Hadiah Fisika, Kimia dan Ekonomi, Karolinska Institute untuk Kedokteran, Swedish Academy menangani bidang Sastra serta khusus untuk Perdamaian bukan oleh sebuah institusi Swedia, namun oleh Komite yang ditunjuk oleh Parlemen Norwegia. Institusi tersebut kemudian menunjuk beberapa orang untuk menjadi anggota komite yang melakukan seleksi calon penerima. Hasil seleksi diberikan kepada institusi terkait untuk ditetapkan penerimanya. Walaupun Hadiah Nobel untuk tiga bidang ilmu pengetahuan umumnya lebih diterima oleh masyarakat daripada bidang lain yang kadang kontroversial, proses pemilihannya banyak menimbulkan tanda tanya.

Ahli kimia dari Swedia, negara asal pemberi Hadiah ini, Svante August Arrhenius berhasil meraih Hadiah Nobel Kimia tahun 1903 walaupun sebenarnya Komite yang bertugas, memilih ilmuwan Rusia, Dmitri Mendeleev atas penemuan tabel periodiknya. Hal ini disebabkan karena kebencian pribadi Arrhenius kepada Mendeleev yang sering mengkritiknya. Mendeleev meninggal tahun berikutnya dan tanpa pernah mendapatkan Hadiah Nobel. Pemilihan ahli bakteri dari Jerman, Emil von Behring sebagai penerima Hadiah Nobel Kedokteran pertama (1901) menimbulkan dugaan diskriminasi terhadap peneliti Asia. Shibasaburo Kitasato dari Jepang ketika itu bekerja bersama Behring di lab Robert Koch di Berlin, Jerman. Menurut catatan sejarah, Kitasato adalah penemu pertama imunisasi dengan keberhasilannya mengisolasi bakteri penyebab tetanus. Behring tak lebih dari sekedar menggunakan metoda yang sama untuk penyakit diphtheria.

ariefwitarto_nobel3.jpg
Gambar 3. Foto difraksi sinar X DNA yang diambil oleh Franklin tahun 1953.
Tampak jelas bahwa DNA memiliki struktur berulang yang mengilhami Watson & Crick untuk memprediksi struktur double-helix DNA.

Keputusan untuk tidak memberikan Hadiah Nobel kepada orang yang telah meninggal dan tak lebih dari tiga orang per-bidang setiap tahun (sejak 1968), juga telah menjadikan pemilihan penerima Hadiah sering menjadi kontroversial. Kisah yang klasik dialami oleh Rosalind Franklin, peneliti perempuan di King’s College-London yang membuat dan mengambil data sinar-X kristal DNA. Tanpa data ini, mustahil Watson dan Crick menyimpulkan idenya mengenai struktur double-helix DNA. Franklin meninggal pada tahun 1957 (37 tahun) karena kanker, sementara kontribusinya “dialihkan” kepada atasannya Maurice Wilkins (orang ketiga bersama Watson dan Crick yang menerima Hadiah Nobel Kedokteran, 1962) yang membawa data itu ke Watson dan Crick tanpa sepengetahuannya. Contoh terbaru adalah tersisihnya Salvador Moncada dari penerima Hadiah Nobel Kedokteran, 1998. Tak kurang dari penerima Hadiah Nobel Kedokteran tahun 1984, Cesar Milstein berpendapat bahwa seharusnya kontribusi Moncada sama besar dengan tiga penerima terpilih lainnya. Para peneliti dari El Salvador, negara tempat Moncada berasal, bersama dengan ilmuwan-ilmuwan dari Spanyol dimana Moncada sekarang bekerja sampai menggalang protes keras terhadap keputusan yang diduga bersifat diskriminatif terhadap ilmuwan asal negara berkembang.

Kontroversi yang mungkin akan makin tajam di masa depan disebabkan oleh sifat ilmu pengetahuan yang makin komplek. Wasiat Nobel asli untuk memberikan Hadiah ini kepada orang atas jasanya di tahun sebelumnya sudah tidak bisa lagi dipenuhi karena sulitnya menilai pentingnya pencapaian hasil penelitian itu dalam waktu singkat. Saat ini, rata-rata Hadiah Nobel diberikan setelah 10-20 tahun dari pencapaian ilmu pengetahuan tersebut. Selain itu, bidang-bidang seperti fisika energi tinggi, genom di bidang kedokteran hanya mungkin dicapai berkat kolaborasi bermacam institusi. Misalnya pembacaan sekuen genom manusia yang dilaporkan Februari 2001 lalu oleh Konsorsium Internasional Pembacaan Genom Manusia melibatkan tak kurang dari 24 institusi dan lebih dari 100 orang. Sangat sulit memilih tiga orang saja yang paling berpengaruh dari kolaborasi besar semacam ini. Salah satu alternatif jalan keluar adalah memilih institusi sebagai pemenang daripada individu seperti ketentuan selama ini. Hal ini telah diterapkan pada bidang Perdamaian. Namun sampai saat ini, komite pemilihan untuk bidang-bidang ilmu pengetahuan belum menanggapi usulan seperti itu.

Pada akhirnya, karena Hadiah Nobel seperti telah menjadi milik dunia, proses pemilihan hendaknya lebih transparan dan fleksibel. Fleksibilitas terhadap perkembangan wajah ilmu pengetahuan perlu menjadi perhatian. Berikutnya, transparasi proses pemilihan yang sejak tahun 1975 menjadi kabur dengan keputusan Nobel Foundation untuk menutup informasi itu sampai 50 tahun kemudian, perlu dipertimbangkan. Dengan demikian, wasiat Nobel dalam bentuk Hadiah ini makin dirasakan masyarakat luas, tidak sekedar menjadi kebanggaan pribadi/negara tertentu. [*]

Entry filed under: Riset & Laboratorium, Sains & Perempuan, Sains & Politik. Tags: .

Dari Porter ke Wee: SDM dan Manajemen Iptek Indonesia Mengungkap Rahasia Indera Penciuman: Hadiah Nobel Kedokteran 2004


Categories

January 2008
M T W T F S S
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 102,546 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: